2.11.10

Final sound – Midnight in a perfect world

Bulan November kemarin saat saya seharusnya meninggalkan Jepang, saya jadinya ‘hanya’ meninggalkan Tokyo dengan gregetan karena semua rencana yang sudah saya susun dengan indahnya jadi berantakan.

Tepat beberapa hari sebelum saya harus angkat kaki dari tempat tinggal saya, sepasang suami istri yang saya bantu beberapa waktu lalu —yang selanjutnya saya sebut saja Om dan Tante— menyelamatkan saya di detik-detik terakhir.

Perusahaan yang sedianya berminat memperkerjakan saya, entah kenapa menjadi lambat dalam menindaklanjuti proses kepindahan saya. Padahal saya sudah menyetop kontrak apartemen dan tidak mungkin untuk mengubah keputusan tersebut. Butuh uang (sangat banyak) dan waktu. Dua hal yang dari dulu tidak pernah saya miliki.

Makanya, saat Om dan Tante memberikan penawaran yang menggiurkan, saya langsung menyanggupi. Daripada nanti jadi gelandangan tampan di Jepang.

Selama tinggal bersama mereka, banyak hal-hal menarik yang terjadi dan saya juga mendapatkan banyak sekali pelajaran yang bermanfaat. Hal-hal yang menarik itu berupa kejadian-kejadian kecil tapi selalu membuat saya terpukau sampai kadang-kadang ternganga hingga rongga mulut menjadi kering.

Di minggu pertama saya tinggal disana, saya melihat seekor kijang berada di tengah jalan. Saat itu sudah lewat tengah malam ketika kami kembali dari suatu tempat. Beberapa kilometer mendekati rumah, sesosok kijang jantan besar tiba-tiba saja muncul entah dari mana. Beruntung saat itu kami tidak ngebut.

A view of AsakawaKijang itu berdiri gagah dengan tanduknya yang besar dan kokoh. Memandang kami sejenak, kemudian meloncat ke balik rerimbunan pohon di sisi jalan. Saya cuma bisa menganga. Untung di pegunungan tidak ada lalat *atau ada ya?*.

Saya langsung teringat salah satu adegan dalam salah satu episode film Harry Potter *saya lupa yang mana*; di mana saat Harry sedang bertahan mati-matian melindungi Sirius Black dan dirinya dari sedotan Dementor, dari seberang danau muncul sesosok kijang yang sekujur tubuhnya mengeluarkan cahaya dari rapalan Expecto Patronum yang dahsyat. Harry sangat percaya bahwa kijang itu penjelmaan ayahnya yang datang membantu.

Sebagai fans berat Harry Potter, Kania pasti bisa membantu mengingatkan di episode yang manakah itu :p.

Di minggu kedua, saya berkesempatan melihat monyet. Kali ini di siang bolong, saat kami sedang dalam perjalanan menuju tempat calon klien. Mobil kami harus berhenti saat serombongan monyet dalam jumlah cukup banyak —besar dan kecil— menyeberang dari hutan di sisi jalan sebelah kanan ke hutan di sisi jalan sebelah kiri. Mereka bermain-main sejenak di pepohonan sebelum menghilang ke dalam hutan.

Kali ini saya teringat Indonesia. Bukan! Bukan orangnya lho, tapi momen nya. Saya teringat saat terjadi demo atau sepakbola, jalanan selalu macet karena para pendemo atau pendukung kesebelasan tertentu sedang lewat dan kendaraan harus berhenti daripada babak belur dihajar massa.

Pada minggu ketiga, saya melihat bintang jatuh. Saat itu sudah lewat tengah malam dan saya baru selesai kerja. Salah satu hal yang menyenangkan dari tinggal di pegunungan yang jauh dari kota adalah langit yang bersih. Saya cukup keluar rumah dan mendongak, dan di atas sana puluhan bintang bersinar dengan indahnya di langit yang tak berawan. Bahkan kadang saya bisa melihat rasi bintang yang saya lupa namanya.

Saat bintang jatuh itu lewat, saya cuma bisa ternganga kembali. Sama sekali tidak terpikir sedikitpun untuk make a wish. Terus terang saraf motorik saya agak payah kalau berhadapan dengan reaksi-reaksi spontan.

Di minggu keempat, saya beruntung dapat melihat seekor rubah yang sedang menyeberang jalan. Saat itu sudah tengah malam juga, kurang lebih sama dengan waktu di saat saya melihat kijang. Rupanya hewan-hewan itu suka menyeberang jalan malam-malam, padahal jalanan sangat gelap. Kebiasaan yang buruk. Saya pernah menemukan jasad kucing yang dibiarkan tergeletak di pinggir jalan. Kucing itu rupanya menjadi korban tabrak lari dari pengemudi yang ugal-ugalan.

Di minggu-minggu berikutnya saya kembali melihat kijang, rubah, dan juga monyet. Tinggal satu makhluk yang saya belum lihat hingga tulisan ini dibuat. Beruang. Tapi melihat banyaknya hal-hal luar biasa yang sudah terjadi, kemungkinan besar saya akan melihatnya suatu saat nanti.

Interesting story? Share it to your friends:

  • Facebook
  • Twitter
  • Digg
  • del.icio.us
Comments
 
  1. Uchie says:

    Soyuz…. asyik banget ya ternyata….
    poto2 pedesaannya dong…. hehehe…

  2. maya says:

    yang jelas disana tengah malam, gada tukang nasi goreng/mie tek tek yang lewat yah :p hehehhe

  3. Kania says:

    Kejadian itu ada di Buku ke-3 : Harry Potter and the Prisoner of Azkaban……

    Wakakakaka….lucu amat yah. Btw, masnya…cerita2 u/ liburan di Indonesia-nya mana ?? :D

  4. Mei Mei says:

    bused deh..uda kayak tinggal di kebon binatang. byk amet yg lewat -__-;

  5. soyuz says:

    @uchie: hehehe…nanti kufoto.

    @maya: nah itu salah satu yg aku kangeni :p

    @nia: hehe..emang kania potter sejati!
    cerita liburannya nanti, kalo gak males heheh

    @mei: qeqeqeqe…ya gitulah kalo tinggal di hutan.

Add Yours

Line breaks are converted automatically. Please make sure that you have read the post before posting your thoughts. A valid email is a must but don't worry, it will never be displayed anywhere on this website. It is greatly appriciated if your comment could exceed 3 written lines. Please be polite and thoughtful of others. Comments which are derogatory will be deleted.

Please stay on topic: no name-calling, flaming or trolling. Spam and irrelevant comments will be deleted, your IP will be banned, and any URLs in your comment will be blacklisted.