<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>This is the best day ever / Soyuzno's journal</title>
	<atom:link href="http://soyuzno.com/journal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://soyuzno.com/journal</link>
	<description>This is the best day ever is a (almost) daily journal, random ramblings and not-so-important writings of a creative and art direction, also a graphic designer in Tokyo.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Feb 2010 23:41:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Final sound &#8211; Midnight in a perfect world</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2010/02/final-sound-midnight-in-a-perfect-world/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2010/02/final-sound-midnight-in-a-perfect-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 23:41:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Bulan November kemarin saat saya seharusnya meninggalkan Jepang, saya jadinya &#8216;hanya&#8217; meninggalkan Tokyo dengan gregetan karena semua rencana yang sudah saya susun dengan indahnya jadi berantakan.
Tepat beberapa hari sebelum saya harus angkat kaki dari tempat tinggal saya, sepasang suami istri yang saya bantu beberapa waktu lalu &#8212;yang selanjutnya saya sebut saja Om dan Tante&#8212; menyelamatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan November kemarin saat saya seharusnya meninggalkan Jepang, saya jadinya &#8216;hanya&#8217; meninggalkan Tokyo dengan gregetan karena semua rencana yang sudah saya susun dengan indahnya jadi berantakan.</p>
<p>Tepat beberapa hari sebelum saya harus angkat kaki dari tempat tinggal saya, <a href="http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-2/" title="Read the related story">sepasang suami istri</a> yang saya bantu beberapa waktu lalu &mdash;yang selanjutnya saya sebut saja Om dan Tante&mdash; menyelamatkan saya di detik-detik terakhir. </p>
<p>Perusahaan yang sedianya berminat memperkerjakan saya, entah kenapa menjadi lambat dalam menindaklanjuti proses kepindahan saya. Padahal saya sudah menyetop kontrak apartemen dan tidak mungkin untuk mengubah keputusan tersebut. Butuh uang (sangat banyak) dan waktu. Dua hal yang dari dulu tidak pernah saya miliki. </p>
<p>Makanya, saat Om dan Tante memberikan penawaran yang menggiurkan, saya langsung menyanggupi. Daripada nanti jadi gelandangan tampan di Jepang. </p>
<p>Selama tinggal bersama mereka, banyak hal-hal menarik yang terjadi dan saya juga mendapatkan banyak sekali pelajaran yang bermanfaat. Hal-hal yang menarik itu  berupa kejadian-kejadian kecil tapi selalu membuat saya terpukau sampai kadang-kadang ternganga hingga rongga mulut menjadi kering. </p>
<p><span id="more-298"></span><strong>Di minggu pertama</strong> saya tinggal disana, saya melihat seekor kijang berada di tengah jalan. Saat itu sudah lewat tengah malam ketika kami kembali dari suatu tempat. Beberapa kilometer mendekati rumah, sesosok kijang jantan besar tiba-tiba saja muncul entah dari mana. Beruntung saat itu kami tidak ngebut. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/journal/wp-content/uploads/2010/02/asakawa-hills.jpg" alt="A view of Asakawa" class="alignleft" />Kijang itu berdiri gagah dengan tanduknya yang besar dan kokoh. Memandang kami sejenak, kemudian meloncat ke balik rerimbunan pohon di sisi jalan. Saya cuma bisa menganga. Untung di pegunungan tidak ada lalat <em>*atau ada ya?*</em>.</p>
<p>Saya langsung teringat salah satu adegan dalam salah satu episode film Harry Potter <em>*saya lupa yang mana*</em>; di mana saat Harry sedang bertahan mati-matian melindungi Sirius Black dan dirinya dari sedotan Dementor, dari seberang danau muncul sesosok  kijang yang sekujur tubuhnya mengeluarkan cahaya dari rapalan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Spells_in_Harry_Potter#E" title="Outside link to the definition of Expecto Patronum"><em>Expecto Patronum</em></a> yang dahsyat. Harry sangat percaya bahwa kijang itu penjelmaan ayahnya yang datang membantu.</p>
<p>Sebagai fans berat Harry Potter, <a href="http://ka-nia.com/" title="Outside link to Kania's blog">Kania</a> pasti bisa membantu mengingatkan di episode yang manakah itu :p.</p>
<p><strong>Di minggu kedua</strong>, saya berkesempatan melihat monyet. Kali ini di siang bolong, saat kami sedang dalam perjalanan menuju tempat calon klien. Mobil kami harus berhenti saat serombongan monyet dalam jumlah cukup banyak &mdash;besar dan kecil&mdash; menyeberang dari hutan di sisi jalan sebelah kanan ke hutan di sisi jalan sebelah kiri. Mereka bermain-main sejenak di pepohonan sebelum menghilang ke dalam hutan.</p>
<p>Kali ini saya teringat Indonesia. Bukan! Bukan orangnya lho, tapi momen nya. Saya teringat saat terjadi demo atau sepakbola, jalanan selalu macet karena para pendemo atau pendukung kesebelasan tertentu sedang lewat dan kendaraan harus berhenti daripada babak belur dihajar massa.</p>
<p><strong>Pada minggu ketiga</strong>, saya melihat bintang jatuh. Saat itu sudah lewat tengah malam dan saya baru selesai kerja. Salah satu hal yang menyenangkan dari tinggal di pegunungan yang jauh dari kota adalah langit yang bersih. Saya cukup keluar rumah dan mendongak, dan di atas sana puluhan bintang bersinar dengan indahnya di langit yang tak berawan. Bahkan kadang saya bisa melihat rasi bintang yang saya lupa namanya. </p>
<p>Saat bintang jatuh itu lewat, saya cuma bisa ternganga kembali. Sama sekali tidak terpikir sedikitpun untuk <em>make a wish</em>. Terus terang saraf motorik saya agak payah kalau berhadapan dengan reaksi-reaksi spontan. </p>
<p><strong>Di minggu keempat</strong>, saya beruntung dapat melihat seekor rubah yang sedang menyeberang jalan. Saat itu sudah  tengah malam juga, kurang lebih sama dengan waktu di saat saya melihat kijang. Rupanya hewan-hewan itu suka menyeberang jalan malam-malam, padahal jalanan sangat gelap. Kebiasaan yang buruk. Saya pernah menemukan jasad kucing yang dibiarkan tergeletak di pinggir jalan. Kucing itu rupanya menjadi korban tabrak lari dari pengemudi yang ugal-ugalan.</p>
<p>Di minggu-minggu berikutnya saya kembali melihat kijang, rubah, dan juga monyet. Tinggal satu makhluk yang saya belum lihat hingga tulisan ini dibuat. Beruang. Tapi melihat banyaknya hal-hal luar biasa yang sudah terjadi, kemungkinan besar saya akan  melihatnya suatu saat nanti. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2010/02/final-sound-midnight-in-a-perfect-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>In between days &#8211; A dustland fairytale</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2010/01/in-between-days-a-dustland-fairytale/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2010/01/in-between-days-a-dustland-fairytale/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 00:25:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedtime stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini adalah hari pertama turunnya salju di tahun ini. Musim dingin sudah tiba dari November tahun lalu, tapi salju dengan pongahnya tidak sudi menampakkan diri hingga pertengahan Januari ini. 
Mataku memandang butiran-butiran putih yang berjatuhan dari langit, sepertinya para dewa sedang mengadakan pesta es serut dan remah-remah es nya jatuh ke bumi. 
