11.27.09

This is the last time – We might as well be strangers – part 2

Kami sepakat untuk bertemu di rumah mereka. Dengan asumsi bahwa mengerjakan langsung di tempat mereka akan lebih cepat dibandingkan di tempat saya. Lagipula saya berpikir ingin sekali-kali berlibur ke luar kota. Dan ini adalah kesempatan yang luar biasa.

Pada hari yang disepakati, yang ternyata adalah hari dimana typhoon menghantam Tokyo, saya berangkat menuju stasiun Hachioji dan tersangkut disana. Seluruh kereta ke luar Tokyo tidak beroperasi karena takut diterbangkan angin.

Setelah berkomunikasi sejenak, mereka berdua memutuskan untuk turun gunung dan menjemput saya di Hachioji. Karena perjalanan dari rumah mereka membutuhkan waktu 1 jam, saya disarankan untuk jalan-jalan dulu.

Dengan senang hati saya menerima ide tersebut, langsung menuju ke Becks dan memesan satu set burger+fries+salad serta secangkir kopi. Definisi ‘jalan-jalan’ buat saya akan selalu melibatkan makanan.

Setelah menunggu selama 1 jam, akhirnya saya bertemu dengan mereka. Sepasang suami istri yang ramah dan sederhana. Sambutan mereka sungguh luar biasa. Selama dalam perjalanan ke rumah mereka, kami banyak bercerita. Terlihat sekali bagaimana mereka sungguh bersukacita atas kedatangan saya. Hal itu sungguh menyenangkan.

Asakawa, Japan

Diperlukan kurang lebih satu setengah jam untuk mencapai rumah mereka, setelah berkelok sana-sini di lereng gunung. Asakawa benar-benar merupakan sebuah daerah yang indah buat saya. Jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain cukup jauh, sekitar tiga kali lemparan kolor.

Selain itu rumah-rumahnya besar dan terlihat cukup tua. Dan sejauh mata memandang, hanya terlihat bukit-bukit penuh pepohonan dengan daun menguning-mencoklat-memerah khas musim gugur.

Rumah mereka juga luar biasa. Sebuah rumah yang besar dan asri, serta berumur kurang lebih 300 tahun, berada di salah satu sisi lereng bukit. Rumah ini merupakan salah satu rumah yang pertama kali didirikan di daerah tersebut.

Di samping rumah mereka yang besar itu, terdapat sebuah rumah panggung yang sepertinya merupakan gudang dan di kolong rumah nya dipakai untuk menyimpan bongkahan batang pohon yang digunakan sebagai kayu bakar untuk perapian di dalam rumah.

Di sekeliling rumah tersebut merupakan kebun dimana mereka menanam sayur-sayuran dan buah-buahan untuk dikonsumsi sendiri. Sedangkan di belakang rumah mereka merupakan hutan dengan pohon-pohon besar yang menjulang dan sepertinya serem kalo malem.

Asakawa, Japan

Begitu mobil yang kami tumpangi berhenti tepat di depan pintu, saya melihat di balik pintu tersebut muncul beberapa sosok wajah yang cukup saya kenali. Saya mulai tegang. Begitu tuan rumah membuka pintu rumah nya, makhluk yang berada di balik pintu tersebut berhamburan keluar.

Tidak tanggung-tanggung, empat ekor anjing berukuran sedang dan besar langsung menerjang saya. Tiga berwarna coklat dan satu anjing berwarna hitam berlari-lari disekeliling saya sambil mengendus-endus. Selain itu masih ada dua ekor lagi yang berada di dalam rumah.

Glek! Jantung saya berdetak dengan cepatnya, layaknya sedang menikmati malam pertama. Tubuh pun mulai membeku tidak bisa bergerak. Satu anjing mungkin masih bisa saya atasi, tapi kalo empat…tunggu dulu.

Empat ekor anjing yang harusnya lucu-lucu itu, terus mengelilingi saya sambil mengibaskan ekor mereka dengan riang. Tuan rumah mengatakan kalau hal ini sangat jarang terjadi. Makhluk-makhluk lucu tersebut selalu menggonggong tak henti-hentinya kalau ada tamu yang datang. Berarti terbukti kalau saya memang memiliki hubungan yang unik dengan makhluk-makhluk tersebut.

Setelah berhasil mengatasi kegugupan saya, walaupun jantung saya masi berdetak dengan irama ajeb-ajeb, kami langsung menuju ke lantai 2 yang merupakan studio mereka. Kembali saya takjub melihat ruangan di lantai 2 tersebut.

Seluruh lantai 2 tersebut terbuat dari kayu dan atmosfirnya sungguh mendukung untuk produksi kreatif. Cozy dan tenang. Selain itu 3 buah komputer Mac dengan gagahnya bertengger di meja kerja mereka. Sungguh hidup ini terasa sangat indah jika hanya ada Mac di dunia ini.

Kami pun mulai bekerja. Pekerjaan yang tadinya saya perkirakan bisa saya selesaikan dalam waktu 5 menit ternyata meleset…

Interesting story? Share it to your friends:

  • Facebook
  • Twitter
  • Digg
  • del.icio.us
Comments
 
  1. sakuralady says:

    huahuahua.. malam pertama? gubraksss..
    emang malam pertama tubuh membeku? hihihihi..
    part 3 donk. :P

  2. soyuz says:

    gak tau juga ya. belum pernah malam pertama sih kayaknya :p

  3. […] This is the last time – We might as well be strangers – part 2Nov/27/2009 – 2 Comments […]

  4. […] beberapa hari sebelum saya harus angkat kaki dari tempat tinggal saya, sepasang suami istri yang saya bantu beberapa waktu lalu —yang selanjutnya saya sebut saja Om dan Tante— […]

  5. Mei Mei says:

    wahahahahahahahahhaaha badan tinggi menjulang gitu kog takud anjing sih loe tak wahaahahhaahha =)) =)) *ngakaQ keras2x* :P

  6. soyuz says:

    hahahhahahah…*jitak Mei*

    tinggi badan gak ada korelasi dengan anjing kayak ne xD

Add Yours

Line breaks are converted automatically. Please make sure that you have read the post before posting your thoughts. A valid email is a must but don't worry, it will never be displayed anywhere on this website. It is greatly appriciated if your comment could exceed 3 written lines. Please be polite and thoughtful of others. Comments which are derogatory will be deleted.

Please stay on topic: no name-calling, flaming or trolling. Spam and irrelevant comments will be deleted, your IP will be banned, and any URLs in your comment will be blacklisted.