Life
12.5.08

The mind is like a poison castle in the sky

Malam belum cukup larut, tetapi suasana di sekitar stasiun Chofu terasa lebih sepi daripada hari-hari lain. Tidak banyak orang yang lalu-lalang. Tidak tercium juga aroma alkohol dari orang-orang yang baru pulang mabuk-mabukan di bar.

Seorang perempuan baru saja keluar dari stasiun, berjalan santai menyusuri trotoar di samping jalan raya yang cukup besar. Tidak banyak orang yang lalu-lalang di trotoar itu. Dia melewati bangunan department store yang lampu-lampunya sudah dipadamkan. Ya, department store itu tutup jam 9 malam. Agak pagi untuk ukuran sebuah tempat belanja.

Perempuan itu meneruskan langkahnya. Melewati sebuah kafe donat yang sudah tidak terlalu ramai pada jam seperti ini. Biasanya kafe donat ini sangat ramai. Terutama di sore hari. Antrian bisa sampai ke teras. Mungkin karena mereka memberikan layanan refill kopi gratis. Cukup membeli satu cangkir kopi dan isinya tidak akan pernah habis. Pasti menyenangkan.

Continue reading →

11.27.08

Losing grip – A higher state of conciousness

Bekerja di luar negeri memang memberikan kesan tersendiri. Setidaknya buat saya. Dengan bekerja di luar negeri, mau nggak mau saya belajar dan sedikit banyak tau mengenai budaya dari negara yang saya tinggali. Selain itu membuka wawasan dan bisa memenuhi hasrat untuk melihat ‘dunia luar’. Sensasinya pun serupa dengan saat pertama kali berada di Jakarta. Saya belum bisa membayangkan gimana mendebarkan nya kalo bisa melihat ‘luar dunia’ ya, misalnya tinggal di planet Mars atau Neptunus gitu.

Untuk sementara, saya harus puas dengan melihat ‘dunia luar’ terlebih dahulu, toh masi banyak negara yang belum pernah saya kunjungi. Misalnya ke Maldives atau Bhutan gitu *padahal di Indonesia aja masih banyak tempat yang belum pernah saya kunjungi :d*.

Ngomong-ngomong mengenai budaya, cukup banyak kebiasaan yang jauh bertolak belakang dengan Indonesia dan suka membuat saya takjub, heran, atau malah geleng-geleng kepala. Salah satu yang cukup kontradiktif, kebiasaan makan siang/malam bareng dengan rekan sekerja. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, di Indonesia tentunya kita sudah biasa makan siang rame-rame dengan rekan-rekan kerja atau sekedar hang-out di Starbucks selepas pulang kerja. Sedangkan disini agak berbeda.

Continue reading →

11.17.08

Stop and stare – It ain’t over until it’s over

Beberapa waktu belakangan ini, cuaca di Tokyo mulai menunjukkan perubahan. Temperatur udara sudah turun hingga belasan derajat dan sepertinya keluar rumah tanpa jaket merupakan tindakan yang kurang bijaksana. Langit juga terlihat lebih gloomy. Angin musim gugur sedang semangat-semangatnya bertiup seakan tidak rela tempatnya digantikan oleh musim dingin.

Sungguh ndak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tau-tau udah menjelang akhir taun. Pergantian taun memang masih sebulan lebih, tapi kadang tanpa sadar saya suka melakukan refleksi terhadap apa yang sudah saya jalani dan capaian yang berhasil saya peroleh selama setaun ini. Terus terang belum banyak, bahkan mungkin tidak ada *maaf…ndak inget :p*

Eniwe, akhir taun bukan berarti tidak ada yang seru. Justru kebalikannya, bulan November dan Desember ini bakal penuh keceriaan dan sukacita.

Continue reading →

10.21.08

Up in the Sky – Paint your perfect day

Saya dari kecil suka sekali makanan yang pedas. Beranjak dewasa kesukaan ini makin lama makin menjadi. Nggak bisa makan kalo nggak ada sambel. Makan apapun harus ada sambel terasi buatan nyokap. Nggak papa makan nasi putih saja, asal ada sambel *hardcore abisszz*.

Saya ingat sekali kalo ada keluarga yang datang ke rumah, terutama om-om dari aliran nyokap. Biasanya mereka punya kebiasaan ngemil setelah jam makan siang, menjelang sore. Atau malam setelah jam makan malam. Atau jam berapa pun asalkan terasa lapar, mereka akan makan.

Mereka akan segera ke meja makan, membuka tudung saji, ambil nasi lalu makan. Karna kebiasaan ngemilnya ini bukan pada jam-jam makan, seringkali sambel terasi yang wueenak buatan nyokap udah abis. Mereka kemudian akan ke dapur, mengambil beberapa buah cabe rawit lalu dipotong-potong. Kalo lagi rajin, diuleg. Setelah itu prosesi makan dilanjutkan kembali, dengan lebih nikmat dan khidmat.

Saya dan juga adik-adik saya kurang lebih juga sama, doyan cabe. Dulu kami berempat selalu adu makan cabe terbanyak saat sedang ngemil tahu petis atau martabak telor yang dibeliin bokap. Rekor saya waktu itu adalah 3 butir tahu dinikmati bersama 12 buah cabe rawit. Mungkin lebih tepat kalo dikatakan makan cabe pake tahu :p. Tapi kami belum sehebat papa nya Mei Mei yang membuat cabe sbagai cemilan *halo om! :d*.

Continue reading →

10.14.08

Chasing pavements – The journey continues?

Beberapa waktu yang lalu saya merencanakan untuk memperbaiki dan memperbaharui resume saya. Seperti yang pernah disinggung sebelumnya, saya mau nggak mau harus mempersiapkan diri untuk sekali lagi (dan mudah-mudahan terakhir kali) menjadi kutu loncat.

Iya, saya termasuk kutu loncat sejati. Saya bisa cepat meloncat kalo mengendus bau duit yang ditawarkan jauh lebih wangi :p. Tapi selama ini penyebab loncatan itu biasanya bukan karna tawaran fulus yang menggiurkan di seberang sana *bingung ndak? :p*, tetapi lebih disebabkan karena idealisme.

Tapi kali ini agak berbeda. Alasan utama saya mempersiapkan resume dan portfolio adalah uang. Terdengar matre sekali :p. Janji-janji surga yang diumbar oleh atasan saat proses wawancara dulu ternyata tinggal janji, terutama soal penyesuaian (kenaikan) gaji setelah setahun sejak saya diterima (termasuk bonus-bonus). Padahal dah setaun nih *huh!*.

Continue reading →

Page 4 of 22« First...234561020...Last »