Malam belum cukup larut, tetapi suasana di sekitar stasiun Chofu terasa lebih sepi daripada hari-hari lain. Tidak banyak orang yang lalu-lalang. Tidak tercium juga aroma alkohol dari orang-orang yang baru pulang mabuk-mabukan di bar.
Seorang perempuan baru saja keluar dari stasiun, berjalan santai menyusuri trotoar di samping jalan raya yang cukup besar. Tidak banyak orang yang lalu-lalang di trotoar itu. Dia melewati bangunan department store yang lampu-lampunya sudah dipadamkan. Ya, department store itu tutup jam 9 malam. Agak pagi untuk ukuran sebuah tempat belanja.
Perempuan itu meneruskan langkahnya. Melewati sebuah kafe donat yang sudah tidak terlalu ramai pada jam seperti ini. Biasanya kafe donat ini sangat ramai. Terutama di sore hari. Antrian bisa sampai ke teras. Mungkin karena mereka memberikan layanan refill kopi gratis. Cukup membeli satu cangkir kopi dan isinya tidak akan pernah habis. Pasti menyenangkan.
Sambil terus berjalan, dia mendengar langkah-langkah kaki tidak jauh di belakangnya. Ah, mungkin kebetulan orang itu searah dengannya, katanya menenangkan diri. Dia hampir sampai di tempat ketangkasan yang berada di samping areal parkir sepeda, dimana dia memarkir sepedanya tadi pagi.
Semakin mendekati tempat parkir sepeda, langkah-langkah kaki itu seperti makin dekat. Jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Dia pun mempercepat langkahnya. Sedikit lagi…Entah mengapa tempat parkir itu jadi terasa lebih jauh dari biasanya. Duh…kenapa jalanan sepi sekali, tidak ada orang atau kendaraan yang lewat. Setidaknya itu akan membuat perasaannya lebih tenang.
Suara derap langkah di belakangnya juga seakan bertambah cepat mengikuti irama langkahnya. Perempuan itu memberanikan diri untuk melihat ke belakang. Setidaknya itu akan mengurangi rasa penasarannya. Toh seandainya terjadi sesuatu dengannya, dia bisa mengingat wajah nya dan melapor ke polisi.
Dia menoleh ke belakang. Terlihat olehnya sosok laki-laki yang berjalan tidak jauh di belakangnya. Wajahnya tidak terlihat jelas. Jantungnya semakin berdetak cepat. Cepat-cepat dia memalingkan wajahnya, saat laki-laki itu juga memandangnya. Jalannya pun semakin cepat. Tapi dia memutuskan untuk menoleh sekali lagi, untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang laki-laki itu.
Ah…sekarang dia melihatnya. Laki-laki itu tinggi. Mungkin sekitar 180 sentimeter? Mengenakan jaket warna gelap. Rambutnya dipotong pendek sekali, 5 milimeter. Tentara? Atau kriminal? Tapi ciri-ciri itu masih terlalu umum. Banyak laki-laki seperti itu dan polisi pasti tidak bisa membantu. Dia harus mendapatkan ciri-ciri yang lebih detail.
Sekali lagi dia menoleh ke belakang. Ada yang berkilau di telinga laki-laki itu saat terkena cahaya lampu jalan. Anting? Oke, laki-laki itu tinggi dan ada anting di telinga kirinya. Mungkin itu saja sudah cukup. Dia juga sepertinya sudah mengingat wajah laki-laki itu. Dia pun segera mempercepat langkahnya. Tapi laki-laki di belakangnya terdengar mempercepat langkahnya juga.
Perempuan itu semakin panik dan akhirnya dengan setengah berlari dia menuju tempat parkir sepeda, sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan jarak dengan laki-laki itu menjauh. Dia mulai mengatur napasnya yang memburu. Tapi dia kembali mendengar langkah kaki yang mengikutinya menaiki tangga ke lapangan parkir. Perempuan itu menoleh dan melihat laki-laki yang sama sedang menuju ke arahnya.
Detak jantungnya yang sudah mulai normal, kembali berdetak dengan cepat. Dia pun mulai berlari menaiki tangga ke lapangan parkir. Mudah-mudahan di lapangan parkir masih ada orang, pikirnya dengan napas tersengal-sengal. Begitu tiba di atas, ternyata lapangan parkir itu kosong. Tidak ada siapapun! Dan hanya ada sedikit lampu penerangan yang berfungsi disana.
Perempuan itu mulai ketakutan dan berlari menuju sepedanya. Laki-laki itu sudah semakin mendekatinya, dan ternyata…laki-laki itu berjalan melewatinya. Pheeww. Perempuan itu sedikit lega. Rupanya ketakutannya tidak beralasan. Laki-laki itu kebetulan saja memarkir sepedanya di tempat yang sama dengannya. Dia pun membuka kunci di sepedanya. Dipenuhi rasa penasaran, dia memandang ke arah laki-laki itu. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ternyata laki-laki itu sedang memandang ke arahnya!
Dia tau, dia harus segera meninggalkan tempat itu. Dengan terburu-buru, dia menaiki sepedanya dan mulai mengayuh. Dia sempat menoleh ke arah laki-laki itu, dan ternyata laki-laki itu terlihat menuntun sepedanya dengan tergesa-gesa menuju ke arahnya sambil tetap memandangnya. Ketakutannya semakin memuncak, jantungnya berdetak sangat cepat. Dia terus mengayuh sepedanya walaupun turunan di lapangan parkir itu cukup tajam. Akhirnya dia sampai di jalan raya dan memacu sepedanya dengan kecepatan tinggi, menembus keheningan malam.
