4.17.10

When the sun goes down – It’s time to go our separate ways

Tahun 2006, tepat di bulan ini, saya menjejakkan kaki pertama kali di Jepang. Pengalaman pertama tersebut tidak akan pernah bisa dilupakan. Dengan penuh keyakinan dan jumawa, saya bertekad untuk menaklukkan negeri sakura ini. Tekad tersebut terdengar wajar andai saja diucapkan di negara lain, sayangnya tidak berlaku di negara ini.

Saat itu saya belum tau bagaimana susahnya melawan resistansi atau penolakan terhadap orang asing yang bisu-buta-tuli bahasa Jepang. Tapi dasar saya yang selalu pede jaya dan terkesan arogan, kendala bahasa bukan masalah bagi saya saat itu. Dengan bantuan mimik serta gesture, seharusnya bahasa tarzan akan bisa dipahami dengan mudah. Tapi kenyataannya tidak semudah itu.

Saya juga kurang tau kenapa Jepang bagaikan magnet bagi banyak orang, bagaikan bunga ranum dan segar yang selalu dikelilingi kupu-kupu. Selama berada di negara ini, saya menerima cukup banyak email dari orang-orang yang begitu cintanya terhadap negara Jepang, sampai saya suka geleng-geleng sendiri tanpa bantuan ekstasi.

Saya jadi tau gimana rasanya menjadi selebriti. Saya pernah menerima email dari desainer yang ada di New York dan sangat ingin bekerja di Tokyo. Begitu juga dengan dua orang mahasiswa desain grafis di Amsterdam yang minta bantuan dicarikan tempat magang. Sayapun mereferensikan biro iklan favorit saya, Wieden + Kennedy.

Selain itu ada juga musisi amatir dari Swedia yang minta diperkenalkan dengan musisi atau orang-orang yang bekerja dalam dunia entertainment di Tokyo. Nah yang ini dengan menyesal saya tolak karena saya tidak ada koneksi ke dunia entertainment.

Disamping email-email dari para bule tersebut, banyak pula dari negeri sendiri. Semuanya dalam bentuk ajakan berteman di Facebook. Saya sampai sering tidak ingat siapa mereka saat melihat-lihat daftar teman atau saat membaca status-status di Facebook saya.

Shinjuku at nightSeiring bertambahnya waktu, saya mulai bisa membaur dan menjadi bagian dari masyarakat. Dalam hal pekerjaan, sepertinya saya sudah seperti berada di negeri sendiri. Kehilangan atau berganti pekerjaan setiap tahun. Teman-teman yang saya kenal disini, dari saat pertama saya tiba hingga saat saya menulis artikel ini, masih bekerja di tempat yang sama.

Walopun rasanya agak aneh kalau saya syukuri, tapi pengalaman-pengalaman kehilangan pekerjaan dan turun kasta tersebut sungguh bermakna dan susah dilupakan. Saya cukup yakin, seandainya saya makmur riang gembira seperti rekan-rekan saya yang lain, mungkin saya tidak akan mendapat kesempatan untuk mengalami hal-hal beraneka-ragam itu.

Tapi kalau mau jujur, saya lebih memilih seperti rekan-rekan saya saja. Banyak uang, bisa menikmati hidup di negara yang luar biasa indah ini, serta menabung untuk masa depan.

Saya kadang berpikir, dengan kejadian-kejadian yang saya alami ini sepertinya kok disengaja supaya saya angkat kaki dari Jepang. Pede jaya lagi :p. Dimulai dari tempat kerja pertama yang bergelimang uang dan tiba-tiba merugi, saya keras kepala dan memutuskan bertahan walaupun sudah diperintahkan pulang ke Jakarta.

Kemudian saya pindah ke perusahaan kedua yang ternyata lebih miskin. Nyaris tidak bisa menabung. Tapi saya masih keras kepala.

Dibuatlah dunia kacau dengan krisis ekonomi yang menghantam semua sektor. Kantor pun kolaps. Kepala tetap sekeras batu karang.