Aku selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini adalah hari pertama turunnya salju di tahun ini. Musim dingin sudah tiba dari November tahun lalu, tapi salju dengan pongahnya tidak sudi menampakkan diri hingga pertengahan Januari ini. </p>
<p>Mataku memandang butiran-butiran putih yang berjatuhan dari langit, sepertinya para dewa sedang mengadakan pesta es serut dan remah-remah es nya jatuh ke bumi. </p>
<p>Aku selalu <a href="http://soyuzno.com/journal/2007/06/youll-never-be-frightened-to-make-them-wait/" title="Read the previous article">suka hujan</a>, apalagi hujan salju. Di tempat asalku, salju hanya ada dalam imajinasi. Beruntung aku terlahir penuh imajinasi sehingga saat aku ingin melihat salju, cukup dengan melamun dan duniaku berubah menjadi negeri fantasi yang penuh salju. </p>
<p>Aku ingat bagaimana sedari kecil aku ingin sekali bisa menyentuh salju. Menangkapnya saat ia jatuh. Walaupun aku paham bahwa salju itu tak lebih hanya butiran es, sama dengan yang ada di dalam kulkas. </p>
<p>Makanya aku suka sekali membuka lemari pendingin dan menyentuh bunga-bunga es yang ada di <em>freezer</em> dan ayah selalu memarahiku saat kepalaku sudah setengah masuk ke dalam kulkas.</p>
<p><span id="more-292"></span><img src="http://soyuzno.com/uploads/snow.jpg" alt="snow"/></p>
<p>Mataku kembali memandang ke luar jendela. Pohon-pohon yang berada di pekarangan tertutup salju. Daun-daun yang berjatuhan di musim gugur kemarin sudah berganti dengan tumpukan es yang bertengger dengan manisnya di dahan-dahan pohon seakan berkata, hey pohon&#8230;usah kau bersedih ditinggal daun-daunmu. Aku akan menemani hari-harimu yang dingin hingga daunmu kembali dalam pelukanmu.</p>
<p>Ah&#8230;ternyata bukan hanya musim gugur yang bisa membuat perasaan menjadi <em>mellow</em>. Pikiranku melayang ke musim dingin dua tahun yang lalu. </p>
<p>Siang itu udara dingin sungguh menusuk tulang, tapi Harajuku masih tetap ramai dengan orang-orang yang berlomba memenuhi nafsu belanja mereka. Walaupun aku berada di kantor yang hangat, tapi kadang masih bisa kurasakan hembusan angin dingin yang membelai leherku dengan mesranya, bagaikan seorang kekasih yang sedang mencumbu pujaan hatinya.</p>
<p>Saat itu kantor masih sepi karena teman-temanku sedang keluar makan siang. Hanya tinggal aku dan seorang temanku yang berada di ruangan sebelah, ruang tim editor.</p>
<p>Aku sedang sibuk bercengkerama dengan komputer Mac ku, saat sebuah suara memanggilku lembut.</p>
<p>&#8220;Andrew, kamu nggak dingin? Cuma pakai t-shirt kayak gitu?&#8221;</p>
<p>Aku menoleh ke arah asal suara dan melihat Nanako &mdash;teman kantorku&mdash; sedang berdiri di depan pintu ruanganku. Dengan wajah yang imut, pembawaan keibuan serta lemah lembut, sulit bagi pria manapun untuk menolak rasa ingin menyayangi dan melindunginya. Kadang aku berpikir, apa semua perempuan Kyoto seperti itu.</p>
<p>&#8220;Oh, nggak kok&#8221;, jawabku sambil tersenyum. &#8220;Aku malah merasa kepanasan sih sebenarnya.&#8221;</p>
<p>Huh&#8230;sombong!</p>
<p>&#8220;Wah hebat sekali! Aku kedinginan nih. Lihat, tanganku sampai dingin banget&#8221;, katanya sambil menengadahkan kedua tangannya dan menyodorkannya ke arahku. </p>
<p>Aku bangkit dari kursiku dan menghampirinya. Agak ragu dan canggung kujulurkan kedua tanganku untuk merasakan sedingin apa telapak tangannya. Terlalu lama bergaul dengan komputer sepertinya telah mengikis kemampuanku dalam menghadapi wanita. </p>
<p>Payah, keluhku dalam hati.</p>
<p>Belum sampai jari-jariku menyentuh tangannya yang halus, tangannya terlebih dulu meraih dan menggenggam jemariku. </p>
<p>Erat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2010/01/in-between-days-a-dustland-fairytale/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Distant noises &#8211; Other voices pounding in my broken head</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2010/01/distant-noises-other-voices-pounding-in-my-broken-head/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2010/01/distant-noises-other-voices-pounding-in-my-broken-head/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 11:09:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan yang lalu, atasan saya &#8212;si George Clooney&#8212; mengajak saya diskusi di sebuah bar (yang berubah menjadi kios bento saat siang hari), tepat di seberang gedung kantor. Ruangan berbentuk setengah segitiga dengan ukuran 2&#215;1 meter itu lebih tepat disebut rumah liliput. Berada didalamnya bisa membuat saya megap-megap seperti ikan lele yang perlu oksigen.
Malam sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa bulan yang lalu, atasan saya &mdash;si George Clooney&mdash; mengajak saya diskusi di sebuah bar (yang berubah menjadi kios bento saat siang hari), tepat di seberang gedung kantor. Ruangan berbentuk setengah segitiga dengan ukuran 2&#215;1 meter itu lebih tepat disebut rumah liliput. Berada didalamnya bisa membuat saya megap-megap seperti ikan lele yang perlu oksigen.</p>
<p>Malam sudah cukup larut sehingga bar yang dwifungsi itu padat dengan manusia yang melepas kepenatan setelah seharian bekerja. Si Clooney langsung memesan bir untuknya dan <em>Coca Cola</em> buat saya. Sang bartender &mdash;yang ternyata cantik juga&mdash; terlihat ragu dan mengkonfirmasi apa benar kami memesan <em>cola</em>. Tampang sangar kok minumnya <em>cola</em>, begitu mungkin pikirnya.</p>
<p>Isi pembicaraan kami berdua kurang lebih mengenai masa depan saya di perusahaan, terutama sesudah berakhirnya masa <em>probation</em> saya. Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya disepakati bahwa kami tidak bisa bersama lagi dan harus memilih jalan masing-masing. </p>
<p>Perbedaan visi dan tidak tercapainya ekspektasi dari kedua belah pihak. Dua hal itu yang menjadi alasan utama perpisahan antara perusahaan dan saya.</p>
<p><span id="more-279"></span>Di satu sisi, keputusan itu memberi dampak yang membuat piaraan di perut resah dan mengadakan aksi demo. Membayangkan bahwa ada kemungkinan saya tidak akan bisa makan di resto <em>all you can eat</em> sesering biasanya, karena dompet bakal lebih cepat menipis.</p>
<p>Di sisi lain, hati kecil ini melonjak kegirangan karena tidak perlu lagi merasakan yang namanya terpaksa bangun, terpaksa berangkat, terpaksa kerja, terpaksa lembur. Hanya dua hal yang tidak menimbulkan rasa terpaksa&mdash;saat pulang kantor dan saat memandang perempuan-perempuan cantik yang lalu-lalang di Harajuku. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/bluesky.jpg" alt="Blue sky at Hachioji" class="alignleft" />Pada bulan berikutnya, dimulailah proses mencari pekerjaan lagi. Seperti yang sudah-sudah, mencari lowongan desainer yang tidak perlu menguasai bahasa Jepang merupakan hal yang luar biasa sulit. Mengutip kata almarhum Asmuni, &#8220;Sebuah hil yang mustahal.&#8221; </p>
<p>Tapi herannya, saya tidak pernah kapok untuk malas belajar bahasa Jepang. Padahal setiap taun selalu mengalami siklus &#8216;<em>berhenti kerja-nganggur-kelaparan-dapet kerja lagi</em>&#8216; yang seakan menjadi ritual tahunan.</p>
<p>Pelajaran moral nomer satu: Kalau berniat menetap dan bekerja di negara yang bahasanya bukan Inggris, kuasai 100% bahasa negara tersebut. Terutama jika di negara itu makhluk perempuannya cantik, imut, dan menggemaskan.</p>
<p>Dengan menguasai sepenuhnya bahasa tersebut, kita bisa menikmati hidup senikmat-nikmatnya&mdash;yang dalam bahasa <em>londo</em> nya disebut &#8216;<em>live our life to the fullest</em>&#8216;. Bukan berarti saya tidak menikmati kehidupan disini. Sungguh, saya sangat menikmati setiap detiknya. Hanya saja terasa ada yang kurang. Seperti makan gado-gado tanpa krupuk. Atau ikan gurame goreng tanpa sambel terasi. Tetap enak tanpa krupuk atau sambel, tapi kurang ajib.</p>
<p><em>Eniwe</em>, setelah beberapa waktu berlalu, semua celana saya mulai kedodoran dan saya masih belum ada kerjaan penuh waktu (<em>fulltime</em>). Saat itulah saya memutuskan untuk mengubah strategi sebelum saya terpaksa harus berganti mengenakan sarung, karena tidak ada celana yang pas. Pengalaman dan ketrampilan dalam menyusun strategi digital untuk website membuat otak saya otomatis bekerja dan menganalisa semua kemungkinan yang bisa membuat saya sehat berisi dan piaraan di perut tersenyum kembali.</p>
<p>Menjadi <em>fulltime freelance</em> jelas bukan pilihan yang bijak, walaupun sangat menggiurkan. Kendala bahasa (lagi) menjadi penyebab utama nya. Ditambah dengan status orang asing, tantangan yang saya hadapi akan lebih berat. Menunggu hingga berakhirnya krisis ekonomi juga jelas-jelas merupakan langkah yang bodoh.</p>
<p>Akhirnya saya mengambil keputusan untuk pindah ke negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional. Walaupun tidak <em>was-wes-wos</em> seperti Eminem yang lagi kepedesan, tapi saya cukup pede dengan kemampuan bahasa Inggris saya.</p>
<p>Kenapa bukan memilih pulang ke Indonesia? Saya sendiri belum menemukan jawabannya. Mudah-mudahan bukan karena nasionalisme saya telah luntur.</p>
<p>Pilihan pertama sudah dapat dipastikan, New York atau London. Dua kota tempat mangkalnya pemain-pemain industri periklanan dunia. Membayangkan berada di tengah hiruk pikuk kawasan Madison Avenue saja sudah bisa membuat bulu kaki saya bergidik.</p>
