Tahun 2006, tepat di bulan ini, saya menjejakkan kaki pertama kali di Jepang. Pengalaman pertama tersebut tidak akan pernah bisa dilupakan. Dengan penuh keyakinan dan jumawa, saya bertekad untuk menaklukkan negeri sakura ini. Tekad tersebut terdengar wajar andai saja diucapkan di negara lain, sayangnya tidak berlaku di negara ini.
Saat itu saya belum tau bagaimana susahnya melawan resistansi atau penolakan terhadap orang asing yang bisu-buta-tuli bahasa Jepang. Tapi dasar saya yang selalu pede jaya dan terkesan arogan, kendala bahasa bukan masalah bagi saya saat itu. Dengan bantuan mimik serta gesture, seharusnya bahasa tarzan akan bisa dipahami dengan mudah. Tapi kenyataannya tidak semudah itu.
Saya juga kurang tau kenapa Jepang bagaikan magnet bagi banyak orang, bagaikan bunga ranum dan segar yang selalu dikelilingi kupu-kupu. Selama berada di negara ini, saya menerima cukup banyak email dari orang-orang yang begitu cintanya terhadap negara Jepang, sampai saya suka geleng-geleng sendiri tanpa bantuan ekstasi.
Dulu, saat masih bekerja di Tokyo, saya sempat terpikir dan berkeinginan untuk merasakan Jepang yang sesungguhnya, yang lebih tradisional dan membumi. Kayak di pilem Oshin gitu lho. Tokyo jelas-jelas tidak ada bedanya dengan kota-kota besar lainnya. Sebagai generasi yang hidup di kota-kota megapolitan, setelah beberapa bulan Tokyo menjadi biasa saja bagi saya.
Saya ingin merasakan kehidupan biasa yang jauh dari gaya hidup metropolitan. Yang ndeso kalo perlu, dimana kalau ke kantor harus melalui hamparan sawah di kiri-kanan jalan. Atau menunggang kerbau melewati pematang sawah sambil updet status di facebook atau twitter saat menuju ke stasiun. Atau saat sore hari bermain-main di pantai sambil mengunggah (upload) foto pakai iPhone.