2.5.07

You get what you give, mostly – eps#2 (end)

Setahun kemudian, dia membuka depot, bekerja sama dengan salah satu mantan ibu kos nya. Si ibu ini adalah seorang janda yang ditinggal suaminya, dan hidup sendiri, hanya mengandalkan satu kamar kos yang dulunya disewakan kepada si pemuda ini. Letak rumahnya sangat strategis, setiap anak kos pasti lewat di depan rumahnya jika berangkat dan pulang kuliah.

Melihat keterampilan masaknya, si pemuda tergerak untuk membantu, seperti biasa. Menyewa teras rumahnya, mempersiapkan semua peralatan, dan mempersilakan si ibu untuk menangani urusan masak. Genap seminggu ketika si ibu ini mulai menyerah. Sepi, katanya. Gimana nggak sepi, pikirnya, si ibu malas belanja, malas memasak yang beraneka ragam. Banyak masakan yang dicantumkan saja di menu tapi begitu dipesan tidak tersedia. Si pemuda berpikir, dia telah salah memberikan ‘kail’ kepada orang bermental kerupuk dan cuma bisa omong doank.


Akhirnya dia pun teringat kepada si ibu yang dulu ditolongnya waktu banjir beberapa taun yang lalu. Lewat temannya, yang sekarang kos di tempat si ibu, dia mengundang si ibu tadi ke depot nya untuk membicarakan kerjasama agar depot ini dapat terus berjalan dan kedua ibu ini bisa meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik.

Tak lama si ibu datang, kedua ibu saling berkenalan, dan mereka mulai terlibat perbincangan serius tentang tawaran dari si pemuda ini. Pada saat si pemuda sedang asik di teras, ngobrol dengan temannya, tak disangka pembicaraan kedua ibu di dalam berubah menjadi gosip tentang si pemuda. Dan mereka pun sepakat untuk tidak mau membantu. Dia pun mencoba meyakinkan dan meminta agar persoalan bisnis jangan dicampur dengan urusan pribadi. Biarlah usaha ini berjalan dengan profesional. Tapi mereka tetap bersikeras dan merasa tidak pantas membantunya.

Dia hanya bisa kecewa, kedua ‘kail’ yang diberikan sama sekali tidak digunakan oleh kedua ibu bermulut ember tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk menutup depot itu. Semua peralatan masak, dua tabung elpiji, dan lain-lain dibiarkan disana dengan harapan jika si ibu (mantan ibu kos nya) butuh uang, mungkin barang-barang tersebut bisa dipakai. Lumayan bisa mendapatkan beberapa juta dari menjual peralatan tersebut. Tapi sejak saat itu juga dia berjanji, apapun yang terjadi dengan kedua ibu ini, he won’t give a damn about it.

***

Lamunan nya mendadak terhenti saat ada suara SMS masuk. Rupanya dari temannya. Dia mengabarkan rumahnya (dan istri) kebanjiran, dan dia teringat akan banjir dan saat-saat mereka berdua begadang dan berjaga-jaga sampai banjir surut beberapa hari kemudian. Rupanya engkau juga mengingatnya, teman.

Dia pun teringat kembali dengan kedua ibu itu. Bagaimana kabar dua ibu bermulut manis itu yah. Gimana seandainya kalo mereka dalam kesulitan dan butuh bantuan. Dengan senyum pasti dia pun melanjutkan pekerjaannya. “I don’t give a damn!”.

Interesting story? Share it to your friends:

  • Facebook
  • Twitter
  • Digg
  • del.icio.us
Comments
 
  1. anastasia says:

    depotnya masih ada gak?
    aku boleh ngisinya gak ;)

  2. Soyuz says:

    kabar angin terakhir si tante buka sendiri depotnya, tapi cuman beberapa hari dan tutup. sepertinya kita tau apa penyebabnya ;)

    mo ngisi apa? donat yah? :D. tar balik kita buka depot yuuk…

    baru nyadar…blog baru yah? aku blum tau blog nya yg inih. isinya paporit ku, makanan *nyam..nyam..*

  3. anastasia says:

    hayukkkkk,
    bawa pundi-pundi yg banyak ya :D

  4. Soyuz says:

    uhm..pundi-pundi itu kayak kendi gitu yah? trus ntar buat apaan, buat bolongin donat? atau bikin pizza berbentuk pundi-pundi? :P

  5. anastasia says:

    arrrrggggghhhh..

  6. nat aja says:

    cerita ini based on true story ya?
    pasti th 2002 kamu masi kerja di kantor bolenyet itu kan yang di gkbi, waktu itu kamu cerita, gak enak dateng siang mulu gara2 nolongin tetangga kebanjiran

    bukan begitu bukan?
    *jadi dejavu

  7. Soyuz says:

    @anastasia: :P

    @nat: ho oh. jadi rescue team ama hansip :D

  8. haiqa says:

    Kapok nih ye

  9. Soyuz says:

    bantuin dua ibu itu? kapok :D. soalnya mental krupuk dan gak mau fight.

    eh haiqa-chan mampir. mari..mari silakan masuk :D.

  10. kania says:

    Mental kerupuk, renyah, nikmat tapi cepet melempem :D :D…harus sering2 ditutut tuch ;)

  11. haiqa says:

    Gomen ne Soyuz san.
    Belon disuruh masuk, gw dah baca2in semua cerita lo.

    Ceritanya menarik koq!

  12. Soyuz says:

    @kania: renyah, nikmat, kena air langsung melempem :D.

    @haiqa: iie, daijobu deshou :). dateng ajah anytime.

    kalo semua harus minta ijin buat masup..gak ada yg baca ntar *sambil tunjuk2 nat, anastasia, dll* :P

  13. sakuralady says:

    keren kisah hidupnya… pahlawan yang tidak seharusnya dijadikan lawan oleh sang ibu2.. mmh.. sebegitu pentingkah gosip itu jauh melawan ketulusan pertolongan yang pernah diberikan..?. sekali lagi mmh..

  14. Mei Mei says:

    wew…kayak kacank lupa kulid aja yak XD
    di tolonQ kog mala di gosipin huhuhu
    basi emank yg nama ne manusia ini *kayak sendiri bkn manusia sajah* huakakakkaka XD

  15. audrey says:

    ini crita beneran ya???

  16. tedtod says:

    hoh..dasar..mental krupuk..tapi krupuk mlempem..(soalnya kalo krupuk masi enak dimakan pake soto..)

  17. soyuz says:

    btul. apalagi kalo pake koyah sing akeh, plus sambel 3 sendok. sedep-sedep enak.

Add Yours

Line breaks are converted automatically. Please make sure that you have read the post before posting your thoughts. A valid email is a must but don't worry, it will never be displayed anywhere on this website. It is greatly appriciated if your comment could exceed 3 written lines. Please be polite and thoughtful of others. Comments which are derogatory will be deleted.

Please stay on topic: no name-calling, flaming or trolling. Spam and irrelevant comments will be deleted, your IP will be banned, and any URLs in your comment will be blacklisted.