Malam itu berlangsung seperti malam-malam sebelumnya. Suasana di stasiun kereta api Shinjuku tidak terlalu padat walaupun tetap penuh. Mungkin karena hanya sedikit kantor yang buka di hari Sabtu. Lalu-lalang orang-orang yang mengejar jadwal kereta api pun tidak se-intens di hari kerja. Entah kenapa kalo di hari kerja, udara terasa penuh dengan aura stres dan depresi, seakan persediaan oksigen di atmosfir bumi mencapai titik terendahnya.
Saya, seperti hari-hari Sabtu sebelumnya, baru saja pulang dari gereja setelah mengikuti latihan musik yang dimulai dari jam 7 malam. Perjalanan dari gereja ke tempat tinggal saya lumayan jauh dan harus naik 3 kereta api yang berbeda, artinya saya kudu pindah kereta sebanyak 2 kali. Dan ini adalah perpindahan terakhir. Saya sedang menunggu kereta api yang akan mengantar saya ke tempat tinggal saya di Chofu.
Antrian di masing-masing platform sudah lumayan berjubel dan meng-ular (memanjang seperti ular). Semua orang menanti pintu gerbong terbuka dan bersiap-siap menyerbu dari masing-masing sisi gerbong kereta. Begitu pintu kereta dibuka, suasana menjadi meriah. Semua orang berebutan masuk supaya bisa mendapatkan tempat duduk, karena perjalanan pulang akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan bisa tidur sebentar di kereta tentu akan menyenangkan.
Saya sendiri ndak antusias untuk mendapatkan tempat duduk. Yang utama karna saya nggak bisa tidur kalo nggak berbaring. Makanya saya takjub melihat orang-orang yang bisa tidur sambil berdiri dan bergelantungan di kereta. Yang kedua karna andaikan saya bisa tidur kemungkinan besar saya bakal kebablasan sampe stasiun terakhir. Saya tidur kayak orang mati :d.
Akhirnya setelah sedikit memaksa, saya bisa masuk juga ke dalam kereta, terjepit di antara pintu dan orang-orang di dalam kereta. Agak kewalahan juga karna saya membawa ransel di tangan kanan dan kompor gas di tangan kiri. Kompor? Iya kompor. Yang buat masak itu lho :d. Saya dikasi temen saat selesai latihan. Lumayan dapet kompor gas kecil karna saya masi belum punya kompor setelah sekian lama pindah tempat tinggal.
Tidak lama, kereta pun mulai bergerak meninggalkan stasiun Shinjuku. Saya mulai memperhatikan suasana di dalam gerbong, mencari-cari apa ada obyek yang bening dan menyegarkan :d. Mayan buat mencuci mata yg sepet setelah ngeliat chord-chord gitar :p.
Saya juga punya kebiasaan melihat iklan-iklan yang terpasang berderet di dalam gerbong, mencoba menebak apa insight dan pesan yang ingin dikomunikasikan dari iklan itu, kira-kira siapa target audience nya, atau gimana positioning dari brand tersebut, atau mencoba sok tau alasan dari penggunaan warna-warna di iklan itu.
Agak belagu sih, soalnya saya kan buta huruf kanji, sedangkan copywriting nya kan tulisan jepang :d. Jadi agak tebak-tebak buah manggis sih *ngomong-ngomong kenapa harus buah manggis?*. Tapi ndak papa, iklan yang baik dan efektif itu harus bisa berkomunikasi dengan audience nya tanpa harus ada penjelasan apapun.
Selain itu saya juga suka mengisi waktu dengan mencoba menebak karakter orang orang-orang yang ada di dalam gerbong itu. Atau memperhatikan tingkah laku mereka, walopun kebanyakan pada tidur, baca buku, atau merem sambil dengerin lagu dari iPod mereka.
Tiba-tiba mata saya tertuju pada seorang cewe yang berdiri nggak jauh dari saya. Bukan cewe itu sih yang jadi perhatian saya, karna dia biasa-biasa aja dan sama sekali ndak menarik perhatian saya (baca: ndak bening :d). Tapi seorang bapak-bapak (atau om-om?) yang berdiri di sampingnya lah yang lebih menarik. Saya berubah menyukai bapak-bapak tua? Ya ndak tho, saya masi normal, seratus persen mencintai perempuan dan ndak akan bisa hidup tanpa mereka di sekitar saya :d.
