9.8.08

Even if your hope has burned with time, you will be fine

Setiap dari kita pasti memiliki keinginan. Keinginan yang pada prosesnya nanti bisa berubah bentuk menjadi ambisi, impian, atau nafsu.

Saya termasuk orang yang memiliki banyak keinginan. Apa-apa mau, begitu istilahnya. Dan beruntungnya, hampir semua keinginan saya selalu bisa terpenuhi. Setidaknya begitulah seingat saya *sok punya ingatan kuat :p*.

Waktu kecil, saat konsol game Atari populer di taun 80an, saya pengen. Dan selayaknya orang tua, hampir semua permintaan anak-anak yang berkaitan dengan mainan akan mendapatkan tentangan. Dan selayaknya juga anak-anak dimanapun, akan menggunakan senjata andalan mereka, menangis meraung-raung. Kalo perlu dibumbui dengan efek guling-gulingan dari depan sampai belakang rumah. Saya pun dibelikan Atari.


Begitu juga saat era Nintendo datang, Super Nintendo/SNES, sepeda motor (yang ini udah nggak pake meraung-raung dan guling-gulindang), komputer, cewe, dan seterusnya. Sampai impian terbesar saya kala itu, membelikan rumah buat keluarga saya yang selama itu nomaden, berpindah tempat tinggal.

Semua bisa saya capai atau miliki, dan periode pencapaian nya berbeda tergantung besar kecil serta bobotnya. Atari misalnya, saya cukup merengek beberapa hari dan berguling beberapa kali. Sedangkan untuk rumah, saya dilatih untuk berjuang sampe berdarah-darah, tetap menjaga faith dan sabar selama 12 taun. Begitu juga dengan semua keinginan saya selepas SMU harus diperoleh dengan perjuangan dulu karna saya udah ndak menengadahkan tangan ke ortu sejak kuliah :d.

Jadinya, sampai saat inipun saya tetap percaya dengan teori saya bahwa semuanya itu nggak ada yang mustahal, tergantung seberapa besar tekad, keyakinan dan usaha (effort) saya untuk mencapai nya. “Everything is possible. Things that are impossible just take longer”. Begitu kalimat yang saya temukan entah dari mana.

Makanya saya hobi (selalu)melakukan tes untuk teori ini. Sekarang salah satu impian saya yang agak di luar nalar (iya, saya selalu suka bermimpi di luar nalar :p) yaitu yang berkaitan dengan duit yang nol nya (masih) ada delapan itu, sementara waktu untuk saya hanya 6 bulan lagi dan yang saya kumpulkan belum bisa mengurangi satu nol pun :d. Kita liat gimana nanti :d.

Di awal kedatangan saya di Jepang, ada seorang cewe yang lumayan cakep (setidaknya di foto) mengajak saya kenalan lewat sebuah situs pertemanan. Tentu saya agak-agak kaget. Emang saya tau kalo saya keren *hueek..plakk!!* tapi kayaknya saya nggak setampan itu sampai-sampai ada cewe -cakep pula- yang mengajak kenalan.

Setelah bertukar email dan ngobrol di MSN, saya baru tau kalo dia ngajak kenalan karna lokasi saya di Tokyo. Dia salah seorang yang jatuh cinta seperempat-idup dengan segala sesuatu yang berbau Jepang, mirip dengan ‘anak-anak’ saya di forum DJO! yang saya kelola.

Saking jatuh cintanya, sampai saya suka geleng-geleng kepala sendiri. Ada yang bahasa jepang nya cas-cis-cus melebihi saya, ada yang tau segala jenis makanan jepang (saya baru makan sushi sejak disini dan sampai sekarang masih nggak tau nama-nama makanan yang masuk ke mulut saya), ada yang tau info gosip-gosip seleb dan jadwal tayang acara tipi di Jepang. Mengagumkan.

Kembali ke temen baru saya, dia baru saja lulus SMU saat itu. Masi seger-segernya *emangnya daun selada?* dan penuh semangat. Keinginannya untuk ke Jepang meluap-luap sampai bisa saya rasakan dari sini. Pokoknya setiap perasaan itu timbul, dia langsung ngobrol dan bertanya macam-macam ke saya lewat MSN, atau SMS. Pagi, siang, atau malam. Setelah ngobrol dengan saya barulah perasaan nya bisa tenang kembali. Saya menjadi semacam obat penenang buat dia.

Sering sekali pertanyaan-pertanyaan yang diajukan membuat saya ketawa geli. Tapi saya kagum dengan tekad dan ambisinya. (Hampir)semua cara siap dia lakukan demi mewujudkan impiannya.

Misalnya, suatu hari dia cerita kalo ada kenalannya (dari situs pertemanan yang sama) menawarkan pekerjaan di Jepang sebagai tukang pijat. Lantas dia pun mulai bertanya-tanya soal profesi ini dan gimana baiknya. Saya bilang coba ditanyakan itu pijat normal atau pijat plus. Seandainya pijat plus mending saya aja yang bayarin dia kemari dan saya akan bertindak sebagai manajer nya *jiwa mucikari saya muncul :p*.

Atau di lain waktu dia cerita ada seorang pria (dari situs yang sama) yang bersedia membiayai nya ke Jepang, sudah mengirim uang malah, tapi syaratnya temen saya ini harus mau jadi istrinya. Saya tanya apa dia mau mengorbankan cinta demi ke Jepang. Katanya iya, dia mau nikah dengan pria itu. Ckckck…semangat yang membara :d. Saya bilang kalo gitu saya aja yang membiayai nya ke Jepang tapi harus nikah dengan saya. Dia ndak mau, karna saya bukan made in Japan :p. Aje gile, cinta nya terhadap Jepang sungguh luar biasa :d

Kira-kira seperti itulah ambisinya. Sering dia curhat dan minta pendapat, sering juga dia menghujani saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang nggak perlu. Seringkali kita memiliki impian atau ambisi yang luar biasa tapi saking semangatnya sampai nggak tau gimana mencapainya dan jadinya kita seperti kehilangan arah, berlari kesana kemari tanpa tujuan.

