7.27.07

The view from the afternoon, never fade away – part 1

Awal Mei 2007, di suatu siang yang cerah dua orang pria terlihat berdiri di depan salah satu gedung 6 lantai di daerah Shinjuku. Yang satu memiliki tinggi sedang, dengan kulit gelap khas Melayu dan seorang lagi tinggi, putih, keren dan berambut cepak ala US Marine *uhuk!*.

Kayaknya gedung yang ini deh”, kata pria yang lebih tinggi kepada teman nya. “Menurut peta adanya di seberang rumah sakit. Dan itu rumah sakit nya”, sambil menunjuk dengan sok tau ke arah sebuah gedung di seberang jalan.

Mereka pun langsung menuju lantai 4, dimana terdapat kantor dari badan pencari kerja (headhunter agency) milik pemerintah, Hello Works, yang bertugas membantu menyalurkan para tenaga kerja dan pelajar asing yang memerlukan pekerjaan full time ataupun part-time di Jepang. Mereka berdua mendapat informasi ini dari salah satu rekan kerja di kantor mereka.


Lalu mereka memasuki salah satu ruangan cukup besar yang terasa seperti kantor kelurahan, di mana letak meja-meja diatur sedemikian rupa membentuk huruf U dengan sebuah meja untuk mengambil dan menulis formulir terletak di tengah-tengah nya.

Banyak sekali staf yang sibuk di depan komputer masing-masing dan mondar-mandir. Terdengar bahasa-bahasa asing terucap dari orang-orang yang datang. Bahasa Mandarin, Philipina, dan beberapa kicauan lain yang tidak dimengerti. Rupanya mereka sedang mencari pekerjaan juga.

Kedua pria tersebut bingung sambil mencoba mencari petunjuk dalam bahasa Inggris. Tak lama seorang resepsionis pun menghampiri, setelah melihat kedua orang pria ini terlihat bingung dan nggak tau apa yang harus dilakukan. Mereka pun menanyakan apakah si resepsionis bisa berbicara dalam bahasa Inggris.

Tak lama, sambil berpanik-ria, dia pun memanggil salah seorang staf yang memiliki bahasa Inggris lumayan. Begitu mereka menyampaikan maksud kedatangan nya, staf itu pun membantu menerangkan ke mereka bagaimana cara mengisi formulir biodata yang terdapat di meja formulir. Sebelum itu dia memeriksa passport mereka berdua, apakah benar-benar sah dan resmi untuk bekerja di Jepang.

Setelah mendapat penjelasan, kedua pria itu pun mulai sibuk mengisi formulir seakan-akan sedang mengikuti Ujian Negara. Tidak berapa lama sang staf tersebut menghampiri sambil bertanya apakah ada kesulitan dalam mengisi formulir itu. Setelah dijawab bahwa semua lancar-lancar saja, dia pun meninggalkan mereka berdua. Kemudian dia kembali dan bertanya lagi hal yang sama. Kedua pria itu pun menjawab hal yang sama juga. Begitulah sang staf beberapa kali mondar-mandir kayak setrikaan uap.

Setelah selesai mengisi formulir itu, kedua pria tersebut diminta membawa formulir yang telah diisi tersebut ke meja staf yang akan membantu mencarikan pekerjaan buat mereka.

Saya dilayani oleh seorang ibu yang keliatan nya judes, tapi ternyata baik hati dan tidak sombong. Sayang nya nggak bisa bahasa Inggris. Untung nya selain cukup tampan, saya ini cerdas. Jadi bisa ngerti apa yang diucapkan ibu itu. Cuma pada akhirnya mentok juga, begitu beliau mulai menanyakan hal-hal yang sulit. Oooh…ternyata saya nggak begitu cerdas yah :p.