<p>Tetapi saat ngobrol lewat telpon dengan seorang teman baik dan sekaligus guru flash saya, <a href="http://ferryhalim.com/" title="Outside link to Ferry Halim">Ferry Halim</a>, muncul dua negara yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Norwegia dan Swedia. </p>
<p>Imajinasi pun melayang ke ranah Skandinavia, berjalan-jalan di dataran berbukit-bukit dengan bangunan peninggalan jaman Medieval. Sungguh menerbitkan air liur <em>*slurp!*</em>. Ditambah lagi dengan berkumpulnya perusahaan desain favorit saya seperti <a href="http://northkingdom.com/" title="Outside link to North Kingdom">North Kingdom</a>, <a href="http://perfectfools.com/" title="Outside link to Perfect Fools">Perfect Fools</a>, dan <a href="http://f-i.com/" title="Outside link to Fantasy Interactive">Fantasy Interactive</a>, menjadikan Swedia sebuah pilihan yang layak dipertimbangkan.</p>
<p>Tapi saya harus menghapus air liur yang sudah sempat jatuh beberapa tetes. Swedia dan Norwegia tidak menggunakan bahasa Inggris. Belajar bahasa lagi, <em>no way</em>!</p>
<p>Akhirnya saya dengan tegas memutuskan untuk membuang ego saya jauh-jauh &mdash;yang awalnya saya kira tidak saya miliki&mdash; dan memilih negara yang menggunakan bahasa Inggris, kalau bisa lokasinya dekat dengan Indonesia. Pertimbangannya, saya bisa lebih leluasa untuk mudik dan bertemu orang tua serta adik-adik saya di Surabaya.</p>
<p>Singkat cerita, saya mendapatkan pekerjaan di negara lain dan semua persiapan sudah saya lakukan, termasuk persiapan mental untuk meninggalkan teman spesial, tercinta, dan teman-teman yang lain. Lantas otak pun kembali bekerja dan menyusun strategi-strategi jangka pendek hingga jangka panjang. Semua rencana terlihat sangat sempurna. Tinggal dijalani saja.</p>
<p>Tapi disaat itu pula, satu persatu rencana dan strategi yang sudah disusun mulai berguguran seakan terkena <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Butterfly_effect" title="Outside link to Wikipedia">butterfly effect</a>. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/shinjuku.jpg" alt="Shinjuku West at night"/></p>
<p>Hal itu sempat membuat saya bertanya-tanya dan protes ke Tuhan. Rencana saya oke kok. Saya bisa memaksimalkan potensi tanpa dibatasi hal-hal bodoh seperti ketidakmampuan bahasa, bisa lebih sering bertemu ortu dan adik-adik, dan lagipula perempuan-perempuan Jepang akan merasa aman. Semua senang kan?</p>
<p>Saya terus mencoba mereka-reka apa sebenarnya rencana besarnya. Tapi semuanya berujung pada tanda tanya segede gaban.</p>
<p>Setelah mulai dijalani, barulah perlahan tersingkap maksud sebenarnya. Dan memang saya akui jauh lebih sempurna dari strategi-strategi saya <em>*ya iya donk, makanya disebut Tuhan, bukan Soyuz*</em>.</p>
<p>Pelajaran moral nomer dua: Meskipun engkau seorang <em>digital strategist</em> atau <em>strategic planner</em> yang handal jaya, jangan pernah mencoba mengerti strategiNya. Lebih baik diikuti saja deh daripada pusing. </p>
<p>Salah satu hal yang mulai tersingkap adalah tugas saya ternyata belum selesai di negara ini. Rupanya masih ada yang memerlukan kehadiran dan bantuan saya, baik secara profesional maupun personal. </p>
<p>Jadinya, ditempatkanlah saya di Otsuki untuk membantu <a href="http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-2/" title="Read the related article">sepasang suami istri</a> yang sedang berjuang mewujudkan mimpi dan ambisi mereka.</p>
<p>Sepertinya 2010 ini akan menjadi tahun yang menarik. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2010/01/distant-noises-other-voices-pounding-in-my-broken-head/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>This is the last time – We might as well be strangers – part 3 (end)</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2009/12/this-is-the-last-time-%e2%80%93-we-might-as-well-be-strangers-%e2%80%93-part-3-end/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2009/12/this-is-the-last-time-%e2%80%93-we-might-as-well-be-strangers-%e2%80%93-part-3-end/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 12:35:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Dari pembicaraan awal di email yang saya terima, tugas saya adalah membantu memindahkan data dalam bentuk Word ke dalam PDF. Bagi orang seperti saya yang sehari-harinya bernapas di dunia desain dan komputer, pekerjaan itu merupakan salah satu tugas yang mudah.
Tapi ternyata tidak semudah yang saya perkirakan. Kendala yang saya hadapi saat mengerjakan hal itu adalah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari pembicaraan awal di email yang saya terima, tugas saya adalah membantu memindahkan data dalam bentuk Word ke dalam PDF. Bagi orang seperti saya yang sehari-harinya bernapas di dunia desain dan komputer, pekerjaan itu merupakan salah satu tugas yang mudah.</p>
<p>Tapi ternyata tidak semudah yang saya perkirakan. Kendala yang saya hadapi saat mengerjakan hal itu adalah, Indesign yang digunakan adalah versi Jepang, dengan format penulisan dalam <em>template</em> nya adalah vertikal dari atas ke bawah layaknya buku-buku Jepang. </p>
<p>Pekerjaan yang harusnya bisa selesai (setidaknya dalam bayangan saya) dalam waktu 5 menit, akhirnya menjadi 2 malam 3 hari. Selama hari-hari itu saya <em>kleyengan</em> menghadapi tulisan kanji yang terdapat dalam fungsi dan menu dari Indesign. </p>
<p><span id="more-267"></span>Saat itulah saya menyadari kenapa hampir semua perusahaan yang saya kirimi surat lamaran selalu mengharuskan bahasa Jepang tingkat bisnis saat mencari seorang desainer. Rupanya kendalanya nanti ada pada <em>software</em> yang akan digunakan, bukan kendala komunikasi. </p>
<p>Tadinya saya pikir perusahaan-perusahaan tersebut melakukan diskriminasi terhadap orang asing, walaupun saya tetap beranggapan dalam hal tertentu negara ini adalah negara yang penuh diskriminasi. Sepertinya menjadi orang asing disini termasuk kejahatan, terutama menjadi orang asing yang tidak menguasai bahasa Jepang. </p>
<p><em>Eniwe</em>, perhitungan yang meleset itu menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan karena saya bisa mengalami banyak hal menarik selama tinggal beberapa hari di tempat mereka. Setiap hal yang kurang menyenangkan atau tidak sesuai rencana, pasti selalu terdapat hal yang luar biasa di baliknya. </p>
<p><strong>Pertama</strong>, Saya jadi bisa menikmati tidur yang luar biasa. Saya tidur di kamar tamu dimana terdapat sebuah ranjang yang keterlaluan empuknya, ditambah <em>bed cover</em> dan selimut hangat. Sungguh berbeda dengan <em>futon</em> saya yang tipis dan keras itu. Saya seakan tidak mau bangun. </p>
<p><strong>Kedua</strong>, saya bisa merasakan membuang perasaan di toilet ramah lingkungan. Saat membuang perasaan saya yang tidak enak, saya terkagum dengan dekorasi toilet mereka yang sungguh berkesan natural. Ditambah dengan banyak jangkrik dan juga laba-laba besar di dinding, suasana alam nya menjadi lebih terasa.</p>
<p>Yang lebih mengagumkan adalah toilet ini tidak menggunakan <em>flush</em> layaknya toilet modern. Jadi perasaan yang terbuang itu langsung <em>&#8216;mak plung&#8217;</em> ke dalam <em>septic tank</em> yang telah dirancang sedemikian rupa sehingga bisa mengolah limbah manusia menjadi pupuk.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, saya bisa menikmati makanan yang ditanam sendiri. Memang bukan saya yang menanam sayur-mayur nya, tapi saat menikmati makanan yang dihidangkan, sungguh luar biasa dan memiliki kelezatan yang &#8216;lain&#8217;. Terasa lebih segar. </p>
<p><strong>Keempat</strong>, saya bisa mulai belajar mengurangi kegugupan saya terhadap anjing. Sudah lama sebenarnya saya ingin mengatasi trauma saya dan memulihkan hubungan mesra saya dengan anjing. Dan seatap dengan enam anjing sepertinya merupakan terapi yang jitu nantinya. </p>
<p><strong>Kelima</strong>, saya mendapatkan banyak pesanan kerja. Karena saya sangat membantu mereka, saya jadinya diberikan tanggung jawab untuk mengerjakan 3 buah website mereka dan mengarahkan tampilan serta estetika dari keseluruhan buku-buku yang akan diterbitkan di masa yang akan datang.</p>
<p>Saya sama sekali tidak menyangka bahwa niat awal saya yang &#8217;sekedar&#8217; ingin berbuat sedikit kebaikan bagi sesama, malah mendatangkan berkat bertubi-tubi dan pengalaman-pengalaman lain yang sungguh luar biasa. </p>
<p>Hidup itu sungguh tidak bisa ditebak tapi bisa dipastikan akan selalu mengagumkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2009/12/this-is-the-last-time-%e2%80%93-we-might-as-well-be-strangers-%e2%80%93-part-3-end/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>This is the last time &#8211; We might as well be strangers &#8211; part 2</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-2/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 13:45:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Kami sepakat untuk bertemu di rumah mereka. Dengan asumsi bahwa mengerjakan langsung di tempat mereka akan lebih cepat dibandingkan di tempat saya. Lagipula saya berpikir ingin sekali-kali berlibur ke luar kota. Dan ini adalah kesempatan yang luar biasa.
