Life
5.16.10

Finish line – Downhill from here

Tidak terasa sudah 4 tahun berlalu sejak saya mulai menulis blog ini. Tadinya blog ini hanya sekedar blog-blog biasa saja. Mencatat makan apa hari ini, lagi ngapain, dan lain-lain. Ya, seperti layaknya blog.

Kemudian sejak saya pindah ke Jepang, blog ini menjadi tempat untuk menyimpan dan berbagi cerita dengan menuliskan perjalanan hidup saya selama di Jepang. Tentunya dengan harapan dapat bermanfaat bagi yang membaca, dan juga memberikan updet kabar saya bagi teman-teman di Indonesia.

Mulanya saya agak belagu menulis dalam bahasa Inggris. Ceritanya sih biar mendunia gitu :p. Sampai pada suatu saat saya mengetahui kalau bos saya di kantor ternyata membaca blog saya juga. Saya kurang tau apa di Jepang semua bos punya hobi membaca blog karyawannya.

Continue reading →

4.17.10

When the sun goes down – It’s time to go our separate ways

Tahun 2006, tepat di bulan ini, saya menjejakkan kaki pertama kali di Jepang. Pengalaman pertama tersebut tidak akan pernah bisa dilupakan. Dengan penuh keyakinan dan jumawa, saya bertekad untuk menaklukkan negeri sakura ini. Tekad tersebut terdengar wajar andai saja diucapkan di negara lain, sayangnya tidak berlaku di negara ini.

Saat itu saya belum tau bagaimana susahnya melawan resistansi atau penolakan terhadap orang asing yang bisu-buta-tuli bahasa Jepang. Tapi dasar saya yang selalu pede jaya dan terkesan arogan, kendala bahasa bukan masalah bagi saya saat itu. Dengan bantuan mimik serta gesture, seharusnya bahasa tarzan akan bisa dipahami dengan mudah. Tapi kenyataannya tidak semudah itu.

Saya juga kurang tau kenapa Jepang bagaikan magnet bagi banyak orang, bagaikan bunga ranum dan segar yang selalu dikelilingi kupu-kupu. Selama berada di negara ini, saya menerima cukup banyak email dari orang-orang yang begitu cintanya terhadap negara Jepang, sampai saya suka geleng-geleng sendiri tanpa bantuan ekstasi.

Continue reading →

4.14.10

Utopia parkway – Yet the wind whispers ‘hello’ when it blows

Dulu, saat masih bekerja di Tokyo, saya sempat terpikir dan berkeinginan untuk merasakan Jepang yang sesungguhnya, yang lebih tradisional dan membumi. Kayak di pilem Oshin gitu lho. Tokyo jelas-jelas tidak ada bedanya dengan kota-kota besar lainnya. Sebagai generasi yang hidup di kota-kota megapolitan, setelah beberapa bulan Tokyo menjadi biasa saja bagi saya.

Saya ingin merasakan kehidupan biasa yang jauh dari gaya hidup metropolitan. Yang ndeso kalo perlu, dimana kalau ke kantor harus melalui hamparan sawah di kiri-kanan jalan. Atau menunggang kerbau melewati pematang sawah sambil updet status di facebook atau twitter saat menuju ke stasiun. Atau saat sore hari bermain-main di pantai sambil mengunggah (upload) foto pakai iPhone.

Continue reading →

2.11.10

Final sound – Midnight in a perfect world

Bulan November kemarin saat saya seharusnya meninggalkan Jepang, saya jadinya ‘hanya’ meninggalkan Tokyo dengan gregetan karena semua rencana yang sudah saya susun dengan indahnya jadi berantakan.

Tepat beberapa hari sebelum saya harus angkat kaki dari tempat tinggal saya, sepasang suami istri yang saya bantu beberapa waktu lalu —yang selanjutnya saya sebut saja Om dan Tante— menyelamatkan saya di detik-detik terakhir.

Perusahaan yang sedianya berminat memperkerjakan saya, entah kenapa menjadi lambat dalam menindaklanjuti proses kepindahan saya. Padahal saya sudah menyetop kontrak apartemen dan tidak mungkin untuk mengubah keputusan tersebut. Butuh uang (sangat banyak) dan waktu. Dua hal yang dari dulu tidak pernah saya miliki.

Makanya, saat Om dan Tante memberikan penawaran yang menggiurkan, saya langsung menyanggupi. Daripada nanti jadi gelandangan tampan di Jepang.

Selama tinggal bersama mereka, banyak hal-hal menarik yang terjadi dan saya juga mendapatkan banyak sekali pelajaran yang bermanfaat. Hal-hal yang menarik itu berupa kejadian-kejadian kecil tapi selalu membuat saya terpukau sampai kadang-kadang ternganga hingga rongga mulut menjadi kering.

Continue reading →

1.13.10

Distant noises – Other voices pounding in my broken head

Beberapa bulan yang lalu, atasan saya —si George Clooney— mengajak saya diskusi di sebuah bar (yang berubah menjadi kios bento saat siang hari), tepat di seberang gedung kantor. Ruangan berbentuk setengah segitiga dengan ukuran 2×1 meter itu lebih tepat disebut rumah liliput. Berada didalamnya bisa membuat saya megap-megap seperti ikan lele yang perlu oksigen.

Malam sudah cukup larut sehingga bar yang dwifungsi itu padat dengan manusia yang melepas kepenatan setelah seharian bekerja. Si Clooney langsung memesan bir untuknya dan Coca Cola buat saya. Sang bartender —yang ternyata cantik juga— terlihat ragu dan mengkonfirmasi apa benar kami memesan cola. Tampang sangar kok minumnya cola, begitu mungkin pikirnya.

Isi pembicaraan kami berdua kurang lebih mengenai masa depan saya di perusahaan, terutama sesudah berakhirnya masa probation saya. Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya disepakati bahwa kami tidak bisa bersama lagi dan harus memilih jalan masing-masing.

Perbedaan visi dan tidak tercapainya ekspektasi dari kedua belah pihak. Dua hal itu yang menjadi alasan utama perpisahan antara perusahaan dan saya.

Continue reading →

Page 1 of 22123451020...Last »