Akhirnya ibu itu memanggil salah satu rekan nya yang sedang tidak bertugas, untuk membantu menterjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris, dan sebaliknya. Setelah diinterogasi beberapa saat (padahal semua info ada di formulir yang saya isi), mereka pun mulai mencari di database mereka mengenai semua perusahaan di Jepang yang membutuhkan staf dengan kemampuan yang saya miliki.

Tak lama ibu itupun mencetak beberapa informasi lowongan kerja yang ditemui dari hasil pencarian di database dan menyuruh saya menunggu sebentar sembari dia mulai menelpon satu-satu perusahaan yang terdapat di print-out nya.

Saya pun menonton si ibu yang sibuk menelpon sambil belajar mengartikan apa sih yang sebenernya dibicarakan. Pada intinya si ibu menjelaskan kalo dia dari Hello Works, dari data di Hello Works tercantum bahwa si perusahaan sedang mencari seorang graphic designer, lalala…lilili…

Kemudian dari ujung sana pasti si perusahaan menjawab, “Iya benar, kami sedang mencari graphic designer“. Si ibu pun mengatakan kalo ada satu kandidat graphic designer yang sedang duduk di hadapan nya. Bisa Sotopop, Illustrator dan lain-lain, berpengalaman, punya visa kerja, tampan *ini bohong :p*, tapi…tidak bisa bahasa Jepang.

Entah apa yang dijawab oleh ujung seberang sana, setelah itu si ibu pun menutup pembicaraan nya dengan nada kecewa.

Setelah menelpon empat perusahaan, nggak ada satupun yang mau menerima seorang graphic designer keren, handal jaya dan berbakat *uhuk!* tapi nggak bisa bahasa Jepang ini.

Si ibu mulai panik dan kebingungan, padahal saya ya biasa aja. Waktu si ibu telpon dan mencari-cari informasi, saya malah toleh sana-sini, sapa tau ada yang bening-bening. Liat sana-sini sapa tau ada yang menarik. Tapi nggak terlihat satupun yang mantap.

Ibu itu pun menjelaskan bahwa untuk posisi engineer IT masih banyak yang bersedia menerima karyawan yang kurang bisa bahasa Jepang, tapi kalo graphic designer, kudu bisa bahasa Jepang soalnya akan berhadapan langsung dengan klien dan juga pihak percetakan.

Akhirnya saya menanyakan ke ibu itu, seandai nya sambil menunggu, apa saya bisa part-time dulu di resto, atau apa gitu, atau mungkin malah jadi buruh di pabrik. Seandainya loh. Kan duit bisa abis kalo nganggur. Dan jawab nya dengan suara meninggi, “Dame desu yo!” (nggak bole –red-). Saya dimarahin :p.

Katanya gak bole karna di passport tertulis ijin visa kerja nya di bidang art and humanities. Jadi diluar bidang itu saya dianggap pekerja ilegal. Graphic designer termasuk dalam kategori itu bersama beberapa bidang profesi art lain. Begitu juga misalnya dengan programmer, visa nya akan ditulis sebagai Engineer, karena programmer termasuk dalam kategori Engineer. Kalo bekerja di luar kategori engineer, maka otomatis berubah menjadi pekerja illegal.

Jadi kalo terkena razia saya bisa langsung masuk tahanan Imigrasi Jepang dan dideportasi. Jadi ngebayangin saya difoto tampak depan dan samping sambil memegang papan nama, kayak di pilem-pilem. Trus dimasukin ke dalam sel. Kira-kira udah mirip yakuza apa belom :p.

Akhirnya kedua ibu itu pun menjadi sedih. Mereka lalu memberi saya brosur mengenai Hello Works, dalam tulisan Jepang *ngeledek* dan selembar kertas berisi puluhan alamat website perusahaan headhunters yang ada di jepang.

Si ibu menyuruh saya berusaha sendiri karena mereka bilang nggak bisa bantu dan udah nyerah, juga karna memang batas yang diberikan bagi para pencari kerja adalah maksimal 4 lamaran dalam 1 hari.

