Beberapa waktu yang lalu sempat terbersit ide untuk mengganti kosmetik blog ini. Rasa bosan sudah mulai menyusup ke dalam diri, menjadi pertanda harus ada suatu perubahan. Tapi akhirnya ide itu saya urungkan, setelah saya liat bahwa desain yang ini telah cukup banyak nampang di berbagai website inspirasi. Sayang juga :p.
Padahal sebagai seorang desainer, merupakan pantangan buat saya untuk jatuh cinta dengan karya yang dibuat, karna akan membatasi gairah untuk bereksplorasi dan bermain-main lebih nakal dengan imajinasi.
Tapi pada akhirnya saya tetap memutuskan untuk menunda redisain jurnal ini. Toh masi banyak pekerjaan yang seperti nggak ada habisnya dan memiliki prioritas lebih tinggi dibandingkan jurnal ini.
Saya sempat mengamati data statistik dari Google mengenai pengunjung blog ini, dan kata kunci terbanyak yang membuat pengunjung nyasar ke blog ini adalah ‘kerja di Canada’ atau kata-kata yang mirip itu. Tentu saja kata kunci tentang bekerja di Jepang juga nggak kalah banyak.
Rupanya cerita saya yang populer itu *dziighh!* yang menjadi penyebabnya. Saya jadi penasaran, apa Kanada semenarik itu ya, kok banyak sekali yang mencari informasi cara mendapatkan pekerjaan di sana. Beberapa komentar pengunjung yang mampir kemari juga menanyakan hal serupa. Terus terang saya jadi tergelitik dengan fenomena ini *sebenernya sih belum tepat dikatakan fenomena, tapi gak papa, biar keren aja :d*.
Sekitar pertengahan taun 2007 saya mendapatkan email dari seorang teman, perempuan. Dia adalah teman adik saya, yang akhirnya menjadi salah satu anak didik saya. Sebenarnya tidak ada yang luar biasa dengan kegiatan kirim-mengirim emailnya. Kami sering bertukar email, entah itu diskusi soal desain atau sekedar menanyakan kabar masing-masing, kadang dia juga mengirim foto-fotonya. Tapi yang menarik, kali ini isi emailnya menanyakan soal gimana ceritanya saya bisa bekerja di Jepang dan juga keinginannya untuk bekerja serta menetap di Kanada.
Terus terang saya senang sekali saat membaca emailnya. Entah kenapa saya suka dan respek dengan orang yang punya impian dan berani untuk mewujudkannya at any cost necessary. Kalimat-kalimat yang tertumpah dalam email-emailnya sangat kental dengan aura kebulatan tekad bercampur dengan passion. Saya tau dia nggak main-main atau sekedar mimpi yang suam-suam kuku.
Tentang gimana saya bisa ke Jepang, saya dengan senang hati menceritakannya, kurang lebih sama dengan cerita saya yang ini dan lanjutannya itu, tentu saja saya persingkat.
Sedangkan untuk impian nya ke Kanada dan kerja disana, sepengetahuan saya sih tidak mudah kalo mencari pekerjaan sedangkan kita tidak berada di negara tersebut atau tidak memiliki ijin kerja (padahal ijin kerja itu diberikan kalo kita bekerja di negara itu. Lucu kan). Setidaknya begitulah pengalaman saya waktu mendapatkan tawaran dari Kanada dan Belgia itu.
Dalam kondisi tertentu mungkin tidak seribet itu, dengan catatan kemampuan kita memang dianggap outstanding. Setidaknya itu pendapat orang yang menawari saya pindah ke Singapura itu.
Saya pun mengusulkan untuk menempuh jalur pendidikan saja. Menurut saya yang penting bagaimana kita bisa berada di negara tujuan kita (dengan resmi tentunya). Setelah kita disana dan menginjak tanah nya, akan jauh lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Itu teori saya, tanpa disertai riset yang mendalam…seperti biasa.
Saya juga nggak ketinggalan memberikan tautan (link) ke cerita saya yang populer itu. Dia, dan beberapa temen saya yang curhat di waktu yang hampir bersamaan itulah yang menginspirasi saya menulis cerita itu. Siapa tau bisa memberikan tambahan semangat juang. Gagal atau berhasil itu perkara nanti. Yang penting melangkah. Kalo bole saya kutip signature email sakuralady yang ‘gue banget’, Whatever you can do, or dream you can do, BEGIN IT!