Kembali ke bapak tua itu, seorang pria berusia sekitar 40 – 50 taun, berkacamata, agak beruban dan memakai jas layaknya salary man sambil menenteng tas kerja. Sebenernya secara fisik nggak ada yang luar biasa dari si bapak ini, tapi posisi berdiri nya yang cukup menarik. Dia berdiri menghadap si cewe tadi. Ya itu pun biasa sih, mengingat penuh nya gerbong kereta ini, dan semua orang seperti upil, nyempil sebisa nya.
Yang membuat saya tertarik mengamatinya, si bapak ini memandangi cewe itu dari ujung rambut sampe ujung kaki, berulang kali. Saya seakan bisa ngeliat dia ngeces karna ada mangsa di depan mata. Kok perasaan saya mengatakan sepertinya si bapak ini setipe dengan pria yang waktu itu saya temui.
Bapak itu masi terus saja melakukan ’scanning’ ke cewe itu. Atas..bawah..atas..bawah..Dan cewe itu pun nggak ada reaksi apa-apa. Tetap memandang ke depan (tapi bukan ngeliat saya :d) dan berusaha tidak mempedulikan makhluk di samping nya.
Tak lama kemudian kereta berhenti di stasiun Meidaimae, salah satu stasiun yang terletak di antara stasiun Shinjuku dan stasiun Chofu. Orang-orang pun berebutan keluar. Kali ini saya nggak mau berbaik hati, saya tetap bertahan di dalam walopun agak menghalangi jalan keluar mereka :p.
Beberapa kali saya merasa bagian belakang tubuh saya disikut orang. Saya udah beberapa kali mengalami nya jadi nggak terlalu kaget. Tapi yang merepotkan, orang-orang yang menyikut atau mendorong dengan sedikit kekerasan itu selalu orang-orang yang udah tua. Mau saya tampol tapi nanti saya jadi terkesan kurang ajar terhadap orang yang lebih tua.
Setelah semua yang di dalam kereta keluar, giliran gelombang orang-orang yang ingin masuk kereta yang sekarang mendorong saya sampai ke dalam. Tanpa perlawanan berarti saya pun terdampar agak ke tengah gerbong dan terhimpit. Kali ini gerbong menjadi lebih penuh dan bikin sesak napas. Andaikan kereta berguncang cukup hebat saya ndak akan jatuh walopun nggak berpegangan karna bener-bener kejepit.
Kembali saya melakukan kebiasaan saya, mencari yang bening dan mengawasi orang-orang yang baru masuk tadi. Ternyata tanpa saya sadari, sekarang saya berdiri di belakang bapak tua itu :d.
Posisi si bapak itu pun sudah berubah dari yang tadi nya ada di samping si cewe dan menghadap si cewe itu, menjadi di belakang cewe itu dan agak sedikit menyamping. Jadi bapak tua itu bisa dengan mudah membisiki si cewe itu kalo mau :d. Sedangkan saya berdiri di belakang si bapak tua itu. Saya juga dengan mudah bisa membisiki si bapak tua itu kalo mau, tapi ngapain :d.
Kereta pun mulai melaju kembali menembus malam. Saat saya sedang melihat sekeliling, si bapak tua itu dengan perlahan mulai memanjangkan dan menjulurkan lehernya melewati bahu si cewe. Syuuuuutt…lehernya semakin memanjang dan mata nya tertuju ke arah belahan baju si cewe itu, mencari-cari sesuatu disana. Hoaaaa!!…saya sampe ternganga dan takjub. Nggak menyangka bahwa bapak tua ini adalah siluman kura-kura.
Si cewe itu tetap berusaha untuk tidak melihat apa yang berada di sampingnya. Malah saya yang gemes. Sebenernya sih dengan melihat sekilas pun udah ketauan kalo ndak ada apapun yang bisa diliat di balik belahan baju si cewe itu. Entah siluman kura-kura itu ilmu nya lebih rendah dari saya masi rendah atau memang dia cuma menikmati sensasi yang timbul saat memanjangkan leher dan memelototkan mata nya.
Nggak lama kereta terguncang dan secara refleks siluman tersebut menarik lehernya kembali. Tapi nggak lama kemudian lehernya mulai memanjang kembali dan sekali lagi matanya menuju ke belahan pakaian si cewe, seakan dengan pelototan matanya, kancing baju si cewe bakal terbuka. Atau jangan-jangan kacamata yang dipakainya bisa melihat tembus pandang?
