Malam itu berlangsung seperti malam-malam sebelumnya. Suasana di stasiun kereta api Shinjuku tidak terlalu padat walaupun tetap penuh. Mungkin karena hanya sedikit kantor yang buka di hari Sabtu. Lalu-lalang orang-orang yang mengejar jadwal kereta api pun tidak se-intens di hari kerja. Entah kenapa kalo di hari kerja, udara terasa penuh dengan aura stres dan depresi, seakan persediaan oksigen di atmosfir bumi mencapai titik terendahnya.
Saya, seperti hari-hari Sabtu sebelumnya, baru saja pulang dari gereja setelah mengikuti latihan musik yang dimulai dari jam 7 malam. Perjalanan dari gereja ke tempat tinggal saya lumayan jauh dan harus naik 3 kereta api yang berbeda, artinya saya kudu pindah kereta sebanyak 2 kali. Dan ini adalah perpindahan terakhir. Saya sedang menunggu kereta api yang akan mengantar saya ke tempat tinggal saya di Chofu.
Kamis, waktu telah menunjukkan pukul 21.40. Suasana di stasiun Hibiya sangat penuh dengan orang-orang yang baru pulang kerja. Saat kereta tiba, orang-orang berdesakan memasuki kereta, mencoba peruntungan siapa tau bisa mendapatkan tempat duduk karena perjalanan pulang masih panjang.
Kereta pun mulai bergerak meninggalkan stasiun dengan perlahan. Di salah satu sudut dekat pintu seorang gadis terlihat berdiri menyandar di pojokan sambil merapatkan kedua tangan nya seperti dalam posisi berdoa. Tidak cantik dan tidak jelek.
Kereta pun tiba di stasiun berikutnya. Limpahan orang yang baru pulang kerja terlihat sama banyak nya dengan di stasiun sebelumnya. Si gadis pun semakin terjepit dan tidak bisa bergerak. Seorang pria paruh baya, sekitar 40-45 tahunan. dengan tinggi semampai, berpakaian jas lengkap layak nya salary man (karyawan) dan berkacamata berdiri tepat di depan si gadis.