Sebentar lagi taun 2008 akan segera berakhir. Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang terjadi dan membuat waktu seakan melesat cepat tanpa terasa. Beruntung ada jurnal ini, yang bisa membuat saya bisa mengingat kembali peristiwa-peristiwa kecil yang mungkin nggak akan bisa saya ingat setaun lagi. Lha wong 5 menit yang lalu aja saya udah lupa :p.
Taun 2008 ini mungkin cukup unik, banyak peristiwa yang cukup menggemparkan, yang justru terjadi di akhir-akhir taun. Continue reading →
Biasanya menjelang akhir taun, saya disibukkan dengan persiapan untuk menyambut Natal. Sebenarnya sih pengen juga sekali-sekali nyantai dan jadi penikmat saja. Tapi belum bisa. Karena sumber daya manusia nya terbatas dan juga sifat saya yang selalu ingin menjadi bagian dari sesuatu atau menjadi sesuatu, daripada hanya menikmati. Gatel rasanya :d
Seperti akhir taun yang lalu, kesibukan saya nggak jauh-jauh dari latihan dan latihan. Untuk Natal taun ini, selain mengkoordinasi teman-teman di tim publikasi, saya juga terlibat di penampilan drama. Ini pertama kali nya saya masuk ke dunia peran dan tampil di depan umum. Selama ini saya lebih cenderung berada di balik layar, baik dalam arti kiasan maupun sesungguhnya. Lebih suka menjadi the invisible hand alias dalang hehe.
Terus terang ‘kegatelan’ saya sering mengakibatkan saya pontang-panting menyesuaikan jadwal, tenaga, waktu, dan napas saya supaya hidup tetap berimbang antara kerja, kehidupan sosial, me-time, dan kewajiban saya buat sang Pencipta dan buat keluarga. Selalu gagal sih hehehe. Nggak pernah berimbang. Selalu lebih berat ke kerja dan mengesampingkan (kalo tidak mau dikatakan mengorbankan) yang lain.
Malam belum cukup larut, tetapi suasana di sekitar stasiun Chofu terasa lebih sepi daripada hari-hari lain. Tidak banyak orang yang lalu-lalang. Tidak tercium juga aroma alkohol dari orang-orang yang baru pulang mabuk-mabukan di bar.
Seorang perempuan baru saja keluar dari stasiun, berjalan santai menyusuri trotoar di samping jalan raya yang cukup besar. Tidak banyak orang yang lalu-lalang di trotoar itu. Dia melewati bangunan department store yang lampu-lampunya sudah dipadamkan. Ya, department store itu tutup jam 9 malam. Agak pagi untuk ukuran sebuah tempat belanja.
Perempuan itu meneruskan langkahnya. Melewati sebuah kafe donat yang sudah tidak terlalu ramai pada jam seperti ini. Biasanya kafe donat ini sangat ramai. Terutama di sore hari. Antrian bisa sampai ke teras. Mungkin karena mereka memberikan layanan refill kopi gratis. Cukup membeli satu cangkir kopi dan isinya tidak akan pernah habis. Pasti menyenangkan.