11.13.09

This is the last time – We might as well be strangers – part 1

Otsuki (大月), sebuah kota kecil di pegunungan dengan populasi 29.803 jiwa pada tahun 2008 (sumber: Wikipedia), terletak di prefektur Yamanashi dan berjarak 40 menit dari gunung Fuji, jika mengendarai mobil.

Untuk mencapai Otsuki, ada beberapa alternatif kereta api yang bisa digunakan dari stasiun Shinjuku atau Hachioji. Tentu saja bisa juga menggunakan sepeda, tapi sepertinya kurang bijaksana.

Terdapat dua jalur kereta api yang bisa digunakan. Pertama adalah Chuo Line yang merupakan kereta lokal, dimana kata ‘lokal’ berarti perjalanan akan menempuh waktu cukup lama.

Kedua, dengan Kaiji atau Super Asuza yang merupakan kereta ekspres dan membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapai Otsuki dari stasiun Shinjuku atau 40 menit jika berangkat dari stasiun Hachioji.

Beberapa waktu belakangan ini saya sering mengunjungi kota ini untuk bertemu dengan klien. Terus terang, sangat menyenangkan saat kita bisa mengkombinasikan pekerjaan dengan rekreasi. Semua yang dilakukan terasa lebih mudah dinikmati.

photo of Otsuki

Sebenarnya saya hanya mampir beberapa menit saja di Otsuki. Pertemuan saya dengan klien selalu dilakukan di rumah klien yang harus ditempuh dengan mobil dan membutuhkan waktu kurang lebih 18 menit dari tengah kota, setelah menanjak dan berkelok-kelok di lereng gunung hingga sampai pada satu daerah bernama Asakawa.

Jika anda lantas terbayang sebuah daerah terpencil, maka bayangan itu tidak salah. Sinyal telpon selular belum mencapai Asakawa. Tapi untungnya sudah tersedia koneksi internet pita lebar (broadband) ADSL.

Awal pertemuan kami terjadi sekitar bulan September akhir. Saat itu saya menerima sebuah email yang masuk ke inbox nipponscape.com saya. Isi email itu menceritakan bahwa si pengirim surat adalah seorang wanita yang juga merupakan penulis buku, pengajar dalam bidang penyembuhan alternatif dan berasal dari Skotlandia, bersuamikan orang Jepang yang juga seorang penulis handal serta memiliki keahlian akupunktur.

Mereka berdua tinggal di gunung, di sebuah rumah yang terbuat dari kayu dan sudah berusia 300 tahun (rumahnya lho, bukan mereka). Mereka bercocok tanam dan menikmati makanan dengan sayuran yang berasal dari kebun sendiri. Terdengar menyenangkan, bukan?

Selain itu mereka tinggal bersama 2 ekor kucing dan 6 ekor anjing. Nah yang ini terdengar kurang menyenangkan buat saya. Saya memiliki love-hate relationship yang cukup unik dengan anjing. Saya suka sekali anjing, tapi saya juga takut dengan anjing. Saya ingin sekali memelihara Golden Retriever tapi saya gugup kalau berhadapan dengan anjing.

Hubungan yang aneh.

Eniwei, mereka menceritakan kalau saat ini sedang mempersiapkan sebuah buku yang sudah siap dicetak dalam format Ms. Word. Sayangnya pihak percetakan —sudah pasti— tidak menerima format Word dan menyarankan mereka berdua untuk mencari seorang desainer yang profesional, yang bisa membantu memindahkan tulisan di Word tersebut ke dalam format Adobe Indesign.

Singkat cerita, mereka menemukan website Nipponscape.com dan memutuskan meminta bantuan. Mereka mengatakan hanya memiliki sedikit uang untuk membayar jasa desainer dan juga dalam keadaan desperado karena sebentar lagi akan digelar konferensi pers mengenai peluncuran buku tersebut, tapi buku nya sama sekali belum dibuat.

Saya lantas menghapus email dari mereka. Tentu bukan karena sombong atau tidak peduli. Di Nipponscape, merespon email adalah tugas dari rekan saya. Lagipula sebagai orang asing, saya tidak memiliki kewenangan yang cukup untuk mengambil keputusan. Agak disayangkan memang, di negara semaju ini masih kental aroma diskriminasi.

Seminggu kemudian, saya kembali menerima email dari mereka. Tapi kali ini ditujukan langsung ke email pribadi saya. Dalam email tersebut dituliskan kalau penulis wanita ini berusaha sangat keras untuk bisa mencari info tentang saya. Dalam prosesnya, mereka menemukan banyak website yang membahas tentang desain soyuzno.com yang terbaru *ehem…*. Mereka berdua semakin bertekad untuk menghubungi saya.

Saya memutuskan membalas email mereka. Saya bisa membayangkan bagaimana frustasi nya mereka, tidak bisa mewujudkan impian yang sudah di depan mata. Saya mengatakan akan membantu mereka secara gratis karena tugasnya cukup mudah, memindahkan file berbentuk PDF ke dalam Indesign. Lagipula sepertinya saya sudah cukup lama tidak berbuat baik untuk sesama.

Kemudian email balasan dari mereka pun tiba. Mereka sangat gembira dan seakan-akan hawa kelegaan terpancar keluar dari isi email mereka. Selain itu mereka memuji-muji saya, mengatakan saya baik sekali *ehem…ehem…* dan menyebutkan sepertinya ada yang spesial dengan saya saat membaca profil saya di Nipponscape *uhuk…uhuk…*

Pada awalnya saya berpikir hal itu adalah sekedar puja-puji karena euforia kelegaan saat memperoleh bantuan dari Soyuz, dan gratis. Tapi setelah beberapa kali bertemu, saya menyadari bahwa dugaan saya salah.

Interesting story? Share it to your friends:

  • Facebook
  • Twitter
  • Digg
  • del.icio.us
Comments
 
  1. sakuralady says:

    ko soy, masih di jepun? dah ketemu si talib.. :)
    take care ya..

  2. audrey says:

    hey where’s the ending??? is it an unfinished story??

  3. audrey says:

    sorry just realised it’s only part 1
    so i guess i need to wait the 2nd part

  4. tedy says:

    wah kehidupan ala last samurai :D ditunggu part 2 nya ^^

  5. soyuz says:

    @sakuralady: iya masi. good news kan :d

    @audrey: hehe..

    @tedy: hahahah…iya. ditempa di pegunungan.

Add Yours

Line breaks are converted automatically. Please make sure that you have read the post before posting your thoughts. A valid email is a must but don't worry, it will never be displayed anywhere on this website. It is greatly appriciated if your comment could exceed 3 written lines. Please be polite and thoughtful of others. Comments which are derogatory will be deleted.

Please stay on topic: no name-calling, flaming or trolling. Spam and irrelevant comments will be deleted, your IP will be banned, and any URLs in your comment will be blacklisted.