Bekerja di luar negeri memang memberikan kesan tersendiri. Setidaknya buat saya. Dengan bekerja di luar negeri, mau nggak mau saya belajar dan sedikit banyak tau mengenai budaya dari negara yang saya tinggali. Selain itu membuka wawasan dan bisa memenuhi hasrat untuk melihat ‘dunia luar’. Sensasinya pun serupa dengan saat pertama kali berada di Jakarta. Saya belum bisa membayangkan gimana mendebarkan nya kalo bisa melihat ‘luar dunia’ ya, misalnya tinggal di planet Mars atau Neptunus gitu.
Untuk sementara, saya harus puas dengan melihat ‘dunia luar’ terlebih dahulu, toh masi banyak negara yang belum pernah saya kunjungi. Misalnya ke Maldives atau Bhutan gitu *padahal di Indonesia aja masih banyak tempat yang belum pernah saya kunjungi :d*.
Ngomong-ngomong mengenai budaya, cukup banyak kebiasaan yang jauh bertolak belakang dengan Indonesia dan suka membuat saya takjub, heran, atau malah geleng-geleng kepala. Salah satu yang cukup kontradiktif, kebiasaan makan siang/malam bareng dengan rekan sekerja. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, di Indonesia tentunya kita sudah biasa makan siang rame-rame dengan rekan-rekan kerja atau sekedar hang-out di Starbucks selepas pulang kerja. Sedangkan disini agak berbeda.
Pada masa awal-awal disini dan bekerja di salah satu perusahaan yang mengundang saya kemari, perbedaan itu tidak terlalu keliatan. Pertama, karena ada satu orang dari Indonesia juga yang dikontrak oleh perusahaan. Jadi kami cukup sering makan siang bareng.
Kedua, cukup sering sang presdir atau manajer mentraktir makan siang, karena mereka belum pernah punya staf orang asing. Jadi saya dan teman saya termasuk spesies langka yang harus diperlakukan hati-hati dan spesial, terutama kebingungan mereka mengenai warna kulit diantara kami berdua. Kok bisa sama-sama dari Indonesia, tapi yang satu berkulit sawo matang dan yang satu lagi kuning (padahal kulit saya perasaan ya nggak kuning :p).
Ketiga, dan ini yang cukup menarik, cukup sering juga kami keluar makan malam ramai-ramai. Letak menariknya dimana? Ini terjadi karena kami sama-sama nggak suka dengan sang presdir. Seakan berbagi perasaan yang sama dan tanpa kami sadari menimbulkan bound atau ikatan yang cukup mempererat hubungan antar karyawan di level bawah. Kadang-kadang pemimpin diktator itu diperlukan :p.
Di tempat kerja yang baru, seperti yang pernah diceritakan juga, sama sekali tidak pernah ada yang namanya makan siang rame-rame atau makan malam sekampung kecuali kalo ada perayaan tertentu. Disini baru terasa perbedaan kebiasaan di antara para rekan sekerja. Di tempat ini, yang sebenernya bole dibilang multikultur karena ada yang dari Eropa, Amerika, dan Asia, saya malah merasa berada di perusahaan asli Jepang. Individualis, kerja keras tanpa berhenti, dan tidak membicarakan atau melakukan hal-hal di luar pekerjaan.
Sampai pada suatu hari saya menerima email dari rekan yang satu ruangan dengan saya. Judulnya “Acara minum-minum rahasia minggu depan“. Cukup menggelitik karena seharusnya dia bisa ngomong secara lisan kalo ada sesuatu, toh kami seruangan. Jangan-jangan ini surat cinta dan ajakan nge-date? Saya pasti akan menolaknya mentah-mentah. Lha wong dia laki-laki.
Eniwei, setelah saya baca isi emailnya, tidak kalah menggelitik. Disana disebutkan bahwa para staf level rendah akan mengadakan minum-minum tanpa sang pimpinan. Ternyata ada juga gerakan bawah tanah di perusahaan ini hehe. Saya bisa membayangkan, ini bakal jadi acara minum dan mabuk-mabukan khas Jepang, dan saya nggak suka. Tapi karena saya penasaran, akhirnya saya menyanggupi untuk ikut serta.
Pada saat hari H, kebetulan sang pimpinan sedang dalam perjalan bisnis ke luar pulau. Jadi kami bisa kabur dari kantor jam 7 malam. Iya, 7 malam. Baru kali ini pulang sore selama setaun lebih bekerja di perusahaan ini :d. Kami menuju ke salah satu izakaya (ehm..apa ya bahasa Indonesianya…kedai?) dimana rekan seruangan saya telah melakukan reservasi tempat. Sebuah tempat kecil yang cukup nyempil di Harajuku.