Pada hari yang disepakati, yang ternyata adalah hari dimana typhoon menghantam Tokyo, saya berangkat menuju stasiun Hachioji dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span title="K" class="cap">K</span>ami sepakat untuk bertemu di rumah mereka. Dengan asumsi bahwa mengerjakan langsung di tempat mereka akan lebih cepat dibandingkan di tempat saya. Lagipula saya berpikir ingin sekali-kali berlibur ke luar kota. Dan ini adalah kesempatan yang luar biasa.</p>
<p>Pada hari yang disepakati, yang ternyata adalah hari dimana <em>typhoon</em> menghantam Tokyo, saya berangkat menuju stasiun Hachioji dan tersangkut disana. Seluruh kereta ke luar Tokyo tidak beroperasi karena takut diterbangkan angin. </p>
<p>Setelah berkomunikasi sejenak, mereka berdua memutuskan untuk turun gunung dan menjemput saya di Hachioji. Karena perjalanan dari rumah mereka membutuhkan waktu 1 jam, saya disarankan untuk jalan-jalan dulu. </p>
<p>Dengan senang hati saya menerima ide tersebut, langsung menuju ke Becks dan memesan satu set burger+fries+salad serta secangkir kopi. Definisi &#8216;jalan-jalan&#8217; buat saya akan selalu melibatkan makanan. </p>
<p><span id="more-257"></span>Setelah menunggu selama 1 jam, akhirnya saya bertemu dengan mereka. Sepasang suami istri yang ramah dan sederhana. Sambutan mereka sungguh luar biasa. Selama dalam perjalanan ke rumah mereka, kami banyak bercerita. Terlihat sekali bagaimana mereka sungguh bersukacita atas kedatangan saya. Hal itu sungguh menyenangkan.</p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/asakawa.jpg" alt="Asakawa, Japan"/></p>
<p>Diperlukan kurang lebih satu setengah jam untuk mencapai rumah mereka, setelah berkelok sana-sini di lereng gunung. Asakawa benar-benar merupakan sebuah daerah yang indah buat saya. Jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain cukup jauh, sekitar tiga kali lemparan kolor. </p>
<p>Selain itu rumah-rumahnya besar dan terlihat cukup tua. Dan sejauh mata memandang, hanya terlihat bukit-bukit penuh pepohonan dengan daun menguning-mencoklat-memerah khas musim gugur. </p>
<p>Rumah mereka juga luar biasa. Sebuah rumah yang besar dan asri, serta berumur kurang lebih 300 tahun, berada di salah satu sisi lereng bukit. Rumah ini merupakan salah satu rumah yang pertama kali didirikan di daerah tersebut. </p>
<p>Di samping rumah mereka yang besar itu, terdapat sebuah rumah panggung yang sepertinya merupakan gudang dan di kolong rumah nya dipakai untuk menyimpan bongkahan batang pohon yang digunakan sebagai kayu bakar untuk perapian di dalam rumah. </p>
<p>Di sekeliling rumah tersebut merupakan kebun dimana mereka menanam sayur-sayuran dan buah-buahan untuk dikonsumsi sendiri. Sedangkan di belakang rumah mereka merupakan hutan dengan pohon-pohon besar yang menjulang dan sepertinya serem kalo malem. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/asakawa2.jpg" alt="Asakawa, Japan"/></p>
<p>Begitu mobil yang kami tumpangi berhenti tepat di depan pintu, saya melihat di balik pintu tersebut muncul beberapa sosok wajah yang cukup saya kenali. Saya mulai tegang. Begitu tuan rumah membuka pintu rumah nya, makhluk yang berada di balik pintu tersebut berhamburan keluar. </p>
<p>Tidak tanggung-tanggung, empat ekor anjing berukuran sedang dan besar langsung menerjang saya. Tiga berwarna coklat dan satu anjing berwarna hitam berlari-lari disekeliling saya sambil mengendus-endus. Selain itu masih ada dua ekor lagi yang berada di dalam  rumah. </p>
<p><em>Glek!</em> Jantung saya berdetak dengan cepatnya, layaknya sedang menikmati malam pertama. Tubuh pun mulai membeku tidak bisa bergerak. Satu anjing mungkin masih bisa saya atasi, tapi kalo empat&#8230;tunggu dulu. </p>
<p>Empat ekor anjing yang harusnya lucu-lucu itu, terus mengelilingi saya sambil mengibaskan ekor mereka dengan riang. Tuan rumah mengatakan kalau hal ini sangat jarang terjadi. Makhluk-makhluk lucu tersebut selalu menggonggong tak henti-hentinya kalau ada tamu yang datang. Berarti terbukti kalau saya memang memiliki hubungan yang unik dengan makhluk-makhluk tersebut. </p>
<p>Setelah berhasil mengatasi kegugupan saya, walaupun jantung saya masi berdetak dengan irama <em>ajeb-ajeb</em>, kami langsung menuju ke lantai 2 yang merupakan studio mereka. Kembali saya takjub melihat ruangan di lantai 2 tersebut. </p>
<p>Seluruh lantai 2 tersebut terbuat dari kayu dan atmosfirnya sungguh mendukung untuk produksi kreatif. <em>Cozy</em> dan tenang. Selain itu 3 buah komputer Mac dengan gagahnya bertengger di meja kerja mereka. Sungguh hidup ini terasa sangat indah jika hanya ada Mac di dunia ini. </p>
<p>Kami pun mulai bekerja. Pekerjaan yang tadinya saya perkirakan bisa saya selesaikan dalam waktu 5 menit ternyata meleset&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>This is the last time &#8211; We might as well be strangers &#8211; part 1</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-1/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 04:48:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Otsuki (大月), sebuah kota kecil di pegunungan dengan populasi 29.803 jiwa pada tahun 2008 (sumber: Wikipedia), terletak di prefektur Yamanashi dan berjarak 40 menit dari gunung Fuji, jika mengendarai mobil.