Pindah ke perusahaan ketiga dengan gaji pas-pasan. Tetap tidak bisa menabung. Saya masih tidak mau angkat kaki. Akhirnya dibuatlah saya berhenti dan kelayapan tanpa uang berbulan-bulan dan mengalami penolakan-penolakan karena keterbatasan saya bicara-dengar-tulis tersebut. Sampai akhirnya bekerja di tempat yang sekarang ini, tanpa uang sepeserpun yang saya pegang *tapi perut bisa sejahtera dan gendut*.

Bekerja di tempat terakhir ini sebenarnya sangat menyenangkan. Perut sejahtera, jam kerja tidak monoton, kerja di tempat yang indah, ritme nya lambat, dan tidak perlu kuatir bayar biaya-biaya hidup. Tapi sepertinya pilihan ini cocok seandainya saya mau jadi pertapa, ndak suka berteman, nggak ada perempuan lagi di dunia, lenyapnya XBOX dan Playstation di alam semesta ini, dan saya tidak ada hutang.

Jadi sepertinya saya dan Jepang selama 4 tahun ini saling mengadu batok kepala siapa yang lebih keras. Hingga akhirnya salah satu harus mengalah dan itu adalah saya.

Banyak faktor yang membuat saya mengambil keputusan itu. Alter ego saya sebenarnya tidak bisa menerima. Kok bisa-bisanya mengalah dan mundur. Tidak seperti soyuz yang biasanya.

Waktu. Saya sendiri sebenarnya tidak keberatan seandainya harus adu keras jidat selamanya, kalau perlu sampai berdarah-darah. Tapi sayangnya waktu berputar sangat cepat dan saya sedang berpacu dengannya. Seandainya saya ke negara ini 10 tahun lebih awal mungkin akan beda ceritanya.

TimeTante pernah berkata di dunia yang semakin cepat ini kita harus fleksibel terhadap situasi. Rencana A gagal, langsung pindah ke rencana B, dan seterusnya. Tidak ada gunanya bertahan pada rencana yang tidak berjalan. Menghabiskan waktu dan tenaga.

Apalagi lima taun lalu saya menargetkan di usia yang sekarang ini seharusnya saya sudah leyeh-leyeh sambil ngelus-elus perut, didampingi istri cantik dan dikelilingi dayang-dayang cantik nan semlohe. Bukan kejar-kejaran dengan deadline hutang.

Uang. Saya mengikuti kemana uang berkumpul. Matre? Tentu! *bangga*. Saya tidak pernah malu mengakui kalau saya memang selalu menjual diri ke penawar tertinggi. Saat di Jepang sudah kering dan tidak ada Yen yang bisa disedot lagi (oleh saya), berarti sudah waktunya saya angkat kaki; sebelum terbenam lebih dalam di lingkaran setan bernama hutang itu.

Terasing. Dulu di awal-awal saya kemari, saya sering mendengar saran untuk menetap atau settling down tapi saya selalu ragu untuk menjawab iya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dan membuat saya tidak bisa nancep disini. Beberapa tahun kemudian saya mendengar hal yang sama lagi, dan jawaban saya tetap sama, “Pengen sih, tapi kok kayak nggak homey disini.”

Sampai detik ini saya menduga hal itu karena perasaan terasing yang disebabkan ke-bisu-tuli-buta-an saya. Memang ada beberapa teman dekat yang selalu saya recoki dan siap membantu dengan masalah bahasa ini. Mengurus sesuatu, mengisi formulir, menelpon sesuatu, dan lain-lain.

Tapi tentunya saya tidak bisa terus-terusan mengganggu waktu mereka. Mereka punya hidup sendiri. Apalagi saya sempat diduga sebagai orang ketiga oleh pasangannya karena saking seringnya saya repoti. Cukup di Jakarta saja reputasi saya sebagai perusak hubungan pacaran dan suami-istri :p

Selain itu, seperti orang lain, saya tidak terlalu suka bergantung kepada orang lain.

Tanggung jawab. Sebagai seorang yang bertanggungjawab atas strategi di dunia online serta penyedia solusi komunikasi visual dan pemasaran, saya harus mengerti apa insights dari si target pemirsa, apa budaya dan kebiasaan online mereka, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan sebuah produk atau layanan.

