4.14.10

Utopia parkway – Yet the wind whispers ‘hello’ when it blows

Dulu, saat masih bekerja di Tokyo, saya sempat terpikir dan berkeinginan untuk merasakan Jepang yang sesungguhnya, yang lebih tradisional dan membumi. Kayak di pilem Oshin gitu lho. Tokyo jelas-jelas tidak ada bedanya dengan kota-kota besar lainnya. Sebagai generasi yang hidup di kota-kota megapolitan, setelah beberapa bulan Tokyo menjadi biasa saja bagi saya.

Saya ingin merasakan kehidupan biasa yang jauh dari gaya hidup metropolitan. Yang ndeso kalo perlu, dimana kalau ke kantor harus melalui hamparan sawah di kiri-kanan jalan. Atau menunggang kerbau melewati pematang sawah sambil updet status di facebook atau twitter saat menuju ke stasiun. Atau saat sore hari bermain-main di pantai sambil mengunggah (upload) foto pakai iPhone.

Kalau sering membaca blog ini pasti ingat saya beberapa kali menulis kalimat ‘be careful of what you wish for’ (kalau belum pernah baca, monggo lho disimak cerita saya satu persatu di arsip *promosi :p*). Akhirnya sekali lagi saya memperoleh apa yang saya inginkan. Merasakan kehidupan Jepang yang ‘biasa saja’ dan sederhana, jauh dari gemerlap ibukota.

Walaupun seandainya saya boleh protes ke Tuhan, saya ndak suka prosesnya. Harus jadi pengangguran, celana kedodoran, hingga hutang dimana-mana dulu sebelum tiba di tempat ini. Tapi setidaknya, saya bisa mengalami hal-hal yang luar biasa.

house in the hill

Hampir semuanya sesuai dengan apa yang saya bayangkan. Setiap ke kantor (studio), saya pasti melewati hamparan-hamparan sawah di salah satu sisi jalan, dan deretan pohon pinus atau bukit-bukit yang berada di sisi jalan yang lain. Yang berbeda hanyalah moda transportasi nya. Bukan menunggang kerbau, tapi mobil. Bukan melewati pematang sawah, melainkan jalanan aspal yang mulus.

Selain itu, saya juga sebenarnya lebih suka daerah pantai dibanding gunung. Saya anak pantai *ceilee..anak pantai*. Jika dihadapkan pada pilihan hiking atau ke pantai, sudah pasti saya akan pilih ke pantai.

Tapi daerah pegunungan juga menarik sebenarnya. Sejuk dan hijau serta kaya dengan beraneka satwa. Sejak berada disini, saya jadi lebih menghargai alam dan ciptaan lain di luar manusia. Kadang saya suka lupa; mendekatkan diri ke Tuhan tapi tidak peduli dengan ciptaanNya yang lain, terutama yang non manusia.

Berada di sini malah membuat saya lebih dekat ke sang Pencipta dibandingkan saat di Tokyo, dimana saya rajin beribadah setiap minggu. Tentu bukan karena jarak dari gunung ke surga lebih dekat.

Yang pasti saya lebih bisa mengontrol keinginan untuk mencet serangga yang banyak berlalu lalang di dalam studio dan kebun Om dan Tante. Semua serangga hidup tenteram dan panjang umur.

Tinggal di tempat ini membuat saya seakan sedang berobat. Atau sedang bertapa layaknya di pilem-pilem silat. Memulihkan tenaga fisik dan mental. Menyenangkan.

Selain itu saya juga sembuh dari trauma terhadap anjing. Saya bisa berteman akrab dengan 6 anjing yang mereka miliki. Walaupun saya yakin banget akan tetap gemetaran kalau berhadapan dengan Doberman atau Rottweiler segede anak gajah.

Semenjak pindah dari Tokyo, saya ditempatkan di sebuah rumah tua bertingkat dua di kota Otsuki setelah sebulan tinggal bersama mereka. Benar-benar rumah, bukan flat atau apartemen layaknya di Tokyo.

