<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>This is the best day ever / Soyuzno's journal &#187; Bedtime stories</title>
	<atom:link href="http://soyuzno.com/journal/category/bedtime-stories/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://soyuzno.com/journal</link>
	<description>This is the best day ever is a (almost) daily journal, random ramblings and not-so-important writings of a creative and art direction, also a graphic designer in Tokyo.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 16 May 2010 09:43:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>In between days &#8211; A dustland fairytale</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2010/01/in-between-days-a-dustland-fairytale/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2010/01/in-between-days-a-dustland-fairytale/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 00:25:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedtime stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini adalah hari pertama turunnya salju di tahun ini. Musim dingin sudah tiba dari November tahun lalu, tapi salju dengan pongahnya tidak sudi menampakkan diri hingga pertengahan Januari ini. 
Mataku memandang butiran-butiran putih yang berjatuhan dari langit, sepertinya para dewa sedang mengadakan pesta es serut dan remah-remah es nya jatuh ke bumi. 
Aku selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini adalah hari pertama turunnya salju di tahun ini. Musim dingin sudah tiba dari November tahun lalu, tapi salju dengan pongahnya tidak sudi menampakkan diri hingga pertengahan Januari ini. </p>
<p>Mataku memandang butiran-butiran putih yang berjatuhan dari langit, sepertinya para dewa sedang mengadakan pesta es serut dan remah-remah es nya jatuh ke bumi. </p>
<p>Aku selalu <a href="http://soyuzno.com/journal/2007/06/youll-never-be-frightened-to-make-them-wait/" title="Read the previous article">suka hujan</a>, apalagi hujan salju. Di tempat asalku, salju hanya ada dalam imajinasi. Beruntung aku terlahir penuh imajinasi sehingga saat aku ingin melihat salju, cukup dengan melamun dan duniaku berubah menjadi negeri fantasi yang penuh salju. </p>
<p>Aku ingat bagaimana sedari kecil aku ingin sekali bisa menyentuh salju. Menangkapnya saat ia jatuh. Walaupun aku paham bahwa salju itu tak lebih hanya butiran es, sama dengan yang ada di dalam kulkas. </p>
<p>Makanya aku suka sekali membuka lemari pendingin dan menyentuh bunga-bunga es yang ada di <em>freezer</em> dan ayah selalu memarahiku saat kepalaku sudah setengah masuk ke dalam kulkas.</p>
<p><span id="more-292"></span><img src="http://soyuzno.com/uploads/snow.jpg" alt="snow"/></p>
<p>Mataku kembali memandang ke luar jendela. Pohon-pohon yang berada di pekarangan tertutup salju. Daun-daun yang berjatuhan di musim gugur kemarin sudah berganti dengan tumpukan es yang bertengger dengan manisnya di dahan-dahan pohon seakan berkata, hey pohon&#8230;usah kau bersedih ditinggal daun-daunmu. Aku akan menemani hari-harimu yang dingin hingga daunmu kembali dalam pelukanmu.</p>
<p>Ah&#8230;ternyata bukan hanya musim gugur yang bisa membuat perasaan menjadi <em>mellow</em>. Pikiranku melayang ke musim dingin dua tahun yang lalu. </p>
<p>Siang itu udara dingin sungguh menusuk tulang, tapi Harajuku masih tetap ramai dengan orang-orang yang berlomba memenuhi nafsu belanja mereka. Walaupun aku berada di kantor yang hangat, tapi kadang masih bisa kurasakan hembusan angin dingin yang membelai leherku dengan mesranya, bagaikan seorang kekasih yang sedang mencumbu pujaan hatinya.</p>
<p>Saat itu kantor masih sepi karena teman-temanku sedang keluar makan siang. Hanya tinggal aku dan seorang temanku yang berada di ruangan sebelah, ruang tim editor.</p>
<p>Aku sedang sibuk bercengkerama dengan komputer Mac ku, saat sebuah suara memanggilku lembut.</p>
<p>&#8220;Andrew, kamu nggak dingin? Cuma pakai t-shirt kayak gitu?&#8221;</p>
<p>Aku menoleh ke arah asal suara dan melihat Nanako &mdash;teman kantorku&mdash; sedang berdiri di depan pintu ruanganku. Dengan wajah yang imut, pembawaan keibuan serta lemah lembut, sulit bagi pria manapun untuk menolak rasa ingin menyayangi dan melindunginya. Kadang aku berpikir, apa semua perempuan Kyoto seperti itu.</p>
<p>&#8220;Oh, nggak kok&#8221;, jawabku sambil tersenyum. &#8220;Aku malah merasa kepanasan sih sebenarnya.&#8221;</p>
<p>Huh&#8230;sombong!</p>
<p>&#8220;Wah hebat sekali! Aku kedinginan nih. Lihat, tanganku sampai dingin banget&#8221;, katanya sambil menengadahkan kedua tangannya dan menyodorkannya ke arahku. </p>
<p>Aku bangkit dari kursiku dan menghampirinya. Agak ragu dan canggung kujulurkan kedua tanganku untuk merasakan sedingin apa telapak tangannya. Terlalu lama bergaul dengan komputer sepertinya telah mengikis kemampuanku dalam menghadapi wanita. </p>
<p>Payah, keluhku dalam hati.</p>
<p>Belum sampai jari-jariku menyentuh tangannya yang halus, tangannya terlebih dulu meraih dan menggenggam jemariku. </p>
<p>Erat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2010/01/in-between-days-a-dustland-fairytale/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>You get what you give, mostly &#8211; eps#2 (end)</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2007/02/you-get-what-you-give-mostly-eps2-end/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2007/02/you-get-what-you-give-mostly-eps2-end/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Feb 2007 09:53:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedtime stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.soyuzno.com/journal/2007/02/you-get-what-you-givealmost-part-2-end/</guid>
		<description><![CDATA[Setahun kemudian, dia membuka depot, bekerja sama dengan salah satu mantan ibu kos nya. Si ibu ini adalah seorang janda yang ditinggal suaminya, dan hidup sendiri, hanya mengandalkan satu kamar kos yang dulunya disewakan kepada si pemuda ini. Letak rumahnya sangat strategis, setiap anak kos pasti lewat di depan rumahnya jika berangkat dan pulang kuliah.
Melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setahun kemudian, dia membuka depot, bekerja sama dengan salah satu mantan ibu kos nya. Si ibu ini adalah seorang janda yang ditinggal suaminya, dan hidup sendiri, hanya mengandalkan satu kamar kos yang dulunya disewakan kepada si pemuda ini. Letak rumahnya sangat strategis, setiap anak kos pasti lewat di depan rumahnya jika berangkat dan pulang kuliah.</p>
<p>Melihat keterampilan masaknya, si pemuda tergerak untuk membantu, seperti biasa. Menyewa teras rumahnya, mempersiapkan semua peralatan, dan mempersilakan si ibu untuk menangani urusan masak. Genap seminggu ketika si ibu ini mulai menyerah. Sepi, katanya. Gimana nggak sepi, pikirnya, si ibu malas belanja, malas memasak yang beraneka ragam. Banyak masakan yang dicantumkan saja di menu tapi begitu dipesan tidak tersedia. Si pemuda berpikir, dia telah salah memberikan &#8216;kail&#8217; kepada orang bermental kerupuk dan cuma bisa omong doank. </p>
<p><span id="more-92"></span><br />
Akhirnya dia pun teringat kepada si ibu yang dulu ditolongnya waktu banjir beberapa taun yang lalu. Lewat temannya, yang sekarang kos di tempat si ibu, dia mengundang si ibu tadi ke depot nya untuk membicarakan kerjasama agar depot ini dapat terus berjalan dan kedua ibu ini bisa meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik. </p>
<p>Tak lama si ibu datang, kedua ibu saling berkenalan, dan mereka mulai terlibat perbincangan serius tentang tawaran dari si pemuda ini. Pada saat si pemuda sedang asik di teras, ngobrol dengan temannya, tak disangka pembicaraan kedua ibu di dalam berubah menjadi gosip tentang si pemuda. Dan mereka pun sepakat untuk tidak mau membantu. Dia pun mencoba meyakinkan dan meminta agar persoalan bisnis jangan dicampur dengan urusan pribadi. Biarlah usaha ini berjalan dengan profesional. Tapi mereka tetap bersikeras dan merasa tidak pantas membantunya. </p>
<p>Dia hanya bisa kecewa, kedua &#8216;kail&#8217; yang diberikan sama sekali tidak digunakan oleh kedua ibu bermulut ember tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk menutup depot itu. Semua peralatan masak, dua tabung elpiji, dan lain-lain dibiarkan disana dengan harapan jika si ibu (mantan ibu kos nya) butuh uang, mungkin barang-barang tersebut bisa dipakai. Lumayan bisa mendapatkan beberapa juta dari menjual peralatan tersebut. Tapi sejak saat itu juga dia berjanji, apapun yang terjadi dengan kedua ibu ini, he won&#8217;t give a damn about it. </p>
<p>***</p>
<p>Lamunan nya mendadak terhenti saat ada suara SMS masuk. Rupanya dari temannya. Dia mengabarkan rumahnya (dan istri) kebanjiran, dan dia teringat akan banjir dan saat-saat mereka berdua begadang dan berjaga-jaga sampai banjir surut beberapa hari kemudian. Rupanya engkau juga mengingatnya, teman. </p>
<p>Dia pun teringat kembali dengan kedua ibu itu. Bagaimana kabar dua ibu bermulut manis itu yah. Gimana seandainya kalo mereka dalam kesulitan dan butuh bantuan. Dengan senyum pasti dia pun melanjutkan pekerjaannya. <em>&#8220;I don&#8217;t give a damn!&#8221;</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2007/02/you-get-what-you-give-mostly-eps2-end/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>You get what you give, mostly &#8211; eps#1</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2007/02/you-get-what-you-give-mostly-eps1/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2007/02/you-get-what-you-give-mostly-eps1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Feb 2007 07:53:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedtime stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.soyuzno.com/journal/2007/02/you-get-what-you-givealmost-part-1/</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu tak ada yang spesial baginya. Semua berjalan seperti biasa. Kerjaan menumpuk, karna banyak hal yang nggak efisien. Tugas baru sudah dimulai, mengubah 500 halaman web dari HTML ke tableless XHTML+CSS. Assignment yang bodoh!. Yang membuat sedikit berbeda adalah hari itu dia bangun kesiangan, sampai ditelpon orang kantor, dan tiba di kantor lewat 30 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari itu tak ada yang spesial baginya. Semua berjalan seperti biasa. Kerjaan menumpuk, karna banyak hal yang nggak efisien. Tugas baru sudah dimulai, mengubah 500 halaman web dari HTML ke tableless XHTML+CSS. Assignment yang bodoh!. Yang membuat sedikit berbeda adalah hari itu dia bangun kesiangan, sampai ditelpon orang kantor, dan tiba di kantor lewat 30 menit dari jam kantor. </p>
