January, 2010
1.18.10

In between days – A dustland fairytale

Hari ini adalah hari pertama turunnya salju di tahun ini. Musim dingin sudah tiba dari November tahun lalu, tapi salju dengan pongahnya tidak sudi menampakkan diri hingga pertengahan Januari ini.

Mataku memandang butiran-butiran putih yang berjatuhan dari langit, sepertinya para dewa sedang mengadakan pesta es serut dan remah-remah es nya jatuh ke bumi.

Aku selalu suka hujan, apalagi hujan salju. Di tempat asalku, salju hanya ada dalam imajinasi. Beruntung aku terlahir penuh imajinasi sehingga saat aku ingin melihat salju, cukup dengan melamun dan duniaku berubah menjadi negeri fantasi yang penuh salju.

Aku ingat bagaimana sedari kecil aku ingin sekali bisa menyentuh salju. Menangkapnya saat ia jatuh. Walaupun aku paham bahwa salju itu tak lebih hanya butiran es, sama dengan yang ada di dalam kulkas.

Makanya aku suka sekali membuka lemari pendingin dan menyentuh bunga-bunga es yang ada di freezer dan ayah selalu memarahiku saat kepalaku sudah setengah masuk ke dalam kulkas.

Continue reading →

1.13.10

Distant noises – Other voices pounding in my broken head

Beberapa bulan yang lalu, atasan saya —si George Clooney— mengajak saya diskusi di sebuah bar (yang berubah menjadi kios bento saat siang hari), tepat di seberang gedung kantor. Ruangan berbentuk setengah segitiga dengan ukuran 2×1 meter itu lebih tepat disebut rumah liliput. Berada didalamnya bisa membuat saya megap-megap seperti ikan lele yang perlu oksigen.

Malam sudah cukup larut sehingga bar yang dwifungsi itu padat dengan manusia yang melepas kepenatan setelah seharian bekerja. Si Clooney langsung memesan bir untuknya dan Coca Cola buat saya. Sang bartender —yang ternyata cantik juga— terlihat ragu dan mengkonfirmasi apa benar kami memesan cola. Tampang sangar kok minumnya cola, begitu mungkin pikirnya.

Isi pembicaraan kami berdua kurang lebih mengenai masa depan saya di perusahaan, terutama sesudah berakhirnya masa probation saya. Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya disepakati bahwa kami tidak bisa bersama lagi dan harus memilih jalan masing-masing.

Perbedaan visi dan tidak tercapainya ekspektasi dari kedua belah pihak. Dua hal itu yang menjadi alasan utama perpisahan antara perusahaan dan saya.

Continue reading →