Untuk mencapai Otsuki, ada beberapa alternatif kereta api yang bisa digunakan dari stasiun Shinjuku atau Hachioji. Tentu saja bisa juga menggunakan sepeda, tapi sepertinya kurang bijaksana. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span title="O" class="cap">O</span>tsuki (大月), sebuah kota kecil di pegunungan dengan populasi 29.803 jiwa pada tahun 2008 (sumber: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ōtsuki,_Yamanashi" title="Outside link to Wikipedia page">Wikipedia</a>), terletak di prefektur Yamanashi dan berjarak 40 menit dari gunung Fuji, jika mengendarai mobil.</p>
<p>Untuk mencapai Otsuki, ada beberapa alternatif kereta api yang bisa digunakan dari stasiun Shinjuku atau Hachioji. Tentu saja bisa juga menggunakan sepeda, tapi sepertinya kurang bijaksana. </p>
<p>Terdapat dua jalur kereta api yang bisa digunakan. Pertama adalah <em>Chuo Line</em> yang merupakan kereta lokal, dimana kata &#8216;lokal&#8217; berarti perjalanan akan menempuh waktu cukup lama. </p>
<p>Kedua, dengan <em>Kaiji</em> atau <em>Super Asuza</em> yang merupakan kereta ekspres dan membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapai Otsuki dari stasiun Shinjuku atau 40 menit jika berangkat dari stasiun Hachioji. </p>
<p><span id="more-241"></span>Beberapa waktu belakangan ini saya sering mengunjungi kota ini untuk bertemu dengan klien. Terus terang, sangat menyenangkan saat kita bisa mengkombinasikan pekerjaan dengan rekreasi. Semua yang dilakukan terasa lebih mudah dinikmati.</p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/otsuki.jpg" alt="photo of Otsuki"/></p>
<p>Sebenarnya saya hanya mampir beberapa menit saja di Otsuki. Pertemuan saya dengan klien selalu dilakukan di rumah klien yang harus ditempuh dengan mobil dan membutuhkan waktu kurang lebih 18 menit dari tengah kota, setelah menanjak dan berkelok-kelok di lereng gunung hingga sampai pada satu daerah bernama Asakawa.</p>
<p>Jika anda lantas terbayang sebuah daerah terpencil, maka bayangan itu tidak salah. Sinyal telpon selular belum mencapai Asakawa. Tapi untungnya sudah tersedia koneksi internet pita lebar (<em>broadband</em>) ADSL. </p>
<p>Awal pertemuan kami terjadi sekitar bulan September akhir.  Saat itu saya menerima sebuah email yang masuk ke <em>inbox</em> nipponscape.com saya. Isi email itu menceritakan bahwa si pengirim surat adalah seorang wanita yang juga merupakan penulis buku, pengajar dalam bidang penyembuhan alternatif dan berasal dari Skotlandia, bersuamikan orang Jepang yang juga seorang penulis handal serta memiliki keahlian akupunktur. </p>
<p>Mereka berdua tinggal di gunung, di sebuah rumah yang terbuat dari kayu dan sudah berusia 300 tahun (rumahnya lho, bukan mereka). Mereka bercocok tanam dan menikmati makanan dengan sayuran yang berasal dari kebun sendiri. Terdengar menyenangkan, bukan?</p>
<p>Selain itu mereka tinggal bersama 2 ekor kucing dan 6 ekor anjing. Nah yang ini terdengar kurang menyenangkan buat saya. Saya memiliki <em>love-hate relationship</em> yang cukup unik dengan anjing. Saya suka sekali anjing, tapi saya juga takut dengan anjing. Saya ingin sekali memelihara <em>Golden Retriever</em> tapi saya gugup kalau berhadapan dengan anjing. </p>
<p>Hubungan yang aneh.</p>
<p>Eniwei, mereka menceritakan kalau saat ini sedang mempersiapkan sebuah buku yang sudah siap dicetak dalam format Ms. Word. Sayangnya pihak percetakan &mdash;sudah pasti&mdash; tidak menerima format Word dan menyarankan mereka berdua untuk mencari seorang desainer yang profesional, yang bisa membantu memindahkan tulisan di Word tersebut ke dalam format Adobe Indesign. </p>
<p>Singkat cerita, mereka menemukan website Nipponscape.com dan memutuskan meminta bantuan. Mereka mengatakan hanya memiliki sedikit uang untuk membayar jasa desainer dan juga dalam keadaan <em>desperado</em> karena sebentar lagi akan digelar konferensi pers mengenai peluncuran buku tersebut, tapi buku nya sama sekali belum dibuat. </p>
<p>Saya lantas menghapus email dari mereka. Tentu bukan karena sombong atau tidak peduli. Di Nipponscape, merespon email adalah tugas dari rekan saya. Lagipula sebagai orang asing, saya tidak memiliki kewenangan yang cukup untuk mengambil keputusan. Agak disayangkan memang, di negara semaju ini masih kental aroma diskriminasi.</p>
<p>Seminggu kemudian, saya kembali menerima email dari mereka. Tapi kali ini ditujukan langsung ke email pribadi saya. Dalam email tersebut dituliskan kalau penulis wanita ini berusaha sangat keras untuk bisa mencari info tentang saya. Dalam prosesnya, mereka menemukan banyak website yang membahas tentang desain soyuzno.com yang terbaru *<em>ehem&#8230;</em>*. Mereka berdua semakin bertekad untuk menghubungi saya. </p>
<p>Saya memutuskan membalas email mereka. Saya bisa membayangkan bagaimana frustasi nya mereka, tidak bisa mewujudkan impian yang sudah di depan mata. Saya mengatakan akan membantu mereka secara gratis karena tugasnya cukup mudah, memindahkan file berbentuk PDF ke dalam Indesign. Lagipula sepertinya saya sudah cukup lama tidak berbuat baik untuk sesama. </p>
<p>Kemudian email balasan dari mereka pun tiba. Mereka sangat gembira dan seakan-akan hawa kelegaan terpancar keluar dari isi email mereka. Selain itu mereka memuji-muji saya, mengatakan saya baik sekali *<em>ehem&#8230;ehem&#8230;</em>* dan menyebutkan sepertinya ada yang spesial dengan saya saat membaca profil saya di Nipponscape *<em>uhuk&#8230;uhuk&#8230;</em>*</p>
<p>Pada awalnya saya berpikir hal itu adalah sekedar puja-puji karena euforia kelegaan saat memperoleh bantuan dari Soyuz, dan gratis. Tapi setelah beberapa kali bertemu, saya menyadari bahwa dugaan saya salah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The sounds and lights fade and fall away in symmetry</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2009/09/the-sounds-and-lights-fade-and-fall-away-in-symmetry/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2009/09/the-sounds-and-lights-fade-and-fall-away-in-symmetry/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 02:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[experience]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[tokyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Maret, akhir musim dingin 2009. Hawa terasa sangat dingin pagi ini. Terutama saat subuh seperti ini. Sedikit tiupan angin pagi sudah membuat saya menggigil. Ah&#8230;mungkin karena saya tidak tidur semalaman, pikir saya. 
Salah satu sifat buruk yang sampai saat ini belum bisa dihilangkan. Setiap ada sesuatu atau rencana aktivitas yang berbeda dari biasanya, saya selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span title="M" class="cap">M</span>aret, akhir musim dingin 2009. Hawa terasa sangat dingin pagi ini. Terutama saat subuh seperti ini. Sedikit tiupan angin pagi sudah membuat saya menggigil. Ah&#8230;mungkin karena saya tidak tidur semalaman, pikir saya. </p>
<p>Salah satu sifat buruk yang sampai saat ini belum bisa dihilangkan. Setiap ada sesuatu atau rencana aktivitas yang berbeda dari biasanya, saya selalu tidak bisa tidur dari sehari sebelumnya. </p>
<p><em>Excited</em>. Adrenalin selalu bergejolak. Tubuh sudah lelah berteriak minta istirahat, tapi otak dengan egoisnya terus bekerja, memompa peredaran darah menjadi lebih cepat ke jantung dan memaksa sang mata untuk terjaga.</p>
<p><span id="more-211"></span>Jam di iPhone saya sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Saya bergegas bangun dan mandi. Ya, saya dengar kalau saat tidak tidur semalaman lebih baik tidak usah mandi. Tapi terasa aneh kalau keluar rumah tanpa mandi. </p>
<p>Selesai mandi dan bersiap-siap, saya langsung menyeret koper dan berangkat ke stasiun kereta api. Bis yang akan membawa saya ke Narita akan berada di depan stasiun. Saya harus buru-buru supaya bisa ikut dalam perjalanan paling pagi, 6.30. Jadi saya bisa tiba di <em>airport</em> jam 8 atau paling lambat setengah 9. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/limobus.jpg" alt="Airport Limousine in Chofu"/><br />
Suara roda koper yang bergesekan dengan aspal terasa sangat-sangat berisik di pagi yang hening itu. Apa daya, terlalu berat kalo harus saya jinjing sampai stasiun. Bisa-bisa saya bakal tertidur di tengah jalan karena kelelahan.  </p>
