Surabaya, sebuah kota yang berada di tepi pantai utara sebelah timur pulau Jawa, dan dulunya merupakan gerbang dari kerajaan Majapahit. Yang dulu nya hanya sebuah desa di tepian suangai Brantas kini menjelma menjadi sebuah kota metropolitan yang masih terus dan tiada hentinya bersolek.
Sebuah kota yang mempunyai karakteristik unik dan terkadang saling berlawanan. Warganya dikenal egaliter, blak-blakan, dan keras; tergambar dari dialek bahasa nya yang bagi daerah lain (yang menggunakan bahasa Jawa), terdengar kasar dan tidak memiliki sopan santun. Tapi di sisi lain, konon warga Surabaya dikenal memiliki tingkat toleransi yang lebih tinggi terhadap perbedaan suku dan agama.
Warga Surabaya juga dikenal bondo nekat, mungkin terbentuk dari filosofi kota ini yang begitu meresap di setiap denyut nadi warga nya, dimana nama Surabaya berasal dari kata “Sura ing Bhaya” yang berarti keberanian menghadapi bahaya. Entahlah apa ini yang terlintas di benak orang saat mengetahui kalo saya adalah “arek suroboyo“. Walaupun secara historis saya bukan arek suroboyo karena tidak lahir disana, tapi kalo disebut arek sulawesi kok rasa nya janggal ya :d

Menyusuri jalanan di kota ini sungguh menimbulkan kembali romantisme masa silam. Hampir setiap sudut kota memiliki cerita-cerita yang tak terlupakan. Gambaran peristiwa-peristiwa masa lalu bermunculan di depan mata seolah sedang menonton sebuah film dokumenter.
Terbayang kembali bagaimana sebagian besar waktu saya dihabiskan di jalan, ngebut dan mengendarai sepeda motor seenak udel saya *untung nya bukan udel orang* hingga berkali-kali dengkul ini mencium aspal dengan mesra nya karena menyerempet atau diserempet mobil akibat cara mengendara sepeda motor yang menggunakan udel saya itu.
Terlintas pula peristiwa saat saya dan seorang teman harus buru-buru membelokkan sepeda motor ke sebuah bioskop terdekat saat menyadari kenapa jalanan sepi dan lengang seakan berada di kota mati. Hanya terlihat pasukan marinir yang dengan gagahnya berpatroli dimana-mana sambil menenteng senjata semi otomatis. Hari itu rupanya ada pertandingan sepak bola dimana para bonek akan berkeliaran.
Saya yakin kami berdua tidak kalah nekatnya dengan bonek-bonek tersebut seandainya harus terjadi adu fisik. Tapi daripada wajah tampan ini jadi gak karuan dikeroyok ratusan orang, mending nonton pilem aja.

Kembali ke Surabaya juga merupakan kesempatan untuk menurunkan laju kecepatan aktivitas saya setelah beradaptasi dengan ritme kehidupan yang serba cepat di megapolitan bernama Tokyo, dimana saya sudah melebur dengan detak aktivitas kota Tokyo dan tanpa disadari telah menjadi cyborg, all work and no rest.
Selain itu cukup melegakan bisa menemui perempuan-perempuan yang tidak hanya cantik tapi padat berisi, setelah sekian lama menjumpai perempuan-perempuan imut tapi rata :p
Perjalanan kembali ke kota tercinta ini sungguh menyenangkan. Kota ini telah berubah banyak. Tidak terasa sudah 3 tahun non-stop saya angkat kaki dari negeri tercinta. Memang orang-orang sering berkata “keren!” atau “enak ya bisa kerja di jepang“. Tapi pendapat-pendapat itu tidak seratus persen akurat, setidaknya buat saya. Tinggal di luar negeri berarti saya harus berjuang ekstra dibandingkan saat di negeri sendiri, dan juga harus selalu siap didiskriminasi karena status pendatang serta ke-bisu-tuli-buta-an saya.
Layaknya orang-orang yang merantau ke negeri orang, selalu ada rasa rindu terhadap kampung halaman, orang tua, adik-adik, teman-teman seperjuangan dulu, dan juga makanan-makanan yang super lezat. Dan kesempatan liburan kali ini tentu tidak saya lewatkan walaupun sangat singkat. Saya sangat menikmati setiap hari yang saya lalui bersama keluarga.
Tetapi seperti halnya mimpi, liburan yang saya nikmati tanpa terasa harus berakhir. Sebuah janji pun terucap saat kaki ini menginjak kabin pesawat yang membawa saya kembali ke Tokyo, “Saya akan kembali…”
hua.. hua… koq aku yg sedih ya hehehe….
aku besok berangkat ke surabaya, ada reuni SMP
SMP ku dulu di Surabaya…
sayang kamu udah balik ke Tokyo ya… kalau ga mungkin sempet ketemu kita
Selamat berjuang lagi di Tokyo ya… jgn lupa untuk selalu ingat pulang ya ^^
whoaaaaa !!! trus makan apa ajah pas pulang kampung :D
@Uchie: heheuue….dulu SMP dimana? Iya next time kita ketemuan :)
@maya: banyak deh pokoknya :p
ayok mlaku-mlaku nang tunjungan, rek! ^^ bonek!