Eniwe, akhirnya temen saya memilih jalur pendidikan yang akan dimulai permulaan taun 2008. Kebetulan orang tua nya cukup mampu (berdasarkan feeling saya) dan dia berhasil membujuk orang tua nya. Tapi bukan berarti segala nya lancar. Banyak sekali kendala yang saya yakin membuat dia nggak bisa tidur tenang setiap malam nya.
Misalnya, kurang aktifnya perusahaan travel agent yang menjadi agen untuk mengurus masalah administrasi di sekolah yang dituju, sedangkan uang yang sudah dikeluarkan untuk si travel agent itu nggak sedikit, dengan resiko uang puluhan juta akan hangus kalo gagal. Perasaan cemas, tegang, sebal, dan marah bergantian mempermainkan teman saya.
Hingga pada suatu sesi curhat/ngedumel nya dia minta dukungan doa dari saya. Tanpa diminta pun saya akan mendoakan yang terbaik tentunya. Di salah satu email yang saya kirim, saya malah iseng berkata, “Nanti kalo udah menetap disana, join bareng buka Mediavisi Toronto ya :)”, seakan dia udah pasti ke Kanada. Dia pun menyanggupi. Intinya dia udah agak tenang setelah saya hibur dan mulai berpikir positif. That’s a good start.
Bulan pun terus berganti dan saya nggak mendengar kabar darinya lagi tentang Kanada. Masing-masing disibukkan dengan aktivitas dan pekerjaan yang datang silih berganti di akhir taun. Hingga pada suatu hari di akhir bulan Januari, saya menerima email dari nya, “Ko, aku udah di Kanada :d”.
Jangan ditanya gimana perasaan saya saat itu. Kaget, senang, dan bangga. Satu teman yang membaca cerita saya telah berhasil mewujudkan mimpinya (terlepas dari berpengaruh atau nggak nya cerita itu), dan saya juga telah selangkah lebih maju dalam usaha mewujudkan impian saya menjadikan Mediavisi menjadi perusahaan marketing communications berskala dunia :d
Sekarang dia sedang sibuk meningkatkan kemampuan nya di Seneca College, mengambil diploma di bidang Digital Media Arts, salah satu major study unggulan di Seneca. Selain itu dia juga magang/voluntir (tanpa dibayar) di salah satu perusahaan animasi, supaya jauh lebih mudah saat mencari pekerjaan setelah lulus nanti, karena sudah memiliki pengalaman kerja. Smart move, dear!
Ada yang mau nyusul ke Kanada? :d
wah postingan motivasi nih.. ;)
gluck buat temenmu ya ko Soy. :)
yup everything starts with dream, dream big and try the best to make it happen.
doh jadi malu signaturenya dikutip.. hihihi.. hepi wiken, cepet kelar kerjaann yeee..
eh btw, cewe yg diincer tuh, ternyata wong jepun mbo.. dah kenalan akhirnya.. mau dikenalin? LOL
Waaaa…..bangga juga ney dengan temen-nya mas itu.
Ceritanya untuk memotivasi pembaca ney.
Mas kapan nyusul kesananya :D
yuuuhuuuuuuuuuu…menebar pengalaman…menebar motivasi..bung soyuz memang patoet dipoedjikeun :D
btw kalo di kanada makanannya enak2 gag yah?:D
canada emang seakrang jadi negara favorit. soalnya tunjangan2nya yang ok banget membuat orang idupnya bisa enak disana. apalagi untuk yang berkeluarga. emang mantap tuh canada… :)
@sakuralady: hihihi…iya. lagi sok bijak :p. mudah2an bermanfaat buat kita.
thanks, ntar aku sampaikan. i think she’s alright. she lives the life to the fullest, like you :d
hihihi..iya sig nya keren. jadi harus dikutip :d
@sakuralady lagi: oh dah kenalan? huhuy! dikenalin? mau dong *ganjen mode*
psst..psst…etooo…anoo…eigo dekiru? :p
@nia: iya. i’m very lucky surrounded by fantastic people :d
qeqeqe…iya ceritanya sih begitu, biar termotivasi. skarang berpulang pada masing-masing individu *tsaaah!*
nyusul ke kanada? ntar :d
@maya: makasi. sayah jadi tersandjoeng :d. semoga bisa dijadikeun peladjaran berharga :d
nah itu…kayaknya kalo di negara bule gitu makanan nya biasa aja (sok teu sih). kuliner di asia masi jauh lebih eksotik kayaknya.
@arman: oh gitu ya. pantesin. mantap tenan ya. thanks banget buat info nya.
*siap2 packing dan brangkat ke kanada*