<p>Sambil terus berjalan, saya mulai merasa ada sesuatu yang kurang tapi entah apa itu. Saya kembali melihat jam di iPhone, masih jam 5 lewat. Masih ada waktu, pikir saya. Akhirnya kaki ini pun berbelok ke McDonald. Saya harus ngopi dan sarapan sebelum roboh di jalan sambil menggendong koper. Kan nggak <em>cool</em> jadi nya. </p>
<p>Setelah menikmati burger, <em>french fries</em>, dan kopi hangat, saya bergegas melanjutkan perjalanan ke stasiun. Sebenarnya secangkir <em>roast coffee</em> tidak akan mempan mengatasi rasa kantuk, tapi sudahlah. Yang penting perut sudah terisi. </p>
<p>Begitu tiba di depan stasiun, ternyata bis nya belum datang. Hanya terlihat seorang petugas bis dan seorang polisi yang berjaga di pos polisi depan stasiun. Saya pun meletakkan koper dan menghela napas lega. Tersirat rasa bangga bahwa kali ini saya tidak menjadi <em>last minute man</em> seperti biasanya. </p>
<p>Saat saya sedang meregangkan otot-otot tubuh alias <em>ngulet</em> dengan jurus favorit, cacing <em>breakdance</em>, tiba-tiba terlintas begitu saja di dalam otak&#8230;tas plastik besar yang ada di dekat lemari ternyata ketinggalan!</p>
<p>$#@%^$#&#038;**!!!</p>
<p>Berarti saya harus kembali ke tempat tinggal saya sambil menyeret koper lagi? Nggak banget deh! </p>
<p>Lantas saya memutar otak, mencari akal bagaimana supaya tidak usah membawa koper tersayang kesana-kemari. Sungguh saya akan benar-benar pingsan begitu sampai di stasiun lagi.</p>
<p>Apa saya titip di pos polisi saja? Hmm&#8230;tapi kok kayaknya nggak sopan. Kesannya pos polisi itu tempat penitipan. Akhirnya saya mendekati petugas bis tersebut, dan bertanya apa saya boleh menitipkan koper ke beliau karena saya harus kembali mengambil barang yang tertinggal. Pakai bahasa Jepang? Tentu saja dong! <em>*bangga*</em>. </p>
<p>Yaa&#8230;nggak juga sih. Saya cuma sebut kata-kata penting nya saja sambil nunjuk-nunjuk koper. &#8220;Ada barang tertinggal&#8221;, &#8220;Tas ini nggak papa?&#8221; </p>
<p>Dua kalimat itu saja serta gerakan tangan bisa membuat bapak itu mengerti. Beliau bilang tidak apa-apa dan menyuruh untuk buru-buru karena bis sebentar lagi akan datang. Saya memang mahir bahasa tarzan.</p>
<p>Akhirnya saya pun mengucapkan terima kasih sambil membungkuk beberapa kali dan segera berlari menuju tempat tinggal saya. Perjalanannya jadi terasa lebih jauh kali ini. Huh! </p>
<p>Langit semakin terang saat saya sampai di stasiun lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 6.25 dan bis sudah bersiap-siap berangkat. Saya pun buru-buru menghampiri bapak tadi, mengucapkan terima kasih sekali lagi dan segera membeli karcis. Setelah koper dimasukkan ke dalam bagasi, saya bergegas masuk ke dalam bis.</p>
<p>Beuh! Tetap jadi <em>last minute man</em> juga akhirnya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2009/09/the-sounds-and-lights-fade-and-fall-away-in-symmetry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Return &#8211; It&#8217;s a perfect day to throw back our head</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2009/09/return-its-a-perfect-day-to-throw-back-our-head/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2009/09/return-its-a-perfect-day-to-throw-back-our-head/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 10:24:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[This Site]]></category>
		<category><![CDATA[Design]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[typography]]></category>
		<category><![CDATA[update]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Sejak beberapa bulan terakhir ini, saya sudah tidak pernah menulis lagi disini. Selain karena sibuk, juga malas :p. Pekerjaan di kantor dan luar kantor udah semakin menjadi-jadi dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu banyak sekali hal-hal yang terjadi, terutama akhir-akhir ini, yang membutuhkan dan menyita perhatian saya. Up and down kalo bahasa sono nya. 
Apalagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span title="S" class="cap">S</span>ejak beberapa bulan terakhir ini, saya sudah tidak pernah menulis lagi disini. Selain karena sibuk, juga malas :p. Pekerjaan di kantor dan luar kantor udah semakin menjadi-jadi dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu banyak sekali hal-hal yang terjadi, terutama akhir-akhir ini, yang membutuhkan dan menyita perhatian saya. <em>Up and down</em> kalo bahasa sono nya. </p>
<p>Apalagi ditambah dengan tidak ter <em>update</em> nya blog favorit saya membuat saya enggan juga menulis. Nggak ada inspirasi.  <a href="http://ceritamaya.blogspot.com" title="Outside link to Cerita Maya">Maya</a> dan <a href="http://sakuralady.wordpress.com" title="Outside link to Sakuralady's blog">Sakuralady</a> juga sepertinya sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Atau mengalami kejenuhan yang sama dengan saya? Atau lagi saingan lama-lamaan <em>hiatus</em> dengan saya :p ?</p>
<p>Beruntung beberapa blog lain seperti blog nya <a href="http://blog.imanbrotoseno.com/" title="Outside link to Iman Brotoseno's blog">mas Iman</a> dan juga <a href="http://ndobos.com/" title="Outside link to Sir Mbilung's blog">Sir Mbilung</a> masi rutin di<em>update</em>, jadi saya masi ada bacaan hehe. Begitu juga beberapa blog lain yang rutin saya ikuti.</p>
<p><span id="more-195"></span>Pergeseran <em>trend</em> dan perilaku di dunia internet mungkin juga berpengaruh terhadap saya dan temen-temen blog. Perubahan <em>trend</em> dari yang awalnya rame-rame menggunakan blog sebagai sarana untuk mengekspresikan diri, berbagi cerita, tiba-tiba bergeser menjadi aktivitas <em>microblogging</em> yang masif dan intensif menggunakan <a href="http://twitter.com/" title="Outside link to Twitter page">Twitter</a> atau <a href="http://facebook.com/" title="Outside link to Facebook">Facebook</a> , atau <a href="http://plurk.com/" title="Outside link to Plurk">Plurk</a>. </p>
<p><em>Trend</em> ini sangat luar biasa wabahnya sampai membuat beberapa penyedia layanan online pun ikut menyesuaikan diri dan menyediakan fitur &#8217;status&#8217;, misalnya <a href=""http://yahoo.com/" title="Outside link to Yahoo!">Yahoo</a>, <a href="http://flickr.com/" title="Outside link to Flickr">Flickr</a>, dan bebeberapa web lain yang saya temui. </p>
<p>Tapi memang bisa dimaklumi sih. <em>Microblogging</em> itu enak. Cukup mengetik maksimal 140 kata, sudah mampu membuat semua orang dalam jaringan pertemanan heboh dan bereaksi segera. Sedangkan blog belum tentu bisa menghasilkan kecepatan reaksi yang sama. Panjang pula nulis nya :p. </p>
<p>Selain itu dengan <em>update</em> status bisa dengan mudah dilakukan dimana saja terutama sejak perangkat <em>mobile</em> seperti Blackberry, iPhone, dan lain-lain juga mendukung penggunaan Facebook.</p>
<p>Mungkin faktor itu yang membuat saya ikut terhanyut, terlena, terpana (dan semua &#8216;ter&#8217; yang dangdut banget), dan akhirnya lebih banyak nongkrong di <a href="http://facebook.com/soyuzno" title="Outside link to Soyuzno's facebook page">facebook saya</a> dan membuat blog ini jadi berdebu :p.</p>
<h3>Why I&#8217;m back</h3>
<p>Sampai suatu saat saya pun bosan <em>*seperti biasa*</em> dan memutuskan untuk kembali ke blog, karena saya pikir sebenarnya blog itu lebih menyenangkan. Lebih dari 140 karakter dan bisa saya baca kembali setelah beberapa bulan bahkan tahun kemudian. </p>
<p>Selain itu, blog bisa menjadi sarana bertukar kabar dengan teman atau keluarga yang berada jauh dari saya. Seperti kemarin saat saya menerima SMS dari Sakuralady, yang sempat berkata kalo udah lama gak updet lagi dengan kabar-kabari terbaru mengenai saya. Saya pun jadi semakin yakin kalo keputusan saya tepat, saya harus kembali menulis.</p>
<p>Akhirnya saya mikir gimana supaya saya bisa rajin menulis panjang-panjang lagi. Salah satu cara yang selalu efektif buat saya yaitu mengganti tampilan. Biasanya kalo tampilannya baru, saya suka sekali nulis. Kalo perlu nulis tiap hari :p. Lagipula desain yang digunakan selama ini dibuat lebih dari dua taun yang lalu. Perlu penyegaran. Jadinya selama beberapa hari belakangan ini saya begadang mulu supaya bisa ngebut menyelesaikan desain blog ini. </p>
<p>Jadilah desain terbaru dari blog saya ini :d.</p>
<h3>How I did it</h3>
<p>Proses mendesain sehingga menjadi seperti ini sebenarnya agak penuh perjuangan. Awalnya saya ingin bisa seperti blog-blog lain  yang penuh warna, didesain abis-abisan biar keren. </p>
