1.13.10

Distant noises – Other voices pounding in my broken head

Beberapa bulan yang lalu, atasan saya —si George Clooney— mengajak saya diskusi di sebuah bar (yang berubah menjadi kios bento saat siang hari), tepat di seberang gedung kantor. Ruangan berbentuk setengah segitiga dengan ukuran 2×1 meter itu lebih tepat disebut rumah liliput. Berada didalamnya bisa membuat saya megap-megap seperti ikan lele yang perlu oksigen.

Malam sudah cukup larut sehingga bar yang dwifungsi itu padat dengan manusia yang melepas kepenatan setelah seharian bekerja. Si Clooney langsung memesan bir untuknya dan Coca Cola buat saya. Sang bartender —yang ternyata cantik juga— terlihat ragu dan mengkonfirmasi apa benar kami memesan cola. Tampang sangar kok minumnya cola, begitu mungkin pikirnya.

Isi pembicaraan kami berdua kurang lebih mengenai masa depan saya di perusahaan, terutama sesudah berakhirnya masa probation saya. Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya disepakati bahwa kami tidak bisa bersama lagi dan harus memilih jalan masing-masing.

Perbedaan visi dan tidak tercapainya ekspektasi dari kedua belah pihak. Dua hal itu yang menjadi alasan utama perpisahan antara perusahaan dan saya.

Di satu sisi, keputusan itu memberi dampak yang membuat piaraan di perut resah dan mengadakan aksi demo. Membayangkan bahwa ada kemungkinan saya tidak akan bisa makan di resto all you can eat sesering biasanya, karena dompet bakal lebih cepat menipis.

Di sisi lain, hati kecil ini melonjak kegirangan karena tidak perlu lagi merasakan yang namanya terpaksa bangun, terpaksa berangkat, terpaksa kerja, terpaksa lembur. Hanya dua hal yang tidak menimbulkan rasa terpaksa—saat pulang kantor dan saat memandang perempuan-perempuan cantik yang lalu-lalang di Harajuku.

Blue sky at HachiojiPada bulan berikutnya, dimulailah proses mencari pekerjaan lagi. Seperti yang sudah-sudah, mencari lowongan desainer yang tidak perlu menguasai bahasa Jepang merupakan hal yang luar biasa sulit. Mengutip kata almarhum Asmuni, “Sebuah hil yang mustahal.”

Tapi herannya, saya tidak pernah kapok untuk malas belajar bahasa Jepang. Padahal setiap taun selalu mengalami siklus ‘berhenti kerja-nganggur-kelaparan-dapet kerja lagi‘ yang seakan menjadi ritual tahunan.

Pelajaran moral nomer satu: Kalau berniat menetap dan bekerja di negara yang bahasanya bukan Inggris, kuasai 100% bahasa negara tersebut. Terutama jika di negara itu makhluk perempuannya cantik, imut, dan menggemaskan.

Dengan menguasai sepenuhnya bahasa tersebut, kita bisa menikmati hidup senikmat-nikmatnya—yang dalam bahasa londo nya disebut ‘live our life to the fullest‘. Bukan berarti saya tidak menikmati kehidupan disini. Sungguh, saya sangat menikmati setiap detiknya. Hanya saja terasa ada yang kurang. Seperti makan gado-gado tanpa krupuk. Atau ikan gurame goreng tanpa sambel terasi. Tetap enak tanpa krupuk atau sambel, tapi kurang ajib.

Eniwe, setelah beberapa waktu berlalu, semua celana saya mulai kedodoran dan saya masih belum ada kerjaan penuh waktu (fulltime). Saat itulah saya memutuskan untuk mengubah strategi sebelum saya terpaksa harus berganti mengenakan sarung, karena tidak ada celana yang pas. Pengalaman dan ketrampilan dalam menyusun strategi digital untuk website membuat otak saya otomatis bekerja dan menganalisa semua kemungkinan yang bisa membuat saya sehat berisi dan piaraan di perut tersenyum kembali.

Menjadi fulltime freelance jelas bukan pilihan yang bijak, walaupun sangat menggiurkan. Kendala bahasa (lagi) menjadi penyebab utama nya. Ditambah dengan status orang asing, tantangan yang saya hadapi akan lebih berat. Menunggu hingga berakhirnya krisis ekonomi juga jelas-jelas merupakan langkah yang bodoh.

Akhirnya saya mengambil keputusan untuk pindah ke negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional. Walaupun tidak was-wes-wos seperti Eminem yang lagi kepedesan, tapi saya cukup pede dengan kemampuan bahasa Inggris saya.

Kenapa bukan memilih pulang ke Indonesia? Saya sendiri belum menemukan jawabannya. Mudah-mudahan bukan karena nasionalisme saya telah luntur.