<p>Saat sedang asik melakukan kerjaan bodohnya, seorang teman mengabarkan bahwa Jakarta lagi banjir besar. Hujan deras dan angin kencang terus menerus. Dia pun menuju sebuah portal berita untuk mencari informasi lebih lengkap. Tak lama ingatan nya pun membawa nya kembali ke beberapa taun silam&#8230;</p>
<p>***<br />
<span id="more-91"></span></p>
<p>2002&#8230;.</p>
<p> Hujan deras yang mengguyur Jakarta masih belum berhenti, padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 pagi. Dua orang pemuda masih terjaga di kos mereka dan sedang terlibat perbincangan menarik di saat semua orang sudah terlelap dan terbuai dengan dingin nya cuaca. Apalagi listrik PLN sedang ngambek malam itu. Mungkin tenggelam karena banjir. Hanya suara hujan yang begitu deras yang menemani mereka. Tak lama dari rumah sebelah terdengar lolongan anjing yang sepertinya sedang panik. Rumah itu merupakan kos wanita yang dimiliki oleh seorang janda dengan 4 orang putra putri. Kehidupan mereka tidak bisa dibilang menyenangkan terutama setelah kematian suami/ayah mereka. Penghasilan hanya mengandalkan uang kos dan dari depot kecil yang ada di teras. Kedua pemuda ini merupakan langganan setia di depot si ibu. Itung-itung membantu nambah-nambah penghasilan supaya dapur tetap ngebul. Lagipula masakan si ibu termasuk enak dan banyak. </p>
<p>Lolongan itu tak jua berhenti. Kedua pemuda ini pun merasa ada sesuatu yang tidak beres di rumah sebelah. Mereka pun bergegas turun dan segera ke sebelah dengan membawa senter sambil berhujan ria <em>*biasa&#8230;cowo mana punya payung*</em>. Mereka melihat si pleki <em>*sebut saja begitu*</em> sedang terikat di teras, kehujanan dan terlihat panik. Mereka segera berteriak membangunkan si empunya rumah. Tapi tidak ada reaksi. Akhirnya salah satu dari mereka memanjat pagar dan segera melepas ikatan si pleki dan membawa nya ke balkon lantai dua. Tak lama seluruh penghuni kos itu pun bangun. Setelah ngobrol beberapa saat, mereka berdua segera kembali ke kos dan tidur.</p>
<p>Keesokan harinya Jakarta mulai direndam banjir. Kepanikan mulai tampak di wajah para warga. Banjir semakin meninggi, dengan ketinggian selutut orang dewasa. Kedua pemuda ini pun sibuk membantu si ibu mengangkut dan menyelamatkan barang dan peralatan masak. Tetangga depan, satu keluarga yang berasal dari Bali pun meminta bantuan pada kedua pemuda ini untuk menyelamatkan kulkas dan motor. Apa yang bisa dipakai, dibuat untuk tumpuan kulkas segede gambreng dan sepeda motor supaya tidak terendam air. Keluarga ibu dan tetangga depan berulang kali mengucapkan terima kasih dan menceritakan kebaikan kedua pemuda tersebut ke warga-warga lain. </p>
<p>Sampai beberapa hari ke depan, dia dan temannya itu tetap terjaga sampai pagi menjelang, bersiap jika situasi memburuk atau salah satu warga membutuhkan bantuan. Sama seperti saat kerusuhan taun 98, dimana saat banyak anak kos di daerah mereka yang mendekam di kos atau mengungsi, dua orang ini ikut bergabung dengan warga, berjaga-jaga sepanjang malam dengan membawa kayu yang telah dipasang dengan paku-paku serta pisau di saku belakang masing-masing, berdiri di barisan depan dan menunggu para perusuh masuk ke daerah Tanjung Duren Utara. </p>
<p>Tanpa disadarinya, usaha nya membantu tetangga yang banjir ternyata berbuah gosip. Di saat itu juga mulai tersebar gosip dan omongan-omongan tidak sedap karena dia dianggap telah berbuat aib yang bertentangan dengan norma. Gosip ini bagaikan bom waktu yang siap meledak setiap saat dan menghantam nya. Manusia memang lebih mudah mengingat kesalahan orang lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2007/02/you-get-what-you-give-mostly-eps1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
