Hari itu tak ada yang spesial baginya. Semua berjalan seperti biasa. Kerjaan menumpuk, karna banyak hal yang nggak efisien. Tugas baru sudah dimulai, mengubah 500 halaman web dari HTML ke tableless XHTML+CSS. Assignment yang bodoh!. Yang membuat sedikit berbeda adalah hari itu dia bangun kesiangan, sampai ditelpon orang kantor, dan tiba di kantor lewat 30 menit dari jam kantor.
Saat sedang asik melakukan kerjaan bodohnya, seorang teman mengabarkan bahwa Jakarta lagi banjir besar. Hujan deras dan angin kencang terus menerus. Dia pun menuju sebuah portal berita untuk mencari informasi lebih lengkap. Tak lama ingatan nya pun membawa nya kembali ke beberapa taun silam…
***
2002….
Hujan deras yang mengguyur Jakarta masih belum berhenti, padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 pagi. Dua orang pemuda masih terjaga di kos mereka dan sedang terlibat perbincangan menarik di saat semua orang sudah terlelap dan terbuai dengan dingin nya cuaca. Apalagi listrik PLN sedang ngambek malam itu. Mungkin tenggelam karena banjir. Hanya suara hujan yang begitu deras yang menemani mereka. Tak lama dari rumah sebelah terdengar lolongan anjing yang sepertinya sedang panik. Rumah itu merupakan kos wanita yang dimiliki oleh seorang janda dengan 4 orang putra putri. Kehidupan mereka tidak bisa dibilang menyenangkan terutama setelah kematian suami/ayah mereka. Penghasilan hanya mengandalkan uang kos dan dari depot kecil yang ada di teras. Kedua pemuda ini merupakan langganan setia di depot si ibu. Itung-itung membantu nambah-nambah penghasilan supaya dapur tetap ngebul. Lagipula masakan si ibu termasuk enak dan banyak.
Lolongan itu tak jua berhenti. Kedua pemuda ini pun merasa ada sesuatu yang tidak beres di rumah sebelah. Mereka pun bergegas turun dan segera ke sebelah dengan membawa senter sambil berhujan ria *biasa…cowo mana punya payung*. Mereka melihat si pleki *sebut saja begitu* sedang terikat di teras, kehujanan dan terlihat panik. Mereka segera berteriak membangunkan si empunya rumah. Tapi tidak ada reaksi. Akhirnya salah satu dari mereka memanjat pagar dan segera melepas ikatan si pleki dan membawa nya ke balkon lantai dua. Tak lama seluruh penghuni kos itu pun bangun. Setelah ngobrol beberapa saat, mereka berdua segera kembali ke kos dan tidur.
Keesokan harinya Jakarta mulai direndam banjir. Kepanikan mulai tampak di wajah para warga. Banjir semakin meninggi, dengan ketinggian selutut orang dewasa. Kedua pemuda ini pun sibuk membantu si ibu mengangkut dan menyelamatkan barang dan peralatan masak. Tetangga depan, satu keluarga yang berasal dari Bali pun meminta bantuan pada kedua pemuda ini untuk menyelamatkan kulkas dan motor. Apa yang bisa dipakai, dibuat untuk tumpuan kulkas segede gambreng dan sepeda motor supaya tidak terendam air. Keluarga ibu dan tetangga depan berulang kali mengucapkan terima kasih dan menceritakan kebaikan kedua pemuda tersebut ke warga-warga lain.
Sampai beberapa hari ke depan, dia dan temannya itu tetap terjaga sampai pagi menjelang, bersiap jika situasi memburuk atau salah satu warga membutuhkan bantuan. Sama seperti saat kerusuhan taun 98, dimana saat banyak anak kos di daerah mereka yang mendekam di kos atau mengungsi, dua orang ini ikut bergabung dengan warga, berjaga-jaga sepanjang malam dengan membawa kayu yang telah dipasang dengan paku-paku serta pisau di saku belakang masing-masing, berdiri di barisan depan dan menunggu para perusuh masuk ke daerah Tanjung Duren Utara.
Tanpa disadarinya, usaha nya membantu tetangga yang banjir ternyata berbuah gosip. Di saat itu juga mulai tersebar gosip dan omongan-omongan tidak sedap karena dia dianggap telah berbuat aib yang bertentangan dengan norma. Gosip ini bagaikan bom waktu yang siap meledak setiap saat dan menghantam nya. Manusia memang lebih mudah mengingat kesalahan orang lain.
kok bsa si jadi gosip?? kan da ngebantuin orank laen *aneh* ibu2 indo kl da ngerumpi nyeremin…..
yah begitulah yg mulutnya ember :D
gosip?gosip apa tuh?