<p>Tapi setelah beberapa desain saya kerjakan, saya pikir kok esensinya sudah menyimpang. Blog itu kan kekuatannya di isi. Fungsi nya untuk dibaca. Jadi kenyamanan membaca adalah hal terpenting, bukan tampilan yang &#8216;wah&#8217; dan memanjakan mata. Lagipula saya sudah terlalu banyak mendesain, kering deh otak saya :p.</p>
<p>Jadi akhirnya saya putuskan untuk lebih bermain di tipografi daripada bermain di warna dan teman-temannya itu, dengan elemen visual dan warna seminim mungkin. Desain yang hanya berdasarkan kekuatan tata letak dan penggunaan huruf itu ternyata lebih susah tantangannya hehe. </p>
<p>Awalnya saya malah tidak mau menggunakan garis-garis. Jadi murni hanya teks. Tapi akhirnya saya pun kompromi. Boleh menggunakan garis, sebatas untuk penyeimbang saja. </p>
<p>Dari segi fitur tidak ada yang berubah. Tidak ada penambahan yang aneh-aneh. Ukuran huruf juga diperbesar, mengingat semakin umumnya penggunaan monitor yang berukuran lebih besar dengan resolusi layar yang lebih tinggi. Selain itu bisa membuat mata lebih lega dalam mengikuti kata per kata.</p>
<h3>So let&#8217;s enjoy this</h3>
<p>Perlu diingat bahwa ini adalah sebuah <em>work in progress</em>, masih ada beberapa hal yang masih harus diperbaiki seperti ukuran foto di beberapa artikel lama yang belum disesuaikan ke lebar kolom blog yang baru ini. Khusus pengguna Internet Explorer 6, maaf sekali kalo saya sudah tidak akan mensupport browser jadul nan kurang cerdas itu. Segera beralihlah ke browser yang lebih pintar :d. </p>
<p>Sepertinya bulan ini adalah bulan yang tepat untuk mulai kembali menulis. Bulan ini <a href="http://sakuralady.wordpress.com/" title="Outside link to Sakuralady's blog">Sakuralady</a> sudah menulis lagi beberapa artikel. Selain itu <a href="http://ka-nia.com/" title="Outside link to Kania's blog">Kania</a> juga mulai menulis lagi, walopun masi bersifat pemanasan. Mari kembali ke blog! :d.</p>
<p>Mudah-mudahan dengan tampilan baru ini, bisa membuat saya lebih rajin nulis seperti mereka. Akhir kata, selamat menikmati kembali cerita-cerita &#8216;nggak-terlalu-penting-tapi-menarik-lho&#8217; dari saya :p.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2009/09/return-its-a-perfect-day-to-throw-back-our-head/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Walking on a dream &#8211; Always running for the thrill of it</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2009/06/walking-on-a-dream-always-running-for-the-thrill-of-it/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2009/06/walking-on-a-dream-always-running-for-the-thrill-of-it/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 18:42:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Surabaya, sebuah kota yang berada di tepi pantai utara sebelah timur pulau Jawa, dan dulunya merupakan gerbang dari kerajaan Majapahit. Yang dulu nya hanya sebuah desa di tepian suangai Brantas kini menjelma menjadi sebuah kota metropolitan yang masih terus dan tiada hentinya bersolek. 
Sebuah kota yang mempunyai karakteristik unik dan terkadang saling berlawanan. Warganya dikenal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span title="S" class="cap">S</span>urabaya, sebuah kota yang berada di tepi pantai utara sebelah timur pulau Jawa, dan dulunya merupakan gerbang dari kerajaan Majapahit. Yang dulu nya hanya sebuah desa di tepian suangai Brantas kini menjelma menjadi sebuah kota metropolitan yang masih terus dan tiada hentinya bersolek. </p>
<p>Sebuah kota yang mempunyai karakteristik unik dan terkadang saling berlawanan. Warganya dikenal egaliter, blak-blakan, dan keras; tergambar dari dialek bahasa nya yang bagi daerah lain (yang menggunakan bahasa Jawa), terdengar kasar dan tidak memiliki sopan santun. Tapi di sisi lain, konon warga Surabaya dikenal memiliki tingkat toleransi yang lebih tinggi terhadap perbedaan suku dan agama. </p>
<p><span id="more-188"></span>Warga Surabaya juga dikenal <em>bondo nekat</em>, mungkin terbentuk dari filosofi kota ini yang begitu meresap di setiap denyut nadi warga nya, dimana nama Surabaya berasal dari kata &#8220;<em>Sura ing Bhaya</em>&#8221; yang berarti keberanian menghadapi bahaya. Entahlah apa ini yang terlintas di benak orang saat mengetahui kalo saya adalah &#8220;<em>arek suroboyo</em>&#8220;. Walaupun secara historis saya bukan <em>arek suroboyo</em> karena tidak lahir disana, tapi kalo disebut <em>arek sulawesi</em> kok rasa nya janggal ya :d</p>
<p><img src="http://soyuzno.com/journal/wp-content/uploads/2009/06/surabaya.jpg" alt="Kota Surabaya" title="surabaya" /></p>
<p>Menyusuri jalanan di kota ini sungguh menimbulkan kembali romantisme masa silam. Hampir setiap sudut kota memiliki cerita-cerita yang tak terlupakan. Gambaran peristiwa-peristiwa masa lalu bermunculan di depan mata seolah sedang menonton sebuah film dokumenter. </p>
<p>Terbayang kembali bagaimana sebagian besar waktu saya dihabiskan di jalan, ngebut dan mengendarai sepeda motor seenak udel saya <em>*untung nya bukan udel orang*</em> hingga berkali-kali dengkul ini mencium aspal dengan mesra nya karena menyerempet atau diserempet mobil akibat cara mengendara sepeda motor yang menggunakan udel saya itu. </p>
<p>Terlintas pula peristiwa saat saya dan seorang teman harus buru-buru membelokkan sepeda motor ke sebuah bioskop terdekat saat menyadari kenapa jalanan sepi dan lengang seakan berada di kota mati. Hanya terlihat pasukan marinir yang dengan gagahnya berpatroli dimana-mana sambil menenteng senjata semi otomatis. Hari itu rupanya ada pertandingan sepak bola dimana para bonek akan berkeliaran. </p>
<p>Saya yakin kami berdua tidak kalah nekatnya dengan bonek-bonek tersebut seandainya harus terjadi adu fisik. Tapi daripada wajah tampan ini jadi gak karuan dikeroyok ratusan orang, mending nonton pilem aja. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/journal/wp-content/uploads/2009/06/surabaya2.jpg" alt="Kota Surabaya" title="surabaya2" /></p>
<p>Kembali ke Surabaya juga merupakan kesempatan untuk menurunkan laju kecepatan aktivitas saya setelah beradaptasi dengan ritme kehidupan yang serba cepat di megapolitan bernama Tokyo, dimana saya sudah melebur dengan detak aktivitas kota Tokyo dan tanpa disadari telah menjadi <em>cyborg</em>, <em>all work and no rest</em>.</p>
<p>Selain itu cukup melegakan bisa menemui perempuan-perempuan yang tidak hanya cantik tapi padat berisi, setelah sekian lama menjumpai perempuan-perempuan imut tapi rata :p</p>
<p>Perjalanan kembali ke kota tercinta ini sungguh menyenangkan. Kota ini telah berubah banyak. Tidak terasa sudah 3 tahun non-stop saya angkat kaki dari negeri tercinta. Memang orang-orang sering berkata &#8220;<i>keren!</i>&#8221; atau &#8220;<i>enak ya bisa kerja di jepang</i>&#8220;. Tapi pendapat-pendapat itu tidak seratus persen akurat, setidaknya buat saya. Tinggal di luar negeri berarti saya harus berjuang ekstra dibandingkan saat di negeri sendiri, dan juga harus selalu siap didiskriminasi karena status pendatang serta ke-<a href="http://soyuzno.com/" title="Go to Soyuzno.com">bisu-tuli-buta</a>-an saya. </p>
<p>Layaknya orang-orang yang merantau ke negeri orang, selalu ada rasa rindu terhadap kampung halaman, orang tua, adik-adik, teman-teman seperjuangan dulu, dan juga makanan-makanan yang super lezat. Dan kesempatan liburan kali ini tentu tidak saya lewatkan walaupun sangat singkat. Saya sangat menikmati setiap hari yang saya lalui bersama keluarga. </p>
<p>Tetapi seperti halnya mimpi, liburan yang saya nikmati tanpa terasa harus berakhir. Sebuah janji pun terucap saat kaki ini menginjak kabin pesawat yang membawa saya kembali ke Tokyo, &#8220;Saya akan kembali&#8230;&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2009/06/walking-on-a-dream-always-running-for-the-thrill-of-it/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Here we go again &#8211; Let the flames begin</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2009/03/here-we-go-again-let-the-flames-begin/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2009/03/here-we-go-again-let-the-flames-begin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 06:10:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.soyuzno.com/journal/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya maaf sekali karna blog ini jadi tidak ter-update sesering yang diinginkan. Setelah pindah ke kantor baru, ternyata saya justru semakin tenggelam kedalam kesibukan yang jauh lebih mengharu-biru dibanding sebelum-sebelumnya. 