Tidak ada yang istimewa dari tempat ini kecuali dandanan sang pemilik (yang juga ikut melayani) yang cukup rocker, mengenakan celana kulit ketat dengan motif kulit buaya dan mengenakan bandana di kepala; dan sangat ramah ke para pengunjung. Pada salah satu sisi dinding ruangan dipenuhi dengan poster grup rock seperti Metallica, Led Zeppellin dan lain-lain. Pantas. Anak metal juga hehehe.
Setelah memesan beberapa menu, pembicaraan dimulai dengan hal-hal yang basi. Penuh kejaiman khas orang Jepang hehehe. Begitu malam semakin larut dan bir mulai aktif menemani mereka (saya minum jus orens), pembicaraan mulai terlihat arah nya. Benar-benar khas Jepang, muter kesana kemari penuh basa-basi barulah mereka menuju sasaran :d. Teman seruangan saya berkata bahwa acara malam itu memiliki satu tema utama, ngegosipin sang pimpinan.
Saya langsung teringat satu adegan dalam drama seri “Kekkon Dekinai Otoko“, dimana 3 orang teman dari si tokoh utama ngumpul di satu kafe hanya dengan tujuan mengeluarkan uneg-uneg tentang si tokoh utama yang eksentrik dan menyebalkan. Saya kira itu cuma di drama, ternyata di kehidupan nyata juga ada. Makanya saya suka drama seri Jepang. Sederhana dan membumi.
Eniwei, satu-satu kolega saya mulai menumpahkan kekesalan terhadap sang pimpinan. Tidak ngerti business sense lah (kantor ini kebetulan ndak bagus keuangannya), tidak punya design sense lah (pantas desain saya ditolak mulu), kerjaan di perusahaan yang lama hanya bermain gitar di ruangan lah (salah satu rekan adalah bawahan di perusahaan terdahulu), cepat marah lah (tapi sama saya ndak brani. beliau pernah bilang sendiri. takut katanya hihi…), dan lah-lah yang lain.
Juga gosip-gosip soal adanya evaluasi dari investor di akhir taun ini untuk menentukan apakah perusahaan ini layak untuk disubsidi lagi, mengingat krisis ekonomi dan perusahaan investor sudah seperti membakar uang tanpa ada pengembalian keuntungan (bakal ada pembantaian nih). Juga gosip keretakan hubungan suami istri dari sang pimpinan, dan lain-lain. Saya jadi merasa nonton acara infotenmen :p.
Malam semakin larut dan pembicaraan semakin panas, ditemani oleh bergelas-gelas bir (dan 2 gelas es teh dan jus orens). Akhirnya acara tumpahan hati pun selesai dan kami mulai berpisah satu dengan yang lain.
Lega juga akhirnya mengetahui bahwa rekan sekerja saya ternyata manusia normal, bukan cyborg atau sejenisnya.
“Kita harus sering-sering nih ngadain kayak gini, kalo sang pimpinan lagi nggak ada”, kata rekan saya dengan wajah berseri seakan beban di pundak nya hilang lenyap ditiup angin musim gugur.
“Uhm…saya pikir-pikir dulu”, sahut saya sambil ngeliat tagihan dan garuk-garuk pipi. 4000 yen tiap orang. Nggak kenyang pula *huhuhu…*
hahaha, welcome to the jungle ko Soy..
iya begitulah kalau ama wong jepun, minumnya yg kuat, makannya kaga.. ga cocok buat perut wong Indo. haha.. Dan iya itu mahalnya jg ga ketulungan.. sekali2 boleh kali ya, kalau tiap minggu.. huhuhu..
mo curhat ajah mahal amat xixixixii….
beruntung ya bisa menginjakkan kaki di negeri orang
aku masih nabung dulu nih…. semoga menyusul ke jepang juga ya…
amien.
ternyata dimana mana sama aja yak, org kalo uda mabuk, menjadi jujur dan terbuka huehueheu
tros org jepun mo di lokasi mana aja, pasti pukul rata yak tagihannya, mo minum bir kek mo minum es teh kek, kapok yuz?
Loh mas koq nga ikyuttt minum bir…. ?? he he he he he…..
@sakuralady & maya: iya..mahal T_T. dompetku pun ikut tersayat-sayat dan mengharu-biru.
@uchie: hehe..bisa dibilang bgitu. tapi aku lebih cenderung ke kerja keras + mujizat :p
iya, ganbatte kudapai.
@d: kalo seminggu sekali sih kapok hueheuue…
@kania: iya gak mau, gak bisa, dan gak bole :p