September, 2008
9.26.08

Somebody’s someone – Starts with one

Malam itu saya bersama beberapa teman sedang berada di dalam kereta. Kami dalam perjalanan pulang, setelah selesai mengikuti kebaktian di gereja. Kebetulan kami harus menggunakan kereta api yang sama. Teman-teman saya tinggal di daerah-daerah yang dilalui oleh kereta api itu. Saya sendiri menuju stasiun Shinjuku.

Teman-teman saya terlihat menikmati obrolannya. Cukup seru sepertinya. Saya yang udah mengantuk setelah malam sebelumnya begadang, nggak terlalu berminat untuk ikut ngobrol. Hanya diam dan berdiri dengan mata kriyep-kriyep, sambil menikmati belaian angin yang bertiup dari pendingin ruangan dalam kereta.

Tiba-tiba saya mendengar temen saya -cowo- bertanya ke temen saya yang satu lagi -cewe-

Continue reading →

9.18.08

Life’s just far too short for miscommunication

Cuaca cerah tapi berawan menyelimuti Harajuku saat itu. Matahari sudah berada tepat di atas kepala tapi tiupan nakal angin musim dingin membuat pori-pori agak merinding karna perbedaan temperatur.

Hari itu saya sedang berada tidak jauh dari kantor, mencari tempat yang asik buat makan siang. Salah satu hal yang membedakan antara kehidupan orang kantoran di Jakarta dan Tokyo (setidaknya buat saya) adalah saat makan siang.

Selama saya di Jepang, jarang sekali saya makan siang bareng-bareng rekan sekerja. Apalagi di kantor yang baru ini. Sama sekali nggak pernah. Semua pergi sendiri-sendiri. Kurang tau juga apa di Jepang seperti itu atau saya aja yang ‘beruntung’ bisa berada di kantor-kantor yang orang-orangnya aneh bin ajaib.

Continue reading →

9.12.08

We never thought we’d ever get this far

Dulu, taun 2006-2007, saya sempat memiliki satu geng yang terdiri dari orang-orang yang satu spesies dengan saya, karnivora yang memiliki usus dan lambung yang bisa melar menyesuaikan bentuk dengan volume makanan yang masuk.

Biasanya salah satu dari kami akan mengirimkan email ke semua anggota, mengusulkan satu atau dua tempat makan yang akan menjadi target kami. Salah satu temen saya malah udah kayak primbon restoran berjalan. Tau aja tempat-tempat makanan yang menarik.

Target kami selalu tempat makan yang menyediakan paket all you can eat, dan enak tentunya. Itu saja syaratnya. Setelah semua setuju, kami mengunjungi tempat itu dan mulai beraksi, melahap tanpa ampun, persis seperti buta (raksasa -red-) yang nggak dikasi makan selama lima taun.

Continue reading →

9.11.08

Anybody wasted tears on the loneliness

Setelah menerima telpon dari temen yang mengejutkan tapi menggembirakan itu, saya melanjutkan pekerjaan hingga pukul 9. Sebenarnya jam kantor sudah berlalu satu jam sebelumnya, tapi karna saya datang terlambat jadinya tidak dianjurkan untuk pulang tepat waktu. Selain itu semuanya masi di kantor dan bekerja dengan penuh semangat, jadinya lebih tidak dianjurkan lagi untuk pulang tepat waktu. Bisa-bisa dicap pemalas.

Tepat jam 9 saya langsung beres-beres dan kabur dari kantor, piaraan di dalam perut udah meronta-ronta dan mengancam akan mengadakan aksi mogok *indonesia sekali :p*. Tanpa basa-basi, saya langsung setengah terbang menuju stasiun Harajuku yang letaknya hanya selemparan kolor dari kantor. Kesempatan langka bisa pulang jam segitu, jadi tidak bole dilewatkan begitu saja.

Rute pulang yang saya lalui juga tidak berubah. Tetap harus ke Shinjuku dulu untuk berpindah kereta satu-satunya yang akan mengantar saya pulang.

Continue reading →

9.8.08

Even if your hope has burned with time, you will be fine

Setiap dari kita pasti memiliki keinginan. Keinginan yang pada prosesnya nanti bisa berubah bentuk menjadi ambisi, impian, atau nafsu.

Saya termasuk orang yang memiliki banyak keinginan. Apa-apa mau, begitu istilahnya. Dan beruntungnya, hampir semua keinginan saya selalu bisa terpenuhi. Setidaknya begitulah seingat saya *sok punya ingatan kuat :p*.

Waktu kecil, saat konsol game Atari populer di taun 80an, saya pengen. Dan selayaknya orang tua, hampir semua permintaan anak-anak yang berkaitan dengan mainan akan mendapatkan tentangan. Dan selayaknya juga anak-anak dimanapun, akan menggunakan senjata andalan mereka, menangis meraung-raung. Kalo perlu dibumbui dengan efek guling-gulingan dari depan sampai belakang rumah. Saya pun dibelikan Atari.

Continue reading →