Sebenarnya banyak sekali cerita-cerita yang ingin dituliskan disini. Semua draft nya telah menari-nari di otak. Semua detail tergambar dan tertuang dalam sebuah storyboard, dan butuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span title="S" class="cap">S</span>ebelumnya maaf sekali karna blog ini jadi tidak ter-<em>update</em> sesering yang diinginkan. Setelah pindah ke kantor baru, ternyata saya justru semakin tenggelam kedalam kesibukan yang jauh lebih mengharu-biru dibanding sebelum-sebelumnya. </p>
<p>Sebenarnya banyak sekali cerita-cerita yang ingin dituliskan disini. Semua <em>draft</em> nya telah menari-nari di otak. Semua detail tergambar dan tertuang dalam sebuah <em>storyboard</em>, dan butuh kalori yang cukup banyak buat saya untuk menjaga ingatan saya agar nggak lupa. Biasanya sebuah kejadian akan saya lupakan setelah 5 detik berlalu. Jadi bisa dibayangkan sebanyak apa kalori yang telah saya bakar selama taun 2009 ini :p</p>
<p>Eniwe, gimana kabar soyuz? Untuk sekilat informasinya, saya bekerja di perusahaan yang berada di sebuah gedung tua, terletak sekitar 15 menit berjalan kaki dari stasiun Harajuku, atau dari stasiun Gaienmae, ataupun dari stasiun Meiji Jingu-Mae. Jadi&#8230;jauh dari mana-mana :d. Perusahaan ini terdiri dari 4 orang pria (termasuk saya) dan 1 wanita (istri bos) yang bekerja dari rumah karna baru saja melahirkan putra pertamanya. Jadi kantor ini adalah &#8216;kantor-khusus-pria-ndak-butuh-wanita&#8217; itu :d</p>
<p>Di luar kegaringan itu, ada beberapa hal menarik yang menjadi catatan saya selama bekerja di kantor ini.</p>
<p><span id="more-183"></span></p>
<h3>Trust your instinct</h3>
<p><img src="http://soyuzno.com/journal/wp-content/uploads/2009/03/office.jpg" alt="office" class="alignleft" />Sejak awal saya menerima tawaran pekerjaan di tempat ini, entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal di hati saya. Sepertinya indera keenam saya mengatakan saya harus berhati-hati dan mungkin sebaiknya tawaran itu ditolak saja.</p>
<p>Tapi saya cuek saja karna tempat kerja saya ini lumayan beken di industri desain web yang fokus dalam <em>user-experience</em>. Selain itu saya butuh duit untuk <del>shopping dan beli iMac 23&#8243;</del> menyelesaikan tanggungan-tanggungan saya.</p>
<p>Dan ternyata insting memang selalu tepat. Sejak hari pertama masuk bekerja, saya cukup terkejut mengetahui bahwa kantor nya hanya sepetak ruangan dengan satu toilet kurang terawat di sebuah gedung tua dekat Harajuku. Sukurlah bagian dalamnya cukup menyenangkan.</p>
<p>Keterkejutan kedua, di kantor ini ternyata nggak disediakan minum. Masing-masing harus membawa minum sendiri. Kalo mau minum dari air di wastafel atau kloset sih dipersilakan.</p>
<p>Hal lain yang membuat saya heran adalah kantor tidak akan mengganti pengeluaran transport walopun saya harus lembur sampai tengah malam. </p>
<p>Selain itu ternyata tidak diperbolehkan menelpon atau ber-SMS-ria selama di kantor. Pantesan si Clooney kok melotot saat seorang teman menelpon saya, padahal udah jam 9 malem. Gak seru.</p>
<h3>Be careful what you wish for</h3>
<p>Selama ini saya selalu penasaran bagaimana rasanya menengadah atau mendongak saat mengobrol dengan orang lain. Biasanya orang lain yang selalu menengadahkan wajah mereka saat berbincang dengan saya. Jadi perlu keseimbangan dalam hidup ini *<em>tsahh!</em>*</p>
<p>Rasa penasaran itu akhirnya terjawab juga. Seorang rekan kerja saya, memiliki tinggi 2 meter dan satu lagi agak sedikit lebih tinggi dari saya.</p>
<h3>Lovely relationship</h3>
<p>Saya perhatikan ada hubungan yang cukup kuat di antara meningkatnya jam kerja di kantor dengan ketebalan dompet saya. Kok bisa?</p>
<p>Kantor baru ini memiliki jam kerja -yang secara teori- serupa dengan kantor sebelumnya, yaitu dimulai jam 10 sampai jam 7 malam. Pada prakteknya tentu tidak seindah itu, terutama jika kita bekerja di kantor desain atau IT. Jam kerja seperti itu hanya ada di dunia khayal dan merupakan utopia bagi orang-orang seperti saya. </p>
<p>Di minggu pertama, saya datang ke kantor jam 10 *<em>khas anak baru, tepat waktu :p</em>* dan pulang jam 9 malam. </p>
<p>Minggu kedua, pola nya mulai bergeser. Saya tiba di kantor jam 11 dan pulang jam 12 malam. </p>
<p>Minggu ketiga, pergeseran itu semakin kentara. Saya tiba di kantor jam 11 lewat dan pulang jam 3 pagi. </p>
<p>Dimulai dari minggu kedua itu, saya mulai sering ketinggalan kereta terakhir dari Shinjuku yang menuju ke tempat tinggal saya di Chofu. Kereta terakhir berangkat jam 00.18 sedangkan saya sampai di Shinjuku rata-rata jam 00.20 sambil terengah-engah dengan keringat bercucuran di musim dingin ini. Akhirnya saya menggunakan kereta lain yang pemberhentian terakhirnya berjarak 10 stasiun sebelum Chofu. <em>Lha</em> trus gimana caranya sampai ke Chofu? Ada dua alternatif. Naik taksi atau jalan kaki. </p>
<p>Karena naik taksi tidak pernah masuk ke benak saya, saya selalu memilih berjalan kaki. Dengan gagah berani saya mulai berjalan menyusuri sisi rel kereta api sambil nyengir getir karna saya udah pernah beberapa kali mengalami nya dan saya tau, saya akan tiba di tempat tinggal saya dua setengah jam kemudian, dengan seluruh persendian kaki yang seakan mau lepas dari tempat nya :d.</p>
<p>Akhirnya saya mencari-cari info kendaraan umum lain yang bisa dijadikan alternatif sebelum betis saya menjadi segede kentongan di poskamling. Sukurlah ada <a href="http://superdragon.wordpress.com" title="Outside link to Juanda's blog">bapak lurah Chofu</a> yang memberi informasi mengenai bis malam Keio yang mangkal di Shinjuku dengan jadwal keberangkatan jam 01.10 pagi, dan tiba di Chofu jam 2 atau setengah 3 pagi.</p>
<p>Sejak saat itu saya mulai &#8216;menjadi langganan&#8217; bis Keio itu, dan sejak saat itu pula dompet saya menipis lebih cepat karna satu kali perjalanan membutuhkan biaya 1600 yen dan kantor tidak mengganti uangnya. Duh&#8230;semakin bangkrutlah awak *<em>sigh!</em>*. </p>
<h3>Be careful what you wish for, again</h3>
<p>Semenjak saya tiba di Jepang, saya selalu berkeinginan memiliki teman atau berada dalam jejaring sosial para desainer grafis di Jepang karna saya bisa banyak belajar dari mereka. Selain itu apa artinya saya kalo nggak memiliki relasi dalam dunia desain kreatif. Tidak bagus untuk bisnis hehe.</p>
<p>Akhirnya kesampaian juga setelah saya bekerja di kantor ini. 3 desainer sekaligus dari negara yang berbeda . Bos saya adalah desainer Swiss dan mantan <em>creative director</em> di salah satu konsultan brand terkemuka di dunia. Seorang rekan kerja adalah desainer grafis Jepang lulusan sekolah Art di New York. Seorang lagi merupakan desainer handal berkebangsaan Amerika. Jadi kami berempat berasal dari empat negara yang berbeda hehe. </p>
<h3>Be careful what you wish for. Again??!</h3>
<p>Kalo rajin mengikuti cerita di jurnal ini, pasti ingat bagaimana saya memprotes kebiasaan makan siang di perusahaan Jepang yang pernah saya alami. Serba individualis. </p>
<p>Nah di kantor yang sekarang ini, saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Kami berempat selalu keluar makan siang bersama dengan mesra nya :p</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Kira-kira demikian sedikit updet dari saya *<em>uhm..sedikit??</em>* .  Taun ini memang taun yang menarik, bukan? :d</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2009/03/here-we-go-again-let-the-flames-begin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