Sayangnya karena saya tidak paham bahasa Jepang, akhirnya saya tidak pernah berhasil memprediksi dan menggali perilaku dan keinginan dari calon target pemirsa yang saya tuju. Akhirnya sayapun gagal mempromosikan Tante di dalam negeri. Semua rencana dan ide-ide kami gagal total. Sedangkan di luar Jepang, saya berhasil *soyuz gitu lowh :p*

Saya tau ini bukan melulu salah saya. Perilaku online pengguna internet di Jepang juga cukup unik dengan beberapa ‘penyakit’ dan aib juga. Tapi saya harus bertanggungjawab. Bagaimana saya bisa memberikan solusi komunikasi visual dan pemasaran seandainya saya tidak bisa mengerti komunikasi dengan konsumen, dalam hal ini bahasa Jepang?

Selayaknya manusia, saya juga sering menyesal kenapa kok tidak belajar bahasa Jepang dengan sungguh-sungguh. Apalagi setiap melihat cewe-cewe Jepang yang kinyis-kinyis itu. Tapi seperti layaknya manusia juga, saya bisa memberikan alasan berbagai rupa. Sibuk kerja, pulang selalu dini hari, dan seterusnya. Padahal sih intinya males :p

Gerah. Selama disini saya merasa bahwa seharusnya saya bisa mencapai lebih tinggi, bisa mengeluarkan semua keahlian, bisa melakukan lebih dari yang sekarang, dan bisa mendapatkan reputasi internasional. Jepang merupakan tempat yang tepat untuk itu. Tapi sekali lagi bahasanya itu lho. Ampun deh bok

Dan saya sudah cukup bersabar dengan diskriminasi ini. Buat saya, nggak fair kalau performa dilihat dari kemampuan bahasa saja. Dan saya sudah kehabisan stok sabar. Seandainya Jepang itu adalah manusia, sudah saya gelitikin sampe pingsan, sadar, dan pingsan lagi.

Benalu. Sebenarnya Om dan Tante juga sedang megap-megap dengan keuangan mereka. Tapi karena saya sangat jagoan mereka membutuhkan bantuan, jadinya mereka mau nggak mau harus menyewa saya. Tentunya saya nggak tega dan nggak mau menjadi beban. Setidaknya cukup banyak yang bisa dihemat dengan kepergian saya karena biaya perawatan saya lumayan tinggi. Misalnya saja jatah beras yang biasa habis dalam waktu 3 bulan, bisa habis hanya dalam waktu 1 bulan sejak ada saya :p

Cinta yang lain. Saat Jepang selama 4 tahun tetap keukeuh memalingkan muka dan menolak cinta saya, sudah saatnya untuk melupakan dan pindah ke lain hati. Segala sesuatu yang dipaksakan itu ndak nikmat tho. Merupakan kerugian buat Jepang saat kehilangan cinta dari salah satu creative director jempolan *ehem…*

Cherry blossom

Keputusan meninggalkan Jepang juga bukan hal mudah. Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk menimbulkan rasa cinta terhadap negara ini. Selain itu rasanya berat sekali meninggalkan orang-orang spesial (perempuan tentunya), teman-teman baik, dan cewe-cewe Jepang yang imut dan irresistable itu :p

Tapi setiap perjalanan selalu akan ada akhir nya. Terlepas dari apakah benar-benar berakhir atau karena ada perjalanan dan petualangan baru. Selain itu hubungan yang bertepuk sebelah tangan ini tidak ada gunanya dipertahankan, apalagi ada yang lain yang siap menerima cinta saya *aih…dangdut skali!*

Seperti yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu, bagi saya negara ini layaknya tempat persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah melihat satu persatu teman-teman pergi, kini giliran saya yang harus berangkat melanjutkan perjalanan.

Terlepas dari masa-masa sulit yang pernah saya alami, berada disini merupakan pengalaman luar biasa dan tak terlupakan seumur hidup.

Misalnya saja saat saya hampir berkelahi dengan dua anggota yakuza ketika melewati sebuah klub malam. Untunglah saya tidak terpancing emosi dan menerapkan pepatah Jakarta, ‘lo jual, gue beli’. Bisa-bisa saya berakhir di dasar teluk Tokyo.