Saya mulai membukakan sedikit pencerahan. Saya sarankan dia mencoba program beasiswa dari Pemerintah Jepang. Saya tuntun langkahnya sampai dia bener-bener mengisi formulir pendaftaran nya. Saya juga mendukung dia waktu dia minder, takut saingan-saingan nya pinter-pinter dan jenius. Entah brapa total tagihan henpon yang harus dibayar oleh kantor saya yang lama. Mungkin itu salah satu sebab kantor itu nyaris bangkrut :p

Akhirnya dia yang belum pernah ke Jakarta, sendirian naik travel dari Bandung ke Kedutaan Jepang di Jakarta. Dia masi menghujani saya dengan SMS sampai dia masuk gedung kedutaan, berhenti sejenak, dan berlanjut setelah keluar dari kedutaan :d.

Singkat cerita, dia gagal. Tapi semangatnya tetap membara. Dibuktikan dengan masi banyaknya SMS yang saya terima :d, dan juga obrolan di MSN. Sampai akhirnya asa mulai luntur. Saya menyuruhnya mengikuti kuliahnya terlebih dahulu (dia baru diterima di jurusan politeknik di universitas paling beken di Bandung, 3 hurup :p) dan belajar bahasa Jepang sambil menunggu kesempatan berikutnya karna dia masi muda *tiba-tiba saya merasa tua…uhuk..uhuk…*, dan perjalanan masi panjang. Kalo memang rute jalan hidupnya mengarah ke Jepang, pasti dia akan ke Jepang, begitu pesan saya.

Cukup lama (kira-kira setaun) saya nggak mendengar kabar berita nya dan dia menghilang. Saya berharap semangat dan impiannya nggak ikut hilang. Sampai suatu hari saya memeriksa email dan menemukan sebuah email darinya.

“Ko, aq kemarin bln 4 ke jpg. akhirnya dapet visa juga. ntar juli mau ke jpg lagi. Jpg bagus bangeet. aq ke 109 (nama salah satu department store -red-) di shibuya”.

Akhirnya dia memilih jalur pendidikan (non beasiswa) yang persiapan nya akan dimulai dari bulan Juli. Orang tua nya memang cukup mampu (sekali lagi, menurut feeling saya). Saya yakin pasti butuh keberanian dan semangat luar biasa untuk membujuk orang tua nya melepaskan putri kesayangan mereka ke negeri lain sendirian. Entah pake acara meraung dan guling-gulindang atau ndak :d. Setelah itu saya tidak menerima kabar apapun darinya padahal bulan Juli sudah berakhir.

———————————–

Saya sedang sibuk sekali sore itu, kurang lebih dua-tiga minggu yang lalu. Saya masih bermasalah dengan beberapa perintah program di Wordpress yang dipakai di website salah satu klien kantor. Tiba-tiba henpon saya bergetar. Saya liat sebuah nomor yang tidak saya kenal. Setelah bergetar beberapa kali, akhirnya saya angkat juga.

x/x: “Ko! ini liz. Masi inget nggak?”
o/o: “Oh? masi dong. Kapan nyampe?”
x/x: “Minggu lalu”
o/o: “So…gimana rasanya? Pasti seneng banget deh dia”
x/x: “Iyaaa..seneng banget!!! hehehe…”

———————————–

Siap untuk mengeluarkan effort terbaik? :d

Interesting story? Share it to your friends:

  • Facebook
  • Twitter
  • Digg
  • del.icio.us
Comments
 
  1. winnz says:

    weleh…..
    gw juga pengen ke jepang……..
    anw kalo lewat program blajar, mahalnya seberapa mahal ya???
    ~mao pake resep soyuz-san,’menangis meraung-raung,efek guling-gulingan dari depan sampai belakang rumah’wkwkwk~

  2. soyuz says:

    heheh..mari ke mari :p

    ndak mau coba-coba lewat scholarship?

    xixixi…iya bole dicoba tuh resep nya :p

  3. [...] menerima telpon dari temen yang mengejutkan tapi menggembirakan itu, saya melanjutkan pekerjaan hingga pukul 9. [...]

  4. Kania says:

    Mantap banget teman2nya mas.

    Tapi sayang banget, koq dia nga mau ma mas yah………qeqeqeeqeqeq………….

    Beasiswa…..itu lah yang dikejar. Cuman…..tik tik tik…tik…

  5. Mei Mei says:

    wah gue jg mao ke jpg..tp ga mo pake acara nikah ama org jpg buat kesana muakakaka :P
    gue pake acara gulink2 ampe meraung2 isa dpt ga ya? xD

  6. soyuz says:

    @nia: iya. mantap2 ya :d

    @mei: qeqeqe…pake acara guling2 isa dapet. minta ke hubby :p

Add Yours

Line breaks are converted automatically. Please make sure that you have read the post before posting your thoughts. A valid email is a must but don't worry, it will never be displayed anywhere on this website. It is greatly appriciated if your comment could exceed 3 written lines. Please be polite and thoughtful of others. Comments which are derogatory will be deleted.

Please stay on topic: no name-calling, flaming or trolling. Spam and irrelevant comments will be deleted, your IP will be banned, and any URLs in your comment will be blacklisted.