Setelah mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan mereka berdua, saya menghampiri dan menginterupsi temen saya yang tampaknya masih sibuk berdiskusi dengan staf Hello Works. Saya bilang kalo saya turun duluan. Saya haus sekali dan juga perlu menghirup udara segar Marlboro.

Akhirnya kaki ini pun melangkah ke convenience store yang terletak tidak terlalu jauh dari kantor Hello Works, dan saya membeli sekaleng coffee au lait dingin. Tak lama kemudian ada sms masuk, dari sakuralady. Tapi sungguh, saya kok udah nggak inget lagi apa isi pesan nya :p.

Tak lama kedua pria itu pun terlihat pergi meninggalkan gedung itu, bergegas ke arah stasiun supaya dapat kembali ke kantor lebih cepat, karena tidak ada satupun pekerjaan yang menanti mereka di kantor *nah..bingung kan*.

Interesting story? Share it to your friends:

  • Facebook
  • Twitter
  • Digg
  • del.icio.us
Comments
 
  1. maya says:

    iya bener , binun :d xixixixi

  2. sakura says:

    haha, soyuz terlalu menantang siy, mau kerja di luar status visa ditanya ke jasa biro legal gitu.. hehehe.. di jepang khan rada kibishii dan societynya mostly taat hukum.. :P

    ganbatte soy san!! ;)

  3. Kania says:

    Masku….designer yang tampan dan keren,tinggi putih dan cerdas, rambut cepak ala US Marine, pasti akan sukses disana. Soyuz gitu loh. Ngag bakal kalah ama badai seperti itu. Adik yakin dech. Semoga Tuhan selalu memberkati, melindungi dan memberi jalan kepada Mas.

    Kalau bilang SEMANGAT !!!, jawabannya selalu “Udah SEMANGAT !!.
    Berati adik cuman bilang, GBU dan Wish U Luck ;) ;).

  4. K. Ani says:

    Akiramenaide ….mada2 kore kara yo…..motto ganbatte neeee eh udah ganbatte koq ya, yg jelas jgn nyerah dec.
    Shinjiru itu kunci dari segalanya :-D
    Dakara Shinjite …..itsuka mas Soyuz no yume ga kanau

  5. Mei Mei says:

    good luck soyuz :D
    anda pasti bisa menaklukkan tokyo x)
    sou yo~ akiramenaide ne ^^
    jibun o shinjite!

  6. Andy Laver says:

    you can do it and you will get it! God bless you, my friend! btw, resume lu kirim ke gue lah..gue coba edarin ke temen2 gue..in the meantime, if there’s anything i can do, just let me know.

  7. welly says:

    hi yuz… moga2 cepet dapat kerja yah! tak doain nih…

  8. soyuz says:

    @maya: qeqeqqeq..:p

    @yg laen: tengs yak buat dukungannya.

    @andy: ok man. tar gw kirim.

  9. audrey says:

    ……..
    ini…
    ada….
    part 2 nya ga….?

    *penasaran sama lanjutannya*

  10. soyuz says:

    ada donk :D

    silakan dinikmati.

  11. tedtod says:

    Ganbate!!..eh,gambare…gunbate,?? eh…ah ga tau ah…semangat!!

  12. soyuz says:

    ahahhaa….ganbamot

  13. [...] Tujuan nya supaya jangan ada yang buang-buang waktu saya (walopun akhirnya dibuang-buang juga oleh para headhunters baik hati itu [...]

Add Yours

Line breaks are converted automatically. Please make sure that you have read the post before posting your thoughts. A valid email is a must but don't worry, it will never be displayed anywhere on this website. It is greatly appriciated if your comment could exceed 3 written lines. Please be polite and thoughtful of others. Comments which are derogatory will be deleted.

Please stay on topic: no name-calling, flaming or trolling. Spam and irrelevant comments will be deleted, your IP will be banned, and any URLs in your comment will be blacklisted.