Atau saat saya beberapa kali diberhentikan oleh pak polisi dan digeledah seluruh tubuh karena diduga seorang kriminal atau anggota geng. Selain itu banyak kisah-kisah kecil dan menarik lainnya yang sudah pernah saya bagi disini. Monggo dilihat-lihat di arsip.

Saya akui atau tidak, senang sekali bisa memenuhi rencana awal saya untuk meninggalkan negara ini, walaupun terlambat 6 bulan dari jadwal. Sekaligus saya juga sedih dan ingin sekali berlari-lari dengan tersedu-sedu sambil mengitari pohon atau tiang listrik, saat saya mengucapkan ini:

Sayonara Japan!

Interesting story? Share it to your friends:

  • Facebook
  • Twitter
  • Digg
  • del.icio.us
Comments
 
  1. Kania says:

    Adik tidak terkejut dan bisa *sedikit* menduganya.

    Perjalanan mas masih panjang. Adik yakin, yang menunggu di ‘depan’ jauh lebih indah lagi.

    Kemanapun nantinya ‘kapal’ yang mas nakhodai berlabuh nantinya, tempat itu pastinya bukan tempat yang terakhir, hanyalah tempat bersandar sementara sampai mas menemukan sesuatu yang ‘homey’

    Btw, tetep aja, ntar malam adik tunggu di Terminal 2 Cengkareng. Setelah 5 tahun masnya pergi, ada waktunya untuk menemui adikmu ini meski hanya sebentar hehehehe

  2. Sakuralady says:

    Ko soyuz, km pul hr ini ya? Shock.. Br baca status di fb, truz meluncur kesini.. Daku telp ke hp, dah ga nyambung.. Wiz u all d bez.. Thx y bust bantuannya pas awal2.. G baca postingan ini senyum ndiri plus berkaca2.. Thanks for d friendship n god bless u abundantly

  3. Uchie Kamenashi says:

    sedih juga bacanya….
    tapi semoga soyuz mendapatkan yang lebih baik lagi, siapa tau bisa balik ke Jepang dan menunjukkan ke Jepang bahwa di dunia lain soyuz lebih berjaya hehehhee…..
    ganbatte ne Soyuz-san…

  4. arman says:

    pindah kemana nih? good luck ya…

  5. soyuz says:

    @kania: hehehe…makasi ya atas dukungannya. makasi juga lho udah mau nemenin di cengkareng.

    @sakuralady: heheh…kok bisa langsung meluncur kemari? instingmu hebat :d. iya maaf ya nggak sempat lagi nelpon2 dan kabar2i.

    iya sama2. thanks juga buat semuanya. maaf ya nggak bisa menemani lebih lama lagi.

    heheh…gimana tuh senyum ndiri dan berkaca2 :p

    @uchie: hehe..makasi ya uchie. ganbarimasu!

    @arman: armaaan!!! engkau masi membaca blog ku *peluk2 pohon*. makasi ya bro atas dukungannya.

  6. Mei Mei says:

    good luck di tempad baru ya tak! at least uda ga perlu pake bhs tubuh dan tarzan lagi :) sapa tau di tempat baru, semua utank bisa lunas dalam sekejab xiixixiix ^^
    wish u all da best ya!!!

    ps : kalo uda berjaya di sg, trus ada org jpg yg nawarin kerja sono lagi gimana tuuuuuuuu hwhahhahahaha :D

  7. soyuz says:

    thanks ya Mei!

    kalo tawarannya memikat sih, marii…. xD

Add Yours

Line breaks are converted automatically. Please make sure that you have read the post before posting your thoughts. A valid email is a must but don't worry, it will never be displayed anywhere on this website. It is greatly appriciated if your comment could exceed 3 written lines. Please be polite and thoughtful of others. Comments which are derogatory will be deleted.

Please stay on topic: no name-calling, flaming or trolling. Spam and irrelevant comments will be deleted, your IP will be banned, and any URLs in your comment will be blacklisted.