Saya yang makin gregetan memutar otak mencari cara supaya siluman kura-kura di depan saya ini nggak bisa leluasa beraksi. Kedua tangan saya jelas nggak akan banyak membantu karna sedang menenteng ransel dan kompor. Selain itu juga udah terjepit orang-orang di sekeliling. Terlintas ide untuk meniup kuping si siluman kura-kura itu setiap dia akan beraksi, tapi akhirnya saya urungkan. Iya kalo berhasil, kalo malah bikin dia geli dan terangsang kan gawat :d.
Saat saya lagi mikir, tiba-tiba kereta kembali terguncang dan nggak sengaja bahu saya menabrak bagian belakang tubuh si bapak tua kura-kura itu. Secara otomatis dia pun menarik kembali lehernya. Ahaa! Ini dia. Akhirnya setiap dia mulai menjulurkan lehernya, saya pun sengaja menabrakkan bahu saya dengan keras ke punggung si siluman tersebut, dan dia akan menarik lehernya. Kalo memang harus ribut…hayuk deh, pikir saya :d
Tapi herannya si bapak tua itu sama sekali nggak menoleh ke saya. Matanya tetap tertuju ke tubuh cewe itu. Serius sekali nih bapak. Akhirnya saya menemukan mainan baru untuk mengisi waktu, sampai kereta tiba di Chofu. Saya harus turun. Si cewe bergegas keluar dari kereta dan pindah ke kereta di seberang. Sedangkan si bapak kura-kura turun dan kembali mengantri, menunggu kereta lokal yang akan tiba setelah kereta yang kami tumpangi tadi berlalu.
Kompor yang saya bawa akhirnya nggak bisa dipakai karna nggak sesuai dengan jaringan gas yang terpasang di gedung tempat tinggal saya. Beda provider. Kompor itu khusus untuk perusahaan gas yang lain. Andaikan saya tau kompor itu nggak bisa dipakai, mending saya sambit berikan ke bapak kura-kura itu supaya dia bisa melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat (buat saya) misalnya memasak (buat saya tentunya :d).
Entah siluman-siluman apa lagi yang akan saya temui, mengingat musim panas sudah tiba dan cewe-cewe udah mulai berlomba-lomba mengenakan pakaian se-terbuka mungkin, baik bagian atas maupun bawah :d
eh…eh…pertamax yah???? horrreeeyyy :d , btw ternyata di jepun banyak siluman yah hehehehe
Wah ceritanya menarik banget Yuz…..
Bapak tua beruban itu bukan gue khan….
masih ingat gw agung di mgth dulu..
Hebat ouey perjalanannya jauh amat
gak rindu kampung halaman.
Sukses Selalu
Agung K Noertjahjono
WKWKWK…
’sopan’nya om2 disana…..
cewe2 sana juga banyak yang ‘ramah’….
aduh ngakaQ gue baca post loe yg ini wkakakak siluman kura2 xD
yg ini loh
“Saya juga dengan mudah bisa membisiki si bapak tua itu kalo mau, tapi ngapain :d”
HAHHAHAHAHAHAHAHAHAHA *ngakaQ gulinQ2
kacao de om2 sana. kan loe superman tak..harus ne bantinQ dia kluar dr kereta xixixixi
Kirain cerita yang sama ma yang kemaren. Koq ketemu ’siluman’ terus siy mas. Bikin ketawa ngakak ney. Sama kayak mba Mei, ampe guling2 dah **LOL.
mang, ilmunya mas udah sampe mana ??? HHihihihii
@maya: selamat. anda mendapatkan hadiah piring cantik bergambar soyuz :p. iya nggak nyangka disini mayan banyak siluman :p
@mas agung: wah ada mas agung :d. tengkyu mas dah mampir. kok bisa ktemu web gw? tenang, bapak itu bukan mas agung. kan mas agung masi muda :d.
kalo rindu sih jangan ditanya. rindu soto betawi :d
@winnz: iya, om-om disini sopan-sopan lho :p.
@mei: qeqeqeq…mo banting juga nggak bisa. dua tangan ini udah penuh xD
@nia: hehe…mungkin karna ilmu nya udah tingkat tinggi jadi ditugaskan untuk membasmi siluman :p
wakakakakaaka….. asal yang nulis juga gak jadi siluman kura2 awas ya … :D
kemana aja nih pak… jadi kangen