Bulan November kemarin saat saya seharusnya meninggalkan Jepang, saya jadinya ‘hanya’ meninggalkan Tokyo dengan gregetan karena semua rencana yang sudah saya susun dengan indahnya jadi berantakan.
Tepat beberapa hari sebelum saya harus angkat kaki dari tempat tinggal saya, sepasang suami istri yang saya bantu beberapa waktu lalu —yang selanjutnya saya sebut saja Om dan Tante— menyelamatkan saya di detik-detik terakhir.
Perusahaan yang sedianya berminat memperkerjakan saya, entah kenapa menjadi lambat dalam menindaklanjuti proses kepindahan saya. Padahal saya sudah menyetop kontrak apartemen dan tidak mungkin untuk mengubah keputusan tersebut. Butuh uang (sangat banyak) dan waktu. Dua hal yang dari dulu tidak pernah saya miliki.
Makanya, saat Om dan Tante memberikan penawaran yang menggiurkan, saya langsung menyanggupi. Daripada nanti jadi gelandangan tampan di Jepang.
Selama tinggal bersama mereka, banyak hal-hal menarik yang terjadi dan saya juga mendapatkan banyak sekali pelajaran yang bermanfaat. Hal-hal yang menarik itu berupa kejadian-kejadian kecil tapi selalu membuat saya terpukau sampai kadang-kadang ternganga hingga rongga mulut menjadi kering.
Beberapa bulan yang lalu, atasan saya —si George Clooney— mengajak saya diskusi di sebuah bar (yang berubah menjadi kios bento saat siang hari), tepat di seberang gedung kantor. Ruangan berbentuk setengah segitiga dengan ukuran 2×1 meter itu lebih tepat disebut rumah liliput. Berada didalamnya bisa membuat saya megap-megap seperti ikan lele yang perlu oksigen.
Malam sudah cukup larut sehingga bar yang dwifungsi itu padat dengan manusia yang melepas kepenatan setelah seharian bekerja. Si Clooney langsung memesan bir untuknya dan Coca Cola buat saya. Sang bartender —yang ternyata cantik juga— terlihat ragu dan mengkonfirmasi apa benar kami memesan cola. Tampang sangar kok minumnya cola, begitu mungkin pikirnya.
Isi pembicaraan kami berdua kurang lebih mengenai masa depan saya di perusahaan, terutama sesudah berakhirnya masa probation saya. Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya disepakati bahwa kami tidak bisa bersama lagi dan harus memilih jalan masing-masing.
Perbedaan visi dan tidak tercapainya ekspektasi dari kedua belah pihak. Dua hal itu yang menjadi alasan utama perpisahan antara perusahaan dan saya.
Dari pembicaraan awal di email yang saya terima, tugas saya adalah membantu memindahkan data dalam bentuk Word ke dalam PDF. Bagi orang seperti saya yang sehari-harinya bernapas di dunia desain dan komputer, pekerjaan itu merupakan salah satu tugas yang mudah.
Tapi ternyata tidak semudah yang saya perkirakan. Kendala yang saya hadapi saat mengerjakan hal itu adalah, Indesign yang digunakan adalah versi Jepang, dengan format penulisan dalam template nya adalah vertikal dari atas ke bawah layaknya buku-buku Jepang.
Pekerjaan yang harusnya bisa selesai (setidaknya dalam bayangan saya) dalam waktu 5 menit, akhirnya menjadi 2 malam 3 hari. Selama hari-hari itu saya kleyengan menghadapi tulisan kanji yang terdapat dalam fungsi dan menu dari Indesign.
Kami sepakat untuk bertemu di rumah mereka. Dengan asumsi bahwa mengerjakan langsung di tempat mereka akan lebih cepat dibandingkan di tempat saya. Lagipula saya berpikir ingin sekali-kali berlibur ke luar kota. Dan ini adalah kesempatan yang luar biasa.
Pada hari yang disepakati, yang ternyata adalah hari dimana typhoon menghantam Tokyo, saya berangkat menuju stasiun Hachioji dan tersangkut disana. Seluruh kereta ke luar Tokyo tidak beroperasi karena takut diterbangkan angin.
Setelah berkomunikasi sejenak, mereka berdua memutuskan untuk turun gunung dan menjemput saya di Hachioji. Karena perjalanan dari rumah mereka membutuhkan waktu 1 jam, saya disarankan untuk jalan-jalan dulu.
Dengan senang hati saya menerima ide tersebut, langsung menuju ke Becks dan memesan satu set burger+fries+salad serta secangkir kopi. Definisi ‘jalan-jalan’ buat saya akan selalu melibatkan makanan.
Otsuki (大月), sebuah kota kecil di pegunungan dengan populasi 29.803 jiwa pada tahun 2008 (sumber: Wikipedia), terletak di prefektur Yamanashi dan berjarak 40 menit dari gunung Fuji, jika mengendarai mobil.
Untuk mencapai Otsuki, ada beberapa alternatif kereta api yang bisa digunakan dari stasiun Shinjuku atau Hachioji. Tentu saja bisa juga menggunakan sepeda, tapi sepertinya kurang bijaksana.
Terdapat dua jalur kereta api yang bisa digunakan. Pertama adalah Chuo Line yang merupakan kereta lokal, dimana kata ‘lokal’ berarti perjalanan akan menempuh waktu cukup lama.
Kedua, dengan Kaiji atau Super Asuza yang merupakan kereta ekspres dan membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapai Otsuki dari stasiun Shinjuku atau 40 menit jika berangkat dari stasiun Hachioji.