Lantai dua terdiri dari 6 buah kamar kos yang berantakan, penuh dengan barang-barang. Saya dengar dulunya lantai ini memang disewakan sebagai kos-kosan. Seandainya saya pemilik rumah ini, pasti saya perbaiki dan manfaatkan menjadi kamar kos putri :p.

Letak rumah ini termasuk cukup strategis. Sekali kepeleset, saya akan tiba di gedung sekolah SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Bayangkan brapa banyak cewe-cewe berkeliaran saat bubaran sekolah atau kuliah :p

Delapan kali tersandung, saya akan tiba di sebuah department store. Dua puluh lima kali terpelanting, saya tiba di stasiun kereta api. Saya bilang ‘cukup’ strategis karena selain tiga fasilitas tersebut, semuanya jauh bok!

Misalnya saja ke McDonald yang membutuhkan lebih dari dua ratus jungkir balik, yang saya rasa bukannya membuat saya sampai ke tujuan, tapi ke rumah sakit karena otak sungsang gara-gara kebanyakan jungkir balik.

Begitu pula dengan fasilitas ATM. Butuh ratusan koprol hanya untuk menarik uang. Untungnya (atau sialnya?) saya tidak pernah punya uang sejak bekerja dengan Om dan Tante. Jasa saya ditukar dengan fasilitas tempat tinggal dan makan.

Ngomong-ngomong soal makan, Om dan Tante —terutama Om, sering kuatir kalau saya kelaparan mengingat postur tubuh saya yang menjulang, yang mana logikanya tempat penyimpanan makanan saya tentu lebih panjang dari para muggle.

Pada akhirnya mereka selalu membuat makanan dengan porsi spesial dengan intensitas cukup sering; yang membuat perut saya sejahtera dan maju tak gentar. Sampai-sampai saya hampir tidak bisa melihat ujung jempol kaki saya sendiri.

Dalam hal bekerja pun tidak seperti pekerjaan pada umumnya yang memiliki jam kerja teratur. Misalnya saja, di saat hari cerah dan hangat, kami berhenti bekerja dan keluar ke kebun *kayaknya lebih cocok disebut hutan* serta memanen buah kiwi atau sayur-mayur yang nantinya akan diolah oleh Om menjadi makanan yang lezat nan sehat.

Atau hanya sekedar berjalan-jalan di kebun sambil menikmati hamparan pemandangan alam di bukit-bukit sekitar, sambil ditemani 6 ekor anjing. Atau kami akan piknik, menikmati sarapan pagi di kebun seperti yang kami lakukan kemarin siang *lho, sarapan kok siang?*

Di hari cerah yang lain, saya diajak ke samping rumah utama dan diajari membelah bongkahan pohon yang akan digunakan untuk perapian saat musim dingin. Butuh tiga hari bagi saya untuk bisa membelah sebongkah batangan pohon. Ternyata tidak semudah yang dikira.

Saya harus menggoyang pinggul sedemikian rupa saat mengayunkan kapak sehingga tenaga yang berada di ujung kaki bergerak menuju ujung kapak. Mirip teknik membanting saat saya belajar Jujitsu semasa kuliah. Mungkin hal ini —goyang-menggoyang pinggul— dianggap mudah oleh penyanyi-penyanyi dangdut yang punya jurus ngebor, ngecor, dan bermacam-macam jurus ala tukang bangunan itu.

Saya merasa benar-benar seperti berada di pilem-pilem silat. Sebelum diajari ilmu kanuragan, harus disiksa fisik terlebih dahulu. Yang biasanya memegang laptop, kali ini harus menjinjing kapak dan sekop.

Sekop ini saya gunakan saat terjadi badai salju beberapa waktu yang lalu. Salju turun begitu derasnya hingga saat keesokan harinya seluruh jalan ditutupi es setebal hampir 30 senti.

Jadinya Om dan saya, beserta warga-warga lain di bukit tersebut melakukan kerja bakti membersihkan jalan dari salju. Traktor pembersih salju dari pemerintah daerah hanya membersihkan sampai setengah bukit saja, sedangkan kantor/tempat tinggal Om dan Tante lebih ke atas lagi. Kerja bakti itu lumayan membuat saya muak dengan salju, yang sebelumnya saya gila-gilai itu.