Pilihan pertama sudah dapat dipastikan, New York atau London. Dua kota tempat mangkalnya pemain-pemain industri periklanan dunia. Membayangkan berada di tengah hiruk pikuk kawasan Madison Avenue saja sudah bisa membuat bulu kaki saya bergidik.

Tetapi saat ngobrol lewat telpon dengan seorang teman baik dan sekaligus guru flash saya, Ferry Halim, muncul dua negara yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Norwegia dan Swedia.

Imajinasi pun melayang ke ranah Skandinavia, berjalan-jalan di dataran berbukit-bukit dengan bangunan peninggalan jaman Medieval. Sungguh menerbitkan air liur *slurp!*. Ditambah lagi dengan berkumpulnya perusahaan desain favorit saya seperti North Kingdom, Perfect Fools, dan Fantasy Interactive, menjadikan Swedia sebuah pilihan yang layak dipertimbangkan.

Tapi saya harus menghapus air liur yang sudah sempat jatuh beberapa tetes. Swedia dan Norwegia tidak menggunakan bahasa Inggris. Belajar bahasa lagi, no way!

Akhirnya saya dengan tegas memutuskan untuk membuang ego saya jauh-jauh —yang awalnya saya kira tidak saya miliki— dan memilih negara yang menggunakan bahasa Inggris, kalau bisa lokasinya dekat dengan Indonesia. Pertimbangannya, saya bisa lebih leluasa untuk mudik dan bertemu orang tua serta adik-adik saya di Surabaya.

Singkat cerita, saya mendapatkan pekerjaan di negara lain dan semua persiapan sudah saya lakukan, termasuk persiapan mental untuk meninggalkan teman spesial, tercinta, dan teman-teman yang lain. Lantas otak pun kembali bekerja dan menyusun strategi-strategi jangka pendek hingga jangka panjang. Semua rencana terlihat sangat sempurna. Tinggal dijalani saja.

Tapi disaat itu pula, satu persatu rencana dan strategi yang sudah disusun mulai berguguran seakan terkena butterfly effect.

Shinjuku West at night

Hal itu sempat membuat saya bertanya-tanya dan protes ke Tuhan. Rencana saya oke kok. Saya bisa memaksimalkan potensi tanpa dibatasi hal-hal bodoh seperti ketidakmampuan bahasa, bisa lebih sering bertemu ortu dan adik-adik, dan lagipula perempuan-perempuan Jepang akan merasa aman. Semua senang kan?

Saya terus mencoba mereka-reka apa sebenarnya rencana besarnya. Tapi semuanya berujung pada tanda tanya segede gaban.

Setelah mulai dijalani, barulah perlahan tersingkap maksud sebenarnya. Dan memang saya akui jauh lebih sempurna dari strategi-strategi saya *ya iya donk, makanya disebut Tuhan, bukan Soyuz*.

Pelajaran moral nomer dua: Meskipun engkau seorang digital strategist atau strategic planner yang handal jaya, jangan pernah mencoba mengerti strategiNya. Lebih baik diikuti saja deh daripada pusing.

Salah satu hal yang mulai tersingkap adalah tugas saya ternyata belum selesai di negara ini. Rupanya masih ada yang memerlukan kehadiran dan bantuan saya, baik secara profesional maupun personal.

Jadinya, ditempatkanlah saya di Otsuki untuk membantu sepasang suami istri yang sedang berjuang mewujudkan mimpi dan ambisi mereka.

Sepertinya 2010 ini akan menjadi tahun yang menarik.

Interesting story? Share it to your friends:

  • Facebook
  • Twitter
  • Digg
  • del.icio.us
Comments
 
  1. Kania says:

    Sangat kereeeeeeeeeeeeennnnn……… Tapi tetep khan Februari pulkam qeqeeqeeq……

  2. Uchie says:

    wong suroboyo toh….
    jangan2 malah dikontrak panjang lho….
    nikmati aja dulu, Jepang belum mau ngelepasmu hehehe….

  3. soyuz says:

    @kania: heheheh…

    @uchie: iya wong suroboyo :d
    iya ya, jangan2 memang belum mau melepasku nih hueheuhhe…thanks ya.

  4. tedy says:

    inspired!! setelah semalam menjadi lesu karna susah tidur -_- sekarang menjadi percaya diri untuk tidur nyenyak lagi :)

Add Yours

Line breaks are converted automatically. Please make sure that you have read the post before posting your thoughts. A valid email is a must but don't worry, it will never be displayed anywhere on this website. It is greatly appriciated if your comment could exceed 3 written lines. Please be polite and thoughtful of others. Comments which are derogatory will be deleted.

Please stay on topic: no name-calling, flaming or trolling. Spam and irrelevant comments will be deleted, your IP will be banned, and any URLs in your comment will be blacklisted.