————————–
Hari itu saya pulang seperti biasanya, sekitar jam 10 lewat. Mata terasa penat dan pandangan saya sudah mulai tidak berfungsi dengan baik sepertinya. Kemanapun saya memandang, hanya terlihat kode-kode pemrograman PHP. Otak saya juga masi penuh dengan baris-baris perintah “if…else…” yang saya kerjakan di kantor, terus menari-nari di dalam otak. Sepertinya saya sedang mabok PHP :p. Beruntung saya bekerja di Harajuku, dimana cewe-cewe cantik nan bening bin mulus masi banyak bersliweran, jadinya bisa sedikit mencuci mata saya yang lelah hehe.
Sampai di stasiun Chofu, saya liat udah jam 11 kurang sedikit. Rasanya pengen nyungsep (apa ya bahasa indonesianya? ngusruk? :p) ke futon dan menuju dunia mimpi segera. Tapi perut saya lapar. Dan tidak bijaksana kalo tidur dengan perut kosong. Mau mampir makan sepertinya bukan pilihan yang tepat. Akhirnya saya memilih untuk langsung pulang. Saya ingat masi ada sebungkus sayuran untuk sop di dalam kulkas dan sedikit daging.
Saya berjalan menuju tempat parkir sepeda yang berada di samping gedung arena ketangkasan (slot dan pachinko). Areal parkir sepeda ini dimiliki oleh sebuah department store dan sebenarnya disediakan untuk pengunjung mereka. Tapi karena gratis dan seringkali tidak sepenuh tempat parkir lain, saya selalu ‘nitip’ sepeda disana.
Jalanan sepi, tidak seperti biasanya. Kendaraan yang lewat pun nyaris tidak ada. Di depan saya hanya ada seorang cewe yang sepertinya juga menuju ke tempat parkir sepeda. Saya juga tidak memikirkan apa-apa karena sudah lelah. Hanya menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajah saya dan membuat saya tambah ngantuk.
Tiba-tiba cewe di depan saya menoleh ke arah saya. Oh…ternyata wajahnya biasa saja. Sekali lagi cewe itu menoleh ke arah saya. Saya mulai bertanya-tanya. Saya tau kalo saya ini keren *dziggh!!* tapi kayaknya belum setampan Kimutaku deh, sampe-sampe cewe harus menoleh berulang kali. Sepertinya saya tau. Kadang suka gemes dan penasaran aja ama cewe Jepang. Jadi orang kok penakut aja ya.
Akhirnya saya memutuskan untuk membuktikannya. Sekalian refreshing, sebelum saya tertidur sambil berjalan :p. Saya mulai mempercepat langkah dan memperpendek jarak antara saya dengannya. Cewe itu beberapa kali menoleh dan semakin mempercepat langkahnya. Saya ikut mempercepat langkah. Cewe itu sudah mulai setengah berlari. Saya juga berjalan lebih cepat tanpa harus lari. Kan langkah saya panjang-panjang :p.
Sampai di parkiran sepeda, cewe itu masi menoleh ke arah saya. Dia terlihat terburu-buru membuka kunci pengaman sepedanya, saat saya berjalan melalui nya. Saya menuju ke tempat sepeda saya diparkir, dan membuka kunci pengaman sepeda saya. Saya liat cewe itu menaiki sepedanya dan mulai mengayuh sepedanya, sambil tetap memandang ke arah saya.
Saya pun buru-buru menuntun sepeda saya dan berjalan dengan cepat seakan mau mengejar dia. Cewe itu semakin panik dan mengayuh lebih cepat, menuruni lapangan parkir dengan kecepatan tinggi. Padahal turunan nya curam, hampir 45 derajat, dan cukup licin. Kalo tidak berhati-hati dan memiliki ketrampilan dengan rem, dijamin bakal nyungsep (gimana? udah ketemu bahasa indonesianya? :p) ke aspal.
Saya dengan terburu-buru berusaha mengejar. Sesampainya di ujung turunan, saya tidak melihatnya lagi. Jalan raya di bawah, kosong. Cepat sekali dia menghilang, padahal hanya sekian detik jarak waktunya.
Seharusnya dia ikut tim balap sepeda Jepang aja di Olimpiade Beijing kemaren :p
XDD…
aku kira kamu kenal cewek itu…
aku senang baca blog mu…. serasa baca cerpen ^__^
wkakaka,, gw pikir crita ttg pilem horor, ternyata jg kometdy jg:D
Hmm~ tampang kriminil yak,, ntar ta inget2 klo papasan di jalan:p
gila om soyuz, dari web designer skr uda jadi penulis :) long time no see. Uda jadi member yakuza blm ? hehehehe
hahaha…
gw kira siapa tuh….
bikin deg2an bacanya….
u bisa jadi saingan agnes jessica ’si ratu novel indonesia’
lolz
apalagi kalo laki2 itu mukanya rata yah …hiiyyyyyyyyyy :D
hauhauhauaha… keren2..salut ma ko soyuz
jadi ikut tegang mbaca yang bag pertama..eh bagian 2 ternyata cowonya… :D
cocok jadi penulis novel nih ko ;p
wakakaka…iseng amat seh..hahahah…
@uchie: hehehe…makasi ya
@ling2: hahah…ya begitulah gosip2nya :p. iya hati2 lho :p
@mwp: ya gitulah man, tuntutan pekerjaan :d. gimana kabar anda? masi di dunia web?
@winnz: hahah…seru gak?
@maya: nah..kalo mukanya rata, aku juga bakal kabur secepat kilat :d
@nyit2: heheh…masa? ya udah ntar tak jadi penulis ah…
@tedtod: haha…iyo. refreshing hahah..
nyungsep –> jatuh
nyungsep ke aspal –> nyium aspal???? ^~^