Dari pembicaraan awal di email yang saya terima, tugas saya adalah membantu memindahkan data dalam bentuk Word ke dalam PDF. Bagi orang seperti saya yang sehari-harinya bernapas di dunia desain dan komputer, pekerjaan itu merupakan salah satu tugas yang mudah.
Tapi ternyata tidak semudah yang saya perkirakan. Kendala yang saya hadapi saat mengerjakan hal itu adalah, Indesign yang digunakan adalah versi Jepang, dengan format penulisan dalam template nya adalah vertikal dari atas ke bawah layaknya buku-buku Jepang.
Pekerjaan yang harusnya bisa selesai (setidaknya dalam bayangan saya) dalam waktu 5 menit, akhirnya menjadi 2 malam 3 hari. Selama hari-hari itu saya kleyengan menghadapi tulisan kanji yang terdapat dalam fungsi dan menu dari Indesign.
Kami sepakat untuk bertemu di rumah mereka. Dengan asumsi bahwa mengerjakan langsung di tempat mereka akan lebih cepat dibandingkan di tempat saya. Lagipula saya berpikir ingin sekali-kali berlibur ke luar kota. Dan ini adalah kesempatan yang luar biasa.
Pada hari yang disepakati, yang ternyata adalah hari dimana typhoon menghantam Tokyo, saya berangkat menuju stasiun Hachioji dan tersangkut disana. Seluruh kereta ke luar Tokyo tidak beroperasi karena takut diterbangkan angin.
Setelah berkomunikasi sejenak, mereka berdua memutuskan untuk turun gunung dan menjemput saya di Hachioji. Karena perjalanan dari rumah mereka membutuhkan waktu 1 jam, saya disarankan untuk jalan-jalan dulu.
Dengan senang hati saya menerima ide tersebut, langsung menuju ke Becks dan memesan satu set burger+fries+salad serta secangkir kopi. Definisi ‘jalan-jalan’ buat saya akan selalu melibatkan makanan.
Otsuki (大月), sebuah kota kecil di pegunungan dengan populasi 29.803 jiwa pada tahun 2008 (sumber: Wikipedia), terletak di prefektur Yamanashi dan berjarak 40 menit dari gunung Fuji, jika mengendarai mobil.
Untuk mencapai Otsuki, ada beberapa alternatif kereta api yang bisa digunakan dari stasiun Shinjuku atau Hachioji. Tentu saja bisa juga menggunakan sepeda, tapi sepertinya kurang bijaksana.
Terdapat dua jalur kereta api yang bisa digunakan. Pertama adalah Chuo Line yang merupakan kereta lokal, dimana kata ‘lokal’ berarti perjalanan akan menempuh waktu cukup lama.
Kedua, dengan Kaiji atau Super Asuza yang merupakan kereta ekspres dan membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapai Otsuki dari stasiun Shinjuku atau 40 menit jika berangkat dari stasiun Hachioji.
Maret, akhir musim dingin 2009. Hawa terasa sangat dingin pagi ini. Terutama saat subuh seperti ini. Sedikit tiupan angin pagi sudah membuat saya menggigil. Ah…mungkin karena saya tidak tidur semalaman, pikir saya.
Salah satu sifat buruk yang sampai saat ini belum bisa dihilangkan. Setiap ada sesuatu atau rencana aktivitas yang berbeda dari biasanya, saya selalu tidak bisa tidur dari sehari sebelumnya.
Excited. Adrenalin selalu bergejolak. Tubuh sudah lelah berteriak minta istirahat, tapi otak dengan egoisnya terus bekerja, memompa peredaran darah menjadi lebih cepat ke jantung dan memaksa sang mata untuk terjaga.
Surabaya, sebuah kota yang berada di tepi pantai utara sebelah timur pulau Jawa, dan dulunya merupakan gerbang dari kerajaan Majapahit. Yang dulu nya hanya sebuah desa di tepian suangai Brantas kini menjelma menjadi sebuah kota metropolitan yang masih terus dan tiada hentinya bersolek.
Sebuah kota yang mempunyai karakteristik unik dan terkadang saling berlawanan. Warganya dikenal egaliter, blak-blakan, dan keras; tergambar dari dialek bahasa nya yang bagi daerah lain (yang menggunakan bahasa Jawa), terdengar kasar dan tidak memiliki sopan santun. Tapi di sisi lain, konon warga Surabaya dikenal memiliki tingkat toleransi yang lebih tinggi terhadap perbedaan suku dan agama.