Picture of Mt Fuji

Selain itu, setiap beberapa kali dalam seminggu, kami akan mengunjungi ruko milik Tante yang berada di sebuah kota wisata yang bernama Fujiyoshida. Kota ini merupakan salah satu ‘pintu gerbang’ menuju gunung Fuji, dengan perkiraan 9 juta wisatawan lokal dan mancanegara setiap tahunnya yang berkunjung ke kota ini. Tidak heran banyak sekali cewe-cewe bening disana, melebihi kota tempat tinggal saya.

Kami biasanya selalu melalui dan mengitari danau Kawaguchiko, salah satu dari lima danau yang berada di sekitar gunung Fuji. Senang sekali melihat pemandangan di danau; mendengar gemericik riak-riak ombak yang ditimbulkan oleh angin, melihat burung rajawali terbang berputar-putar di atas danau, bebek-bebek yang berenang kesana kemari.

Saya sangat beruntung bisa memandang gunung Fuji dan mengunjungi danau berulang-ulang layaknya rutinitas, dimana mungkin bagi orang Jepang sendiri termasuk sesuatu yang mewah.

Saya juga sempat merasakan ikut membongkar muatan buku-buku Tante di bea cukai Jepang. Juga bersama Om memasukkan 500-an selebaran promosi ke dalam kotak pos di rumah-rumah yang berada di area Fujikawaguchiko sampai digonggongi dan dikejar anjing yang segede anak kerbau. Saya jadi kasian dengan Pak Pos.

Saya cukup yakin tidak banyak desainer yang bisa merasakan proses dari mendesain hingga mendistribusikan hasil desainnya seperti yang saya alami ini.

Sepertinya saya menikmati gaya hidup saya saat ini, terlepas dari minimnya (hampir tidak ada) uang yang saya miliki dan terputusnya hubungan dengan teman-teman saya di Tokyo. Buktinya, berubahnya four pecs di perut saya menjadi satu buntelan kudanil montok *sigh*

Interesting story? Share it to your friends:

  • Facebook
  • Twitter
  • Digg
  • del.icio.us
Comments
 
  1. Mei Mei says:

    wah…membumi skali kao skarank tak hahahaha :D tapi kayaknya elo enjoy yakkk :D bagus deh kekeke
    tapi beneran ga ada bayaran sepersenpun? sadis jg ya whhahaha
    jadi dikau dapet duit ne darimane tak? :D

    poto gunung fuji ne bagus yo…kapan bisa kesana T_T~

  2. soyuz says:

    weks…hayaii xD

    iya gak ada bayarannya. gw dpet duitnya dari orderan luar kantor.

    ho oh. minta misoa dong ke fuji, kan udah dihadiahi adiknya yumi-chan xD

  3. Mei Mei says:

    maka ne gue bilank pertamax di fb :P kkakakakka untung masi ada orderan luar kantor ya :d tapi at least naga di perut elo subur dan sehat tak xixiixxi

    yahhh justru tambah adik, makin ga bisa kemana2 gue hahhaha :P musti nunggu smuanya gede dulu..huhu

  4. uchie kamenashi says:

    sepertinya hidupmu sekarang damai sejahtera ya soyuz….
    dari sekian banyak cewek2 di sana, ga ada yg nyantol tuh? sapa tau nemu jodoh n bisa tinggal di sana deh… hehehehe…

Add Yours

Line breaks are converted automatically. Please make sure that you have read the post before posting your thoughts. A valid email is a must but don't worry, it will never be displayed anywhere on this website. It is greatly appriciated if your comment could exceed 3 written lines. Please be polite and thoughtful of others. Comments which are derogatory will be deleted.

Please stay on topic: no name-calling, flaming or trolling. Spam and irrelevant comments will be deleted, your IP will be banned, and any URLs in your comment will be blacklisted.