Perjalanan menuju tujuan pun sepertinya nggak ada akhirnya. Jalanan bener-bener macet total. Sungguh mati gaya di dalam bis. Disebelah saya, seorang ibu sampai tertidur saking bosen nya. Tidur sambil berdiri *qeqeqe*. Tak lama posisi tidurnya berubah, kepala disandarkan ke sandaran kursi yang ada di depannya. Setelah beberapa saat saya tengok ke sebelah kiri…loh kok ibu itu hilang. Ternyata beliau sudah tertidur di bawah dengan bersandar pada kaki teman saya yg berdiri disebelahnya *hiakhiakhak*. Tak bergerak pula. Rupanya udah PW dan nyaman. Teman saya pun tidak bisa bergerak *hiihihi*.
Setelah 1 jam lebih akhirnya tiba juga ditujuan. Tempat ini adalah tempat untuk naik rope-way. Apa yah…kereta gantung?. Rope-way ini akan mengantar pengunjung ke daerah yang lebih tinggi dimana ada tanah lapang dan dua buah teropong untuk melihat pemandangan di bawah dan air terjun yang terkenal itu di kejauhan.
Disana pula starting point untuk para pengunjung yang ingin hiking. Rencana untuk langsung berangkat pun sempat tertunda setelah kami mencium aroma yakitori yang sungguh menggugah selera. Yakitori ini semacam daging yang disate dan kemudian dipanggang/dibakar. Dengan langkah pasti kami pun mulai ngantri membeli yakitori. Enyaak..enyaak…enyaaak. Setelah itu foto-foto sebentar, dan membeli tiket rope-way.

Di dalam rope-way sempat deg-degan. Jauh dari tanah bo… :D. Gimana kalo tiba-tiba tuh kabel putus waktu kereta masih di tengah. Tapi untunglah rekan-rekan pada rame berkicau dan paling berisik diantara para penumpang, jadi ketakutan itu agak terlupakan. Saya pun menikmati pemandangan diluar. Keren. Perjalanan juga tak lama, mungkin hanya satu menit dan kami pun sudah tiba di atas.
Setelah liat-liat pemandangan dan foto-foto, kami pun segera mulai menapaki jalan menanjak dari starting point. Awalnya sempat ada keraguan melihat jalan setapak yang sepertinya sangat menanjak dan susah. Tapi mengingat informasi yang kami dapat bahwa trek ini adalah untuk beginner, maka saya pun menghibur diri sendiri.
Ternyata memang trek yg susah :P. Belum apa-apa sudah menanjak sedemikian rupa dan menyulitkan. Belum sampai setengah jalan napas sudah tersengal-sengal. Setelah setengah jalan napas memburu dan kaki seakan mau copot dari persendian. Napas Marlboro, never exercise for years, tidur cuma 3 jam, dan nggak sarapan merupakan kombinasi yang cocok untuk membuat saya berkunang-kunang :D.
Berulang kali menyemangati diri sendiri supaya bisa bertahan sampai akhir. Perjalanan terhenti beberapa kali karna I must catch my breath. Pheeww…saat hiking itu merupakan satu-satunya waktu dimana saya merasa antara hidup dan mati *berlebihan*. Pokoknya ampun dah :D. Saya pun berandai-andai, coba ada teleport pasti saya pakai biar langsung menghilang dan muncul kembali di bawah sana. Tapi berhubung saya suka mencobai diri sendiri yah resiko harus ditanggung. Apalagi ini merupakan pilihan saya sendiri.
Setelah beberapa lama, dengan terburu-buru kami pun melanjutkan perjalanan, karna kabut sudah mulai turun. Jika tidak segera sampai bisa gawat. Tidak ada yg membawa senter atau penerangan yg lain. Beruntung saat turunnya nggak begitu susah. Tepat di sore hari kami telah tiba di bawah kembali. Wah senang sekali rasanya, seakan hidup kembali :D. Kapok? Jelas. Mau lagi? Nggak :P.
Saya jadi teringat kenapa saya kok nggak suka hiking. Terutama sejak insiden hiking pada saat kuliah dulu. Di suatu trek yang menurun saya kehilangan keseimbangan dan rem saya blong, nyaris nyemplung ke jurang :D. Untung saat itu ada teman yang dengan sigap menarik tangan saya :D. Yg pasti, saya akan gigit tuh orang yg kasi informasi bahwa trek yg kami lalui adalah trek utk beginner *kriuk!*.
Begitu sampai dibawah, kami segera foto-foto lagi, kemudian mencari tempat makan sambil menunggu teman-teman yg ber-sightseeing tiba. Ramen nya sungguh nikmat sekali. Entah karna lapar atau memang enak tuh ramen. Lalu kami pun menuju ke danau, dan foto-foto lagi. Suhu saat itu bener-bener dingin. Sampai napas pun mengeluarkan asap. Jadi kayak di pilem-pilem. Keren. Saya jadi seneng menghembuskan napas sambil ngeliatin asap yang keluar *norak*.
Tak lama teman-teman dari sightseeing menelpon dan kami pun segera menuju tempat mereka makan. Dapat dipastikan saya tentu makan lagi :D. Hotdog dan segelas mocha latte panas sungguh menikmatkan. Setelah puas bertukar cerita kami pun segera menuju tempat keberangkatan bus. Antrian bis sudah mengular. Halah..bakal berdiri berjam-jam lagi nih. Jadi ada yg mengusulkan untuk ke onsen (tempat pemandian air panas) dulu sambil menunggu antrian agak sepi. Tapi akhirnya nggak jadi, ntar malah kemaleman dan gak ada bis. Jadi berempat belas kami pun mulai ngantri.
Rombongan kami menjadi yg paling berisik di antrian. Heboh, rusuh dan ramai kayak pasar. Empat belas orang ngobrol berbarengan, tertawa, foto-foto (lagi). Sepertinya keheningan di kota itu hilang. Saya juga pertama kali makan jangkrik goreng. Seorang teman membeli nya dan menawarkan ke teman-teman yg lain terutama yang belum pernah makan. Tentu dia nggak ngomong kalo itu jangkrik. Cuma dikatakan bahwa kita belum pernah ke Nikko kalo nggak makan cemilan itu. Didukung suasana yang gelap, yg belum pernah makan tentu nggak tau apa yg mereka makan. Setelah sudah tertelan baru dibuka rahasianya.
“Enak? Kalian tau apa yg tadi kalian makan?” sambil cekikikan. Dengan bantuan cahaya dari hp, kami pun melihat apa makanan gurih tadi. Tampak sesuatu berwarna kehitaman, berbentuk seperti jangkrik. Dzziiggh!!. Beneran itu jangkrik :D. suasana pun kembali rusuh dengan tawa kami. Keributan itu terus berlanjut selama 2 jam berikutnya, sampai giliran kami untuk naik bis. Didalam bis kerusuhan terus berlanjut sampai sang supir menegur salah satu dari kami karena berdiri untuk memfoto teman-teman. Setelah itu suasana hening. Ada yg tertidur, ada yg bengong dan ngelamun. Beruntung perjalanan nya nggak selama pada saat berangkat tadi. Nggak sampai satu jam kami telah tiba di stasiun.
Perjalanan pulang juga membutuhkan dua kali pindah kereta. Di kereta pertama suasana masih tenang dan damai. Penyebab utama adalah kami duduk terpisah. Pindah ke kereta berikutnya mulai deh seperti keberangkatan, para calon penumpang berebutan masuk. Beruntung sekali ada teman yg memanggil utk menemani duduk. Dan kami pun ngobrol berduaan walopun kadang agak-agak ngaco karna kelelahan :D. Tapi saat itu bener nggak akan terlupakan.
Pindah ke kereta ketiga juga mirip, pada rebutan. Buset dah. Untungnya kami bisa barengan lagi. Jadi gerbong itu kembali berisik dan rusuh. Penuh suara tawa dan obrolan. Perlahan suasana kembali menjadi tenang setelah kami mulai berpisah. Sebagian besar dari kami harus turun di salah satu stasiun dan sebagian lagi terus melanjutkan perjalanan. Dan semakin sepi setelah tinggal saya sendirian di dalam kereta. Setelah sampai di stasiun terakhir waktu menunjukkan pukul 11.30 malam. Dengan terburu-buru saya pun membeli tiket kereta untuk ke tempat tinggal saya. Beruntung keretanya masih ada. Kalo nggak bisa-bisa nginep di stasiun :D.
Sampai di kamar sudah jam 12 lewat, ganti pakaian dan langsung nyungsep ke kasur. Melelahkan tapi menyenangkan dan tak terlupakan.
Wah, sangat menyenangkan ya…..kapan2 diajak main kesana ya……qeeqeqeqeeqe………
[...] Dua taun lalu, bersama teman-teman yang lain, saya hiking ke Nikko (terbagi menjadi tiga artikel terpisah plus foto) *panjang